SEKELUMIT TENTANG IMAM ALI AS.


Ali AsKetika Abdullah Ibnu Abbas ditanya orang, bagaimana perbandingan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh “putera paman anda” (Imam Ali as), jawabnya sederhana saja:

“Perbandingannya seperti setetes air hujan dengan air samudera!”

Imam Ali as  berkata dari atas mimbar:

“Tanyakanlah kepadaku selama aku ada. Apa saja yang kalian tanyakan, aku sanggup menjawab. Tanyakanlah tentang Kitab Allah. Demi Allah, tak ada satu ayat pun yang aku tidak mengetahui, apakah ayat itu turun di waktu siang ataukah di waktu malam, di datarankah atau di pegunungan.”

Sebagai seorang Zahid yang berpegang teguh pada perintah Allah s.w.t. dan tauladan serta ajaran ajaran Rasul-Nya, Imam Ali  as. dengan konsekuen berani menghadapi gangguan besar yang dialami dalam kariernya sebagai pemimpin masyarakat dari kepala pemerintahan. Berkali-kali ia ditinggalkan oleh para pendukung dan pengikutnya, tetapi tidak pernah patah hati.

I.Seperti dikatakan oleh Ali bin Muhammad bin Abi Saif Al Madainiy bahwa tidak sedikit orang Arab yang meninggalkan Imam Ali as karena sikap mereka yang terlalu mengharapkan keuntungan-keuntungan material. Demikian juga tokoh-tokoh yang berpamrih ingin mendapat kedudukan, jangan harap mereka itu bisa bersahabat baik dan lama dengan Imam Ali. Seorang pemimpin besar seperti Imam Ali yang taqwanya kepada Allah sedemikian tinggi, dan sedemikian patuhnya bertauladan serta melaksanakan ajaran Rasul Allah s.a.w., tidak mencari teman dengan mengobral harta dan kedudukan. Ia sendiri memandang manusia bukan dari kekayaan dan kedudukan sosialnya, bukan pula dari asal-usul keturunannya, melainkan dari keimanannya kepada Allah s.w.t. dan kesetiaannya kepada ajaran Rasul-Nya.

Imam Ali  as tidak pernah memberikan perlakuan istimewa kepada seorang karena keturunan, kedudukan atau kekayaannya. Ia selalu memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang, kaya atau miskin, orang yang berpangkat ataupun rakyat jelata. Itulah antara lain yang menjadi sebab mengapa setelah ia menjadi Khalifah, dijauhi oleh kepala-kepala qabilah dan tokoh-tokoh masyarakat yang berambisi dan hendak mendahulukan kepentingan pribadi atau golongan.

Tentang mengapa Imam Ali  as sampai ditinggal oleh para pengikut dan pendukungnya, Al-Madainiy dalam riwayat yang ditulisnya, antara lain mengemukakan, bahwa Al-Asytar pernah berkata kepada Imam Ali as :

“…Anda bertindak adil, baik terhadap mereka yang mempunyai kedudukan terhormat maupun mereka yang tidak mempunyai kedudukan. Di hadapan anda orang-orang yang terhormat itu tidak memperoleh perlakuan istimewa atau lebih dari perlakuan yang anda berikan kepada orang biasa. Akhirnya ada kelompok pengikut yang ribut dan heboh kalau keadilan dan kebenaran diterapkan atas diri mereka. Mereka sakit hati kalau pemerataan keadilan diterapkan atas diri mereka. Mereka lalu membanding-bandingkan betapa enaknya perlakuan Muawiyah terhadap orang-orang kaya dan terkemuka… Mereka lebih senang membeli kebatilan dengan kebenaran dan tergiur oleh kesenangan duniawi.”

Setelah mendengar baik-baik ucapan Al Asytar, dengan tenang imam Ali as. berkata: “Apa yang kau katakan mengenai perilaku dan keadilanku ? bukankah Allah Azza wa Jalla telah berfirman (yang artinya):

“Barang siapa berbuat baik, maka pahala bagi dirinya sendiri, dan barang siapa yang berbuat buruk, maka dosanya pun akan menimpa dirinya sendiri. Dan Tuhanmu tidak berlaku dzalim terhadap para hamba-Nya”

(S. Fushshilat: 46).

Kemudian Imam Ali as. berkata pula: “Sebenarnya Allah mengetahui, bahwa mereka itu menjauhi kami bukan karena kami berlaku dzalim. Mereka menjauhi kami bukan karena hendak mencari perlindungan keadilan. Yang mereka kejar hanyalah dunia, yang akhirnya akan lenyap juga dari mereka. Pada hari kiyamat mereka itu akan ditanya: ‘apakah mereka hanya menginginkan dunia? Apakah yang telah mereka perbuat untuk Allah?’…”

II. Di Riwayatkan oleh Asy Syi’biy , ia sangat terkesan oleh suatu peristiwa yang disaksikannya sendiri di masa kanak-kanak. Katanya: “Bersama anak-anak lain aku pernah masuk ke sebuah tempat yang sangat luas di Kufah. Di sana aku melihat Imam Ali sedang berdiri di depan dua onggok emas dan perak. Ia memegang sebilah pedang untuk membubarkan orang banyak yang berkerumun di tempat itu. Setelah itu ia kembali menghampiri onggokan emas dan perak untuk menghitungnya. Kemudian memanggil orang-orang supaya mendekat dan kulihat semua emas dan perak habis dibagi-bagikan sampai tak ada lagi sisanya.”

“Waktu aku pulang,” kata Asy Syi’biy seterusnya, “bertanya kepada ayah: ‘Yang kusaksikan hari ini orang yang paling baik ataukah orang yang paling bodoh?’ Sambil keheran-heranan ayah balik bertanya: ‘Siapa dia, anakku?’ Kujawab: ‘Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.’ Kemudian kuceritakan kepada ayah apa yang kusaksikan tadi. Mendengar ceritaku itu ayah terharu dan sambil melinangkan air mata menjawab: ‘Yang kaulihat tadi itu orang yang paling baik, anakku’…”

III.Al Haitsamiy dalam bukunya Majma, jilid IX, halaman 158 menyajikan sebuah riwayat yang berasal dari Rab’iy bin Hurasy sebagai berikut: Pada suatu hari Muawiyah dikerumuni oleh pemuka-pemuka Qureiys, termasuk Sa’id bin Al Ash, yang waktu itu duduk di sebelah kanannya. Tak lama kemudian datanglah ibnu Abbas. Ketika melihat Ibnu Abbas masuk, Muawiyah berkata kepada Sa’id: “demi Allah, aku akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Ibnu Abbas yang kira-kira ia tidak akan mampu menjawabnya.”

Menanggapi keinginan Muawiyah itu, Sa’id mengingatkan: “Hai Muawiyah, orang seperti Ibnu Abbas tak mungkin tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.”

Setelah Ibnu Abbas duduk, Muawiyah bertanya: “Apakah kiranya yang dapat kaukatakan tentang Ali bin Abi Thalib?”

Dengan serta merta Ibnu Abbas menjawab:

“Abul Hasan rahimahullah adalah panji hidayat; sumber taqwa; tempat kecerdasan berfikir; puncak ketinggian akal; cahaya keutamaan manusiawi di tengah kegelapan; orang yang mengajak manusia ke jalan lurus; mengetahui isi Kitab-kitab suci terdahulu; sanggup menafsirkan dan mentakwilkan dengan berpegang teguh pada hidayat; menjauhkan diri dari perbuatan dzalim yang menyakiti hati orang; menghindari jalan yang sesat; seorang mukmin dan bertakwa yang terbaik; orang yang paling sempurna menunaikan ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya; orang yang paling mempunyai tenggang-rasa serta memperlakukan semua orang secara adil dan sama, orang yang paling pandai berkhutbah di dunia ini…” dan seterusnya sampai kepada kata-kata:

“seorang suami dari wanita yang paling mulia, dan seorang ayah dari dua cucu Rasul Allah s.a.w.”

Seterusnya Ibnu Abbas mengatakan:

“Mataku belum pernah melihat ada orang seperti dia dan tidak akan pernah melihatnya sampai hari kiyamat. Barang siapa mengutuk dia, orang itu akan dikutuk selama-lamanya oleh Allah dan oleh seluruh ummat manusia sampai hari kiyamat.”

Mendengar keterangan itu, tentu saja Muawiyah menjadi beringas, tetapi ia dapat menguasai diri di depan seorang ilmuwan seperti Ibnu Abbas.

Categories: Uncategorized | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: