Imam ‘Ali al-Murtada As


Adik-adik, dalam kehidupan dunia ini, kita memerlukan teladan dari insan yang berakhlak agung dan mulia, sehingga dengan keteladanan dari mereka, kita dapat meniru akhlak luhur mereka. Para pemimpin agama dan para Imâm Ahlul Bait As adalah contoh dan teladan bagi kita semua. Oleh karena itu, kami telah membuat penelitian perihal kehidupan mereka, dengan maksud untuk memperkenalkan kepada adik-adik akan kehidupan mereka. Dan semaksimal mungkin kami telah menyusun buku-buku ihwal kehidupan mereka dengan bahasa sederhana sehingga dapat dipahami dengan mudah.

Kumpulan kisah manusia-manusia suci ini disusun seringkas mungkin dengan tidak melupakan keabsahan kisah-kisah teladan Imam Ahlul Bait itu.

Para ahli sejarah Islâm telah mengkajinya secara serius dan mereka mendukung adanya penyusunan buku ini.

Kami berharap, adik-adik sekalian sudi mengkajinya secara serius pula. Hasil dari pelajaran ini, kami meminta kepada adik-adik untuk dapat menyampaikan kesan dan pandangannya.

Kami sangat berterima kasih atas perhatian adik-adik. Dan semoga adik-adik mau bersabar menantikan edisi-edisi selanjutnya.

Wiladah

Pada hari Jum’at, tanggal 13 Rajab, tepatnya 23 tahun sebelum hijrah, lahirlah dari keluarga Abu Thalib seorang bayi mulia yang menyinari kota Makkah dan seantero dunia. Ketika paman Nabi Saw yang bernama ‘Abbas bin Abu Tâlib sedang duduk santai bersama seorang lelaki yang bernama Qu’nab, datanglah Fâtimah binti Asad (Ibunda Imam Ali As) untuk melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah dan memanjatkan do’a ke hadirat Allah Swt. Pandangan matanya tertuju ke langit sambil bermunajat kepada Allah Swt dengan penuh khusyu’. Ia berkata dalam do’anya itu, “Wahai Tuhanku, ketahuilah sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan kepada semua yang datang dari sisi-Mu, yaitu para Rasul dan kitab-kitab yang dibawa oleh mereka. Sesungguhnya aku membenarkan perkataan kakekku Ibrahim al-Khalil As, dialah yang membangun kembali Ka’bah yang mulia. Maka dengan haq orang yang telah membangun Ka’bah ini dan dengan haq janin yang ada dalam perutku ini, aku memohon pada-Mu; mudahkanlah kelahirannya”.

Tidak lama setelah itu terjadilah peristiwa yang sangat menakjubkan, Allah Swt telah mengabulkan do’anya,saat itu tembok Ka’bah terbelah sehingga Fatimah binti Asad bisa masuk ke dalamnya, setelah itu tertutup kembali. Peristiwa yang sangat aneh dan menakjubkan itu, membuat semua orang yang menyaksikannya merasa heran. Abbas bin Abu Thalib yang juga turut menyaksikan kejadian tersebut langsung pulang ke rumahnya untuk mengabarkan kejadian tersebut kepada famili dan kerabatnya dan kembali lagi ke Ka’bah dengan beberapa orang wanita untuk menolong kelahirannya. Namun mereka hanya mampu mengelilingi Ka’bah itu tanpa bisa masuk ke dalamnya. Seluruh penduduk kota Makkah tetap dalam kebingungan sambil menanti keluarnya Fatimah putri Asad tersebut.

Setelah empat hari berselang, barulah beliau keluar dari dalam Ka’bah sambil menggendong putranya mulia yang baru saja lahir. Orang-orang bertanya kepadanya tentang nama bayi mulia itu, Fâtimah menjawab: “Namanya adalah ‘Ali'”.

Imam ‘Ali As dididik dan dibesarkan di dalam rumah Nabi Saw semenjak beliau masih dalam susuan Beliau pernah berkata dalam salah satu khutbahnya yang tercantum di dalam kitab Nahjul Balaghah: “Ketika aku masih kecil, beliau Saw meletakkanku di tempat tidurnya, mendekapku dengan penuh kasih-sayang, menidurkanku di tempat tidurnya dan mengunyah makanan untuk disuapkan ke mulutku”.

Masa Kecil

Imam ‘Ali As, sejak masa kecilnya tidak pernah berpisah dengan pendidikan manusia agung Rasulullah Saw. Beliau senantiasa menyertai Rasulullah Saw sebagaimana bayangan setia selalu mengikuti pemilik bayangan itu. Imam ‘Ali As berkata tatkala mengenang masa kanak-kanaknya, “Aku senantiasa mengikuti Rasulullah Saw sebagaimana seorang anak yang masih menysusu selalu mengikuti ibunya. Setiap hari Rasulullah Saw selalu meningkatkan akhlaknya dan memintaku untuk mengikutinya. Setiap tahun aku selalu menyaksikan beliau pergi ke goa Hira’, sementara tidak seorang pun mengetahui kepergian beliau. Ketika itu dalam dunia Islam, tidak pernah terjadi di dalam satu rumah berkumpul selain Rasulullah Saw, Khadijah dan yang ketiga adalah aku sendiri. Aku menyaksikan cahaya wahyu dan risalah Ilahi dan aku dapat mencium semerbak kenabian dari rumah kudus itu”.

Ketika Allah Swt mengangkat Muhammad Saw sebagai seorang Rasul bagi seluruh umat manusia dan memerintahkan agar beliau berdakwah dan memberikan peringatan kepada keluarga dan familinya, Rasulullah Saw memerintahkan ‘Ali As agar membuat makanan untuk 40 orang laki-laki dan mengundang keluarga beliau. Di antara mereka adalah paman-paman beliau seperti Abu Tâlib, Hamzah, ‘Abbâs dan Abu Lahab.

Imam Ali As menceritakan peristiwa tersebut, beliau berkata, “Kemudian – ketika itu – beliau berpidato di hadapan mereka, beliau Saw berkata: “Wahai putra-putra Abdul Mutallib, demi Allah, sesungguhnya aku tidak pernah melihat di antara bangsa Arab ada seorang pemuda yang mendatangi kaumnya dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah aku bawa untuk kalian. Sesungguhnya aku membawa untuk kalian kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah, bahwa Allah Swt telah memerintahkan kepadaku agar mengajak kalian semua untuk meraih kebaikan tersebut. Siapakah di antara kalian yang siap membela dan menolongku dalam urusan ini dan untuk menjadi saudaraku, wasyi dan khalifahku atas kalian semua”? Ketika itu semua yang hadir diam dan tidak seorang pun yang menjawab dan memenuhi panggilan beliau Saw. Aku segera berkata, padahal usiaku saat itu paling muda di antara mereka, “Aku ya Rasullah, akulah yang akan menjadi pembela dan penolongmu”. Saat itu juga Rasulullah Saw berkata, “Inilah ‘Ali sebagai saudaraku, wasyi dan khalifahku atas kalian semua, maka dengarkanlah dan taatilah dia”.

Masa Muda

Masa kanak-kanak beliau As telah berlalu dengan cepatnya. Kini ‘Ali As telah menjadi seorang pemuda yang kuat dan gagah berani. Sementara ia masih terus mengikuti Rasulullah Saw kemana saja beliau pergi dan di mana saja beliau berada, bagaikan laron-laron yang selalu berterbangan di sekitar lilin.

‘Ali As adalah pemuda yang tampan, kuat dan gagah berani. Kekuatan dan keberaniannya ia gunakan untuk berkhidmat dan berbakti kepada agama Allah dan Rasul-Nya.

Ketika kita membaca dan menengok sejarah Islam, kita saksikan bahwa ‘Ali As senantiasa hadir dan ikut serta dalam setiap peperangan dan pertempuran. ‘Ali As berperang dan menyerang musuh-musuhnya dengan penuh ksatria dan prawira pada barisan terdepan.

Pada peristiwa perang “Hunain”, di saat sebagian kaum Muslimin kabur meninggalkan Rasulullah Saw pada permulaan pertempuran, Imam Ali As tetap tegar dan gigih melakukan perlawanan dan penyerangan, sementara bendera Islam tetap berkibar di atas kepalanya sampai akhirnya tentara Islam dapat meraih kemenangan atas pasukan musyrikin.

Pada perang “Khaibar”, Imam ‘Ali As memimpin pasukan Muslimin untuk melakukan serangan yang dahsyat terhadap kaum Yahudi. Padahal sebelumnya pasukan kaum Muslimin mengalami dua kali kegagalan. Penyerangan pertama dipimpin oleh Abu Bakar dan penyerangan kedua dipimpin oleh Umar bin Khattab, kedua-duanya dapat dipukul mundur oleh pasukan Yahudi. Penyerangan ketiga yang dipimpin oleh Imam ‘Ali As berhasil mendobrak benteng “Khaibar”. Bahkan salah satu pintu benteng itu ia cabut dan angkat dengan tangannya sendiri.

Ketika kaum Yahudi menyaksikan kegagahan dan keberanian Imam ‘Ali As tersebut, mereka segera kabur tunggang-langgang karena ketakutan dan pada akhirnya mereka menyerah.

Tebusan Pertama

Setiap manusia yang berakal sehat selalu berusaha membela dirinya, karena ia mencintai kehidupan dan tidak menghendaki kematian. Dalam kehidupan ini kita saksikan sedikit sekali orang-orang yang mau mengorbankan dirinya demi orang lain.

Ketika kita membaca sejarah Rasulullah Saw dan kisah hijrah beliau, kita akan merasa kagum dan penuh heran. Kita saksikan bahwa betapa Imam ‘Ali As dengan penuh keberanian tidur di pembaringan Nabi Saw sebagai tebusan jiwa Nabi Saw dari serangan musuh-musuh Islam yang ingin membunuhnya, padahal ketika itu ‘Ali As masih sangat muda. Rencana pembunuhan atas diri Rasulullah Saw itu diawali dengan kumpulnya sekelompok kaum musyrikin di “Dar an-Nadwah”. Di sanalah mereka membuat kesepakatan dan keputusan untuk menghabisi jiwa kudus Rasulullah Saw. Cara dan taktik yang mereka pilih adalah dengan mengambil satu orang pemuda dari setiap kabilah atau suku. Mereka ditugaskan menyerbu rumah Rasulullah Saw pada tengah malam dan membunuh beliau Saw secara serentak beramai-ramai.

Wahyu Ilahi turun dari langit dan mengabarkan Rasulullah Saw akan tipu daya dan makar jahat orang-orang kafir Quraisy tersebut. Mengetahui rencana jahat itu Imam ‘Ali As segera pergi menuju rumah Rasulullah Saw untuk bermalam di tempat tidur beliau. Dengan izin Allah Swt Rasulullah Saw berhasil keluar pada malam hari itu juga tanpa mereka ketahui sedikit pun. Mereka menduga bahwa Rasulullah Saw masih tetap berada di tempat tidurnya. Ketika mereka berhasil masuk untuk membunuh beliau Saw, ternyata yang mereka dapati adalah ‘Ali As. Mereka terkejut sekali menyaksikan ‘Ali As berada di tempat tidur Nabi Saw. Dan mereka pun segera pergi meninggalkan rumah Nabi Saw tersebut dalam keadaan malu dan penuh kecewa. Akhirnya Rasulullah Saw selamat berkat pengorbanan Ali As.

Di Jalan Allah

Islam adalah agama keselamatan dan kehidupan. Karenanya Islam menolak pembunuhan dan pertumpahan darah tanpa hak. Semua peperangan dan pertempuran yang terjadi pada masa Rasulullah Saw adalah demi membela diri dan agama. Rasulullah Saw senantiasa berusaha menghindari peperangan sebisa mungkin. Akan tetapi ketika Islam terancam bahaya, maka kaum Muslimin pun melakukan pertahanan dan perlawanan dengan penuh kesatria demi mengangkat “Kalimat Allah”. Ketika kita mengkaji peperangan-peperangan yang terjadi pada masa awal-awal Islam, sejarah mencatat dan menyaksikan, bahwa pedang ‘Ali As mempunyai andil yang sangat besar atas kejayaan Islam dan umatnya. Pedang ‘Ali As yang diberi nama “Dzul Fiqar” senantiasa berkilauan bagaikan kilat menyambar dalam setiap peperangan tersebut. “Ali As senantiasa bersama hak dan hak selalu bersama Ali As” demikianlah sabda Rasulullah Saw tentang Imam ‘Ali As.

Akhlak Ali As

Kufah adalah merupakan ibu kota pemerintahan Islam pada masa khilafah Imam ‘Ali As. Pada masa itu kota Kufah dijadikan sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.

Pada suatu hari terjadi pertemuan diluar kota Kufah antara kedua orang laki-laki. Salah satunya adalah Amirul Mu’minin As dan yang lainnya adalah seorang laki-laki yang beragama Nasrani. Laki-laki Nasrani ini sama sekali tidak mengenal Imam ‘Ali As. Terjadilah percakapan antara kedua orang itu sambil berjalan hingga keduanya tiba di satu persimpangan, jalan yang satu menuju kota Kufah dan jalan satunya lagi mengarah ke satu perkampungan. Imam Ali As harus melanjutkan perjalanannya menuju kota Kufah, sementara laki-laki Nasrani itu ingin melanjutkan perjalanannya menuju ke kampungnya. Namun ketika laki-laki Nasrani itu mengambil jalan yang mengarah ke kampung halamannya, Imam Ali As pun mengikuti langkahnya, padahal seharusnya beliau As mengambil jalan yang menuju ke arah kota kufah. Laki-laki Nasrani itu terkejut dan berkata kepada beliau As, “Bukankah Anda ingin kembali ke kota Kufah?” Imam ‘Ali As menjawab: “Ya betul, akan tetapi aku ingin mengantarmu beberapa langkah demi memenuhi persahabatan dalam perjalanan, karena sesungguhnya teman seperjalanan itu mempunyai hak dan aku ingin memenuhi hakmu tersebut”. Laki-laki Nasrani itu merasa tertarik dan ia berkata dalam hatinya, “Betapa agung dan mulianya agama orang ini yang mengajarkan manusia akhlak yang mulia dan terpuji”.

Laki-laki Nashrani tersebut merasa terdorong untuk mengungkapkan keislamannya dan bergabung bersama kaum Muslimin. Lebih besar lagi kekaguman dan keterkejutannya ketika ia tahu bahwa sebenarnya teman perjalanannya itu tiada lain adalah Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Tâlib As pemimpin negara Islam yang luas.

 

Categories: Uncategorized | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: