Esensi Akal


Untuk mengetahui esensi akal manusia perlu dianalisa apa yang dimaksud akal dalam prespektif Rasul dan ma’sumin as sebagai pelengkap dalam memahami makna dari teks-teks yang telah disebutkan di atas. Hadis-hadis yang berkenaan dengan akal diantaranya;

Rasul saww bersabda: “Sesungguhnya semua kebajikan diketahui melalui akal”.

Imam Ali as berkata: “Akal adalah merupakan modal alami manusia, melalui belajar dan pengalaman akal dapat bertambah”.

“Akal adalah agama dalam (hujjah bathin) bagi manusia sebagaimana syari’at (hujjah zahir) sebagai agama luar bagi manusia”.

“Akal terbagi kepada dua bagian, akal alami (tabi’i) dan akal yang dihasilkan melalui pengalaman (tajrubi) yang mana hasil keduanya adalah menguntungkan manusia”.

“Akal petunjuk kebenaran”.

Dan siapakah orang yang berakal? Imam Ali as dan Imam Ja’far as memberikan ciri-ciri bagi mereka yang berakal. Imam Ali as berkata:

“Orang berakal bukan hanya sekedar dapat membedakan kebaikan dari keburukan, tapi orang berakal adalah orang yang dapat membedakan kebaikan diantara dua keburukan”.

“Orang yang berakal adalah orang yang meletakan sesuatu pada tempatnya”.

Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Orang yang berakal adalah orang yang mengetahui (situasi dan kondisi) zamannya, posisi (diri)-nya dan menjaga lisannya”.

Melihat hadis-hadis di atas, secara umum, yang dimaksud dengan akal adalah parameter bagi manusia untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Dalam hal ini tergantung pada perempuan dan laki-laki itu sendiri sebagai pemilik akal. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa salah satu bukti kurangnya akal perempuan adalah kesaksian dua perempuan sama dengan kesaksian seorang laki-laki. Benarkah demikian? Bagaimanakah menurut al-Qur’an?

Dalam al-Qur’an disebutkan, salah satu hikmah dari kesaksian dua orang perempuan yang sama dengan seorang laki-laki adalah, jika salah satu dari perempuan itu lupa maka yang lain dapat mengingatkannya. Sebagaimana yang telah disinyalir dalam surat al-Baqarah ayat:282. Itu berarti al-Qur’an melontarkan persoalan lupa yang secara umum lebih cepat dialami oleh perempuan daripada laki-laki. Tidak dapat dipungkiri lupa merupakan salah satu bentuk kekurangan, tapi bukan berarti sebuah kekurangan yang menyebabkan manusia tidak dapat mencapai kesempurnaan sejati (hakiki) seperti yang dikehendaki Tuhan.

Dari sisi lain, akal manusia jika dilihat dari fungsi dan kegunaannya terbagi atas dua: “akal teoritis” (aql nadzari) yang berfungsi sebagai sumber proses berpikir. Dan “akal praktis” (aql amali) yang dengannya manusia dapat menerima setiap konsep sehingga dapat diaplikasikan dalam prilaku. Akal teoritis berhubungan dengan permasalahan pemikiran, pandangan, berargumentasi dan sebagainya. Adapun akal praktis bersangkutan dengan perihal penerimaan, kecenderungan, kerja keras, dan lain-lain. Sebagaimana terdapat di dalam kitab Ushul-Kafi, pembahasan dalam kitab tersebut adalah masalah “akal dan bala tentaranya dan kebodohan (jahl) beserta bala tentaranya”, dan yang dimaksud dengan akal di sini adalah akal praktis.

Pada dasarnya antara kedua jenis akal tersebut terdapat jarak yang jauh, oleh karenanya sering kita lihat manusia berilmu tapi tidak beramal atau beramal tanpa dilandasi ilmu. Menurut pendapat pertama, maksud dari ungkapan “wanita memiliki lemah akal” adalah, lemah dari sisi akal teoritis. Ini berarti, daya berargumen dan berpikir laki-laki lebih kuat dari perempuan. Untuk menguatkan persepsinya mereka berdalih dengan menggunakan ayat al-Qur’an, adz-Dzuhruf ayat 18, ketika memberikan jawaban kepada Arab jahiliyah tentang keyakinan malaikat sebagai anak perempuan Tuhan:

“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang ia tidak dapat memberi alasan yang kuat dalam berargumen”.

Pada zaman jahiliyah, jika masyarakat tidak membunuh anak perempuan niscaya mereka akan mendidiknya dengan berbagai corak dandanan dan perhiasan. Cara mendidik semacam ini menyebabkan kemampuan berpikir, yang didapat melalui akal teoritis anak-anak perempuan tersebut tidak dapat berkembang. Allah swt dalam ayat di atas telah mencela metode pendidikan seperti itu. Berargumen dengan ayat di atas untuk merendahkan martabat wanita sangatlah tidak tepat, karena hukum semacam itu tidak dapat digeneralisasikan. Hanya perempuan yang dididik dengan metode yang salah tadi saja yang dicela oleh Allah.

Beberapa kalangan berpendapat akal empiris (aql tajrubi) perempuan tidak sekuat kaum lelaki, karena tugas utama wanita adalah melahirkan dan mendidik anak, sehingga kesempatan untuk mendapatkan pengalaman antara laki-laki dan perempuan berbeda. Jadi perbedaan bukan terletak pada sisi alamiah akan tetapi lebih dikarenakan pembagian kerja antara mereka.

Sebagian lagi berpendapat, yang dimaksud dengan akal dalam riwayat di atas bukanlah tertuju pada kemampuan akal itu sendiri, akan tetapi lebih ditekankan pada cara berpikir pemilik akal. Dengan kata lain, letak perbedaan bukan pada esensi akal tetapi pada pengaktifan potensi akal. Perempuan jarang menganalisa suatu peristiwa dengan akalnya, ini semua dikarenakan jiwa emosional lebih mendominasi dirinya. Sementara untuk berpikir yang benar dibutuhkan suasana tenang dan penguasaan terhadap kestabilan emosional. Di sisi lain karena emosional laki-laki lebih rendah dibanding perempuan maka ia lebih cepat dapat menguasai dirinya. Oleh karena itu, jika ada seorang perempuan mampu mengendalikan emosionalnya maka ia pun dapat berpikir dan menganalisa dengan baik. Jelas sekali, jiwa emosi tidak selamanya buruk. Karena ketika Tuhan menganugrahkan jiwa emosional secara ekstra kepada wanita pastilah didasari alasan tertentu, salah satunya peran ibu yang memerlukan emosi yang lebih. Jelas, jiwa emosional harus ditempatkan pada tempatnya.

Berdasarkan jawaban-jawaban dia atas, secara ringkas dapat kita mengambil beberapa kesimpulan.

Pertama, andaikan hadis tersebut tidak bermasalah dari segi sanad (silsilah para perawi), maka maksud dari hadis di atas bukan tertuju pada substansi perempuan yang dinyatakan lemah iman, karena kalau menunjukkan substansinya maka tidak akan ada satupun perempuan yang mencapai kesempurnaan. Sementara realitanya betapa banyak perempuan yang mencapai kesempurnaan bahkan ia lebih tinggi derajatnya dari para lelaki sebagaimana yang dapat kita lihat dari beberapa ayat dan hadis yang telah disebut di atas.

Kedua, hadis di atas tidak berkenaan dengan semua perempuan, tapi situasi dan kondisilah yang menyebabkan Imam Ali as ketika dalam perang Jamal mengatakan hal itu (lihat kembali kitab Nahjul-Balaghah khutbah ke-80). Dengan istilah lain, ungkapan Imam Ali as berkaitan dengan proposisi eksternal (qadziyqh-kharijiyah) yang maksudnya tidak mencakup semua perempuan secara universal.

Tetapi mungkin muncul pertanyaan lain, kalaulah hadis tersebut tidak mencakup semua perempuan dan merupakan proposisi eksternal lantas kenapa dalam riwayat tersebut kata”nisa” (berarti: perempuan) memakai alif-lam sehingga dibaca ‘an-nisa’. Sementara dalam kaidah bahasa Arab penggunaan alif-lam istighraq digunakan untuk menunjukkan umum dan mencakup semua yang sejenisnya, apakah ini tidak terjadi kontradiksi?

Secara ringkas dapat dijawab bahwa, memang maksud riwayat tersebut tidak mencakup semua perempuan dan maksud dari perkataan Imam Ali as ialah perempuan pada peristiwa perang Jamal, akan tetapi beliau ingin mengisyaratkan bahwa jika ada perempuan yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh perempuan di perang Jamal itu maka hadis tersebut pun akan mencakup perempuan itu.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: