TAFSIR IBNU ABBAS RA TENTANG BEBERAPA KEUTAMAAN IMAM ALI BIN ABI THALIB AS


BismiLLahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad wa ‘ajjil farajahum

 by Riza Wibawa 

PROLOG

 

Sidang pembaca yang budiman, mungkin Anda sekalian sudah sering menyimak berbagai tulisan mengenai keutamaan dari Imam Ali bin Abi Thalib as. Para mufasir terkemuka seperti: al-Thabari, Imam al-Tsa’labi, al-Suyuthi, al-Fakhr al-Razi, al Zamakhsyari, dan para ulama  dan mufasir Ahlu Sunnah lain seperti: Ibnu Katsir, Muslim, al-Hakim, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Dawud, al-Kanji, al-Qunduzi, dan lain-lain menyebutkan dalam kitab, musnad, dan shahih mereka ayat-ayat al-Qur’an yg turun berkaitan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as.

 

Para ulama terkemuka seperti: al-Hiskani, al-Thabrani, al-Khatib, al-Baghdadi dan Ibnu Katsir dalam kitab tarikhnya, telah meriwayatkan hadis tentang biografi Imam Ali as. Demikian pula Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Shawa’iq  halaman 76 dan Nur al-Abshar halaman 73, dan Muhammad bin Yusuf al-Kanji dalam kitabnya Kifayah al-Thalib pada awal bab ke-62, meriwayatkan hadis melalui sanad-sanad mereka dari Ibnu Abbas ra, tentang keutamaan-keutamaan Imam Ali as dengan seratus keutamaannya yg tidak dimiliki sahabat lain. Ibnu Abbas ra mengatakan, “Telah turun 300 ayat dalam al-Qur’an tentang Ali bin Abi Thalib as.” Allamah al-Kanji dalam kitabnya, bab ke-31, meriwayatkan hadis melalui sanadnya dari Ibnu Abbas ra:  Rasulullah SAWW bersabda, “Allah tidak menurunkan satu ayat pun yg diawali dengan kalimat Ya ayyuhal ladzina amanu… kecuali Ali as sebagai pemuka dan pemimpinnya.”

 

Tentang beliau, Nabi suci Muhammad SAWW bersabda, “Aku dari Ali dan Ali dariku. Mencintainya berarti telah mencintaiku dan mencintaiku berarti telah mencintai Allah.” Atau sabda Baginda Nabi SAWW yg sangat terkenal lainnya tentang Imam Ali as: “Aku adalah KOTA ILMU dan Ali adalah PINTUNYA, sesiapa yg ingin memasuki kotanya maka ia harus melalui pintunya.”

 

 

CATATAN UTAMA

 

Kutipan berikut ini adalah sebagai pengingat dan perekat kecintaan kita kepada beliau, dimana beliau selalu kita masukan dalam do’a shalawat setelah nama Rasulullah saww disebut di dalam bacaan tahiyat shalat kita (Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aali Sayyidina Muhammad – “Ya Allah, limpahkanlah selalu shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan kepada keluarga Baginda Nabi Muhammad saw”). Selamat menyimak dan mengenang kembali kisah keutamaan-keutamaan Amiril Mu’minin Ali bin Abi Thalib as lewat sebuah dialog Ibnu Abbas (RA) dengan Mu’awiyah (LA) berikut ini:

 

Ketika Mu’awiyah bin Abu Sufyan (LA) menjadi khalifah umat Islam di Madinah, ia memerintahkan Ibnu Abbas (RA), anak paman `Ali bin Abi Thalib AS, untuk datang menghadapnya.

 

Saat Ibnu Abbas datang, dengan rasa jengkel Muawiyah berkata kepada Ibnu Abbas: “Aku dengar sampai saat ini pun kamu terus menerus membicarakan keutamaan `Ali bin Abi Thalib! Bukankah kamu tahu aku telah melarang siapapun untuk menyebut keutamaan `Ali? Apa kamu tidak takut padaku yang dapat menghukummu seperti apapun kumau?”

 

Ibnu Abbas berkata: “Seluruh penduduk Madinah menjadi saksi bahwa aku tidak mengerjakan apapun selain menafsirkan Al Qur’an? Dan apa yang kutafsirkan memang benar-benar tafsir yang sebenarnya dan aku tidak mengada-ada, karena aku dengar bahwa nabi berkata, “Orang yang menafsirkan Al Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka bersiap-siaplah ia masuk neraka.”

 

Mu’awiyah berkata: “Silahkan menjelaskan tafsir Al Qur’an. Tapi jangan sampai kamu menyebut-nyebut keutamaan `Ali bin Abi Thalib!”

 

  • Ibnu Abbas menjawab: “Tak ada cara lain. Misalnya saat aku membaca ayat “Dan mereka memberi makan atas cinta kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan”[1], orang-orang suka bertanya padaku siapakah yang dipuji-puji Allah swt dalam ayat itu? Aku terpaksa harus katakan bahwa mereka adalah `Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Kalau aku tidak katakan itu, berarti aku berbohong dan itu dilarang Nabi.”

 

Muawiyah kesal dan berkata: “Kalau begitu tafsirkan saja ayat-ayat selain itu… Memangnya ayat Qur’an hanya itu saja?”

 

  • Ibnu Abbas melanjutkan: “Saat aku membaca ayat yang berbunyi: “Wahai Nabi, sampaikanlah apa yang telah diturunkan Tuhan kepadamu, jika engkau tak sampaikan maka artinya engkau belum menunaikan risalahmu. Dan Allah menjagamu dari bahaya siapapun.”[2], mereka bertanya kepadaku tentang hal apakah yang diperintahkan Allah untuk disampaikan itu yang sebegitu pentingnya, yang jika tidak disampaikan maka artinya risalah kenabian sia-sia? Aku pun terpaksa menjawab bahwa saat itu Nabi sedang berada di Ghadir Khum, diperintahkan Tuhannya untuk menyampaikan bahwa `Ali bin Abi Thalib as adalah khalifah pengganti Nabi tanpa sela. Jika aku tidak berkata begitu artinya aku menyelewengkan tafsir Al Qur’an dan itu dilarang Nabi.”

 

Mu’awiyah lebih jengkel lagi dan berkata sama: “Tafsirkan saja ayat-ayat selain itu!”

 

  • Ibnu Abbas terus berkata: “Dengarlah ayat ini. Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian berbincang-bincang dengan Rasulullah saw maka sebelum itu hendaknya kalian bersedekah.”[3]. Mereka bertanya, apakah ada orang yang mengamalkan ayat itu? Aku pun terpaksa menjawab, ya, hanya `Ali bin Abi Thalib yang mengamalkan ayat itu. Padahal ia tidak punya lebih dari satu Dinar, namun satu dinar itupun ia sedekahkan agar bisa berbincang dengan Nabi. Dengan demikian aku menafsirkan ayat itu secara benar. Aku sama sekali tidak berani berbohong dalam menafsirkan Al Qur’an.”

 

Mu’awiyah tetap berkata sama: “Baca ayat-ayat selain itu.”

 

  • Ibnu Abbas terus menyebutkan ayat lainnya: “Allah swt juga pernah berfirman: “Di antara orang-orang itu ada yang menjual dirinya demi mencari keridhaan Tuhan. Allah maha pengasih pada para hambaNya.”[4] Orang-orang bertanya tentang ayat itu bahwa siapakah yang dimaksud ayat tersebut? Aku jawab dengan jujur bahwa `Ali bin Abi Thalib lah yang dimaksud. Saat itu `Ali menidurkan dirinya di tempat tidaur nabi supaya Nabi dapat pergi berhijrah dan orang-orang kafir Quraisy tertipu mengira yang tidur itu adalah nabi. Dengan demikian `Ali berani mengorbankan dirinya demi keridhaan Tuhannya. Aku pun tidak bisa berbohong dalam menafsirkan ayat tersebut.”

 

Mu’awiyah lagi-lagi berkata: “Baca ayat yang lain.”

 

  • Ibnu Abbas berkata, “Allah swt berfirman: “Katakanlah wahai Muhammad: Aku tidak meminta apapun dari kalian sebagai balasan selain kecintaan terhadap keluarga(ku).”[5] Mereka berkata siapakah keluarga itu? Aku pun menjawab mereka adalah `Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Begitulah aku menafsirkan ayat itu dengan benar.

 

Mu’awiyah berkata lagi: “Baca ayat yang lain.”

 

  • Ibnu Abbas membaca ayat yang lain: “Allah swt juga pernah berfirman: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan noda dari kalian waha Ahlul Bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.”[6] Aku ditanya siapa mereka? Aku jawab mereka adalah `Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Demikian kutafsirkan ayat itu dengan jujur dan benar.”

 

Mu’awiyah terus mengulangi perkataannya: “Baca ayat lainnya.”

 

  • Ibnu Abbas berkata: “Saat Rasulullah saw ditantang sebagian orang untuk adu sumpah dan saling melaknat untuk membuktikan kebenaran kenabian nabi Muhammad saw, Allah swt berfirman: “Maka katakan wahai Muhammad: Mari kita memanggil anak-anak kita, wanita kita, diri kita, lalu kita bermubahalah supaya Allah melaknat orang yang terbukti pembohong.”[7] Banyak orang bertanya padaku tentang siapakah anak, wanita dan jiwa Nabi itu? Aku pun dengan jujur menjelaskan bahwa Rasulullah saw membawa Hasan dan Husain sebagai anaknya, Fathimah AzZahra sebagai wanitanya, dan `Ali bin Abi Thalib sebagai jiwanya. Saat itu tidak ada lelaki (dewasa) selain `Ali bin Abi Thalib yang dibawa Nabi untuk bermubahalah.”

 

Mu’awiyah berkata terus: “Baca ayat lainnya.”

 

  • Ibnu Abbas berkata: “Jika aku membaca ayat yang berbunyi: “Sesungguhnya wali kalian adalah Allah, Rasul-Nya, dan orang beriman yang mendirikan shalat dan memberikan zakat dalam keadaan ruku’.”[8] Lalu aku ditanya siapakah orang yang beriman dan memberikan sedekah dalam keadaan ruku’ itu? Aku menjawab ia adalah `Ali bin Abi Thlaib yang menyedekahkan cincinnya saat sedang rukuk’ dalam shalatnya.”

 

Mu’awiyah tetap berkata sama: “Baca ayat-ayat selain itu.”

 

  • Ibnu Abbas melanjutkan: “Allah swt pernah berfirman: “Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.”[9] Lalu aku ditanya siapakah orang yang memberi petunjuk itu? Aku jelaskan bahwa ia adalah `Ali bin Abi Thalib. Karena semua perawi hadits pernah meriwayatkan bahwa Nabi sendiri yang pernah berkata demikian. Dengan demikian aku menafsirkan Al Qur’an dengan benar.”

 

Mu’awiyah lagi-lagi berkata: “Baca ayat yang lain.”

 

  • Ibnu Abbas berkata: “Allah swt juga pernah berfirman: “Katakanlah bahwa cukup Allah sebagai saksi antara aku dan kalian, begitu juga orang yang memiliki ilmu kitab (sebagai saksi).”[10] Lalu aku ditanya siapakah yang dimaksud orang yang memiliki ilmu kitab (pengetahuan yang dalam terhadap Al Qur’an) itu? Aku dengan jujur menjawab ia adalah `Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw sendiri pernah berkata bahwa beliau adalah kotanya ilmu dan `Ali adalah pintunya.”

 

Mu’awiyah berkata: “Baca saja ayat-ayat yang lannya.”

 

  • Ibnu Abbas berkata: “Ada juga ayat yang berbunyi: “Dan berpegang teguhlah kalian terhadap tali Allah bersama-sama dan jangan berpecah belah.”[11] Lalu aku ditanya siapakah tali Allah itu yang jika kita berpegang teguh padanya dan mengikutinya maka kita akan bersatu? Maka kukatakan tali Allah itu adalah Ahlul Bait nabi, yang dipimpin oleh `Ali bin Abi Thalib. Sungguh banyak sekali perawi yang meriwayatkan hadits yang berbunyi: “Wahai umat manusia, aku meninggalkan dua tali untuk kalian. Jika kalian berpegang kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya. Yang satu lebih besar dari satunya. Tali-tali itu adalah Al Qur’an yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang satu adalah Ahlul Baitku. Mereka tidak akan terpisah hingga keduanya masuk ke dalam surga.”

 

Lalu Ibnu Abbas dengan tegas berkata kepada Mu’awiyah, “Wahai Mu’awiyah! Jika engkau ingin aku berkata yang lain selain itu dalam menafsirkan Al Qur’an, artinya engkau menyuruhku untuk berbohong dalam menafisrkan kitab Allah, dan aku tidak akan pernah melakukannya.”

 

[1] Al Insan ayat 8.

 

[2] Al Maidah ayat 67.

 

[3] Al Mujadalah, ayat 12.

 

[4] Asy Syura, ayat 23.

 

[5] Al Baqarah, ayat 207.

 

[6] Al Ahzab, ayat 33.

 

[7] Ali Imran, ayat 61.

 

[8] Al Ma’idah, ayat 55.

 

[9] Ar Ra’d, ayat 7.

 

[10] Ar Ra’d, ayat 43.

 

[11] Ali Imran, ayat 103

 

 

 

EPILOG

 

Sebagai wujud cinta kami yg mendalam kepada Imam Ali bin Abi Thalib as, pada bagian akhir tulisan ini kami kutipkan tiga riwayat penting berkaitan dengan keutamaan-keutamaan lain dari Imam Ali bin Abi Thalib as:

 

  1. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAWW berkata kepada Abu Barzah Aslami, “Wahai Abu Barzah! Sesungguhnya Rabb Semesta Alam mengadakan sebuah perjanjian denganku tentang Ali bin Abi Thalib. Sesungguhnya dia adalah bendera pengibar petunjuk, tempat bersinarnya cahaya iman, pemimpin para wali, dan cahaya bari siapa saja yang menaatiku. Wahai Abu Barzah! Ali bin Abi Thalib adalah kepercayaanku nanti di hari kiamat, dialah sahabat pengibar benderaku di hari kuamat nanti, dan kepercayaanku atas kunci pembuka khazanah Rabku Azza wa Jalla.”[ Alamah al-Kanji al-Syafi’i di dalam kitabnya Kifayatu al-Thalib, Bab 56]
  2. Dari Sa’id bin Jabir dari Ibnu Abbas RA, bersabda Rasulullah SAWW, “Wahai Ali! Engkaulah temanku di taman al-haudl, teman pembawa benderaku, kekasih bagi kalbuku, wasiatku, pewaris ilmuku. Engkaulah pemilik seluruh warisan para nabi sebelumku, engkaulah kepercayaan Allah di bumi-Nya, hujjah Allah atas mahluk-Nya, engkaulah tiang keimanan dan pilar keberserah-dirian, penerang kegelapan, tempat cahaya petunjuk, pemilik pengetahuan bagi ahli dunia. Wahai Ali! barangsiapa mengikutimu maka selamatlah iasesiapapun yg menentangmu maka celakalah ia, engkaulah jalan terang, engkaulah Shirathal Mustaqim, pemimpin bagi orang-orang yg beriman, engkaulah pemimpin bagi orang yg aku pimpin, dan akulah pemimpin bagi seluruh orang-orang yg beriman. Tiada seorang pun yg mencintaimu selain mereka yg suci hatinya, dan tiada yg membencimu kecuali orang yg kotor hatinya, tidaklah Allah mengangkatku ke langit dan berbicara kepadaku kecuali dengan mengatakan, ‘Ya Muhammad, bacalah Ali bahwasanya dia mendapatkan kesejahteraan dari-Ku, ketahuilah bahwa dialah pemimpin dari para kekasih-Ku, cahaya bagi orang-orang yg ta’at kepada-Ku, dan betapa menyenangkan karamah ini bagimu.” [Syaikh Sulaiman al-Hanafi di dalam kitabnya, Yanabi’ al-mawaddah, Juz 1, Bab 44, Hal 156]
  3. Berkata Salman al-Farisi RA, “Aku mendengar kekasihku Rasulullah SAWW bersabda, ‘Aku beserta Ali menjadi cahaya di hadapan Allah  Azza wa Jalla’. Cahaya tersebut bertasbih pada Allah dan mensucikan-Nya 14.000 tahun sebelum Dia menciptakan Adam. Maka ketika diciptakan Adam, Allah menitipkan cahaya tersebut ke dalam tulang sulbi Adam. Sejak saat itu aku dan Ali masih menyatu hingga kami berpisah di dalam tulang sulbi Abdul Muthallb, maka kepadaku Allah memberikan nubuwwah dan kepada Ali Dia memberikan al-imamah.” [ Syaikh Sulaiman al-Hanafi, dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah, Juz 1, Bab 1, Hal 11; diriwayatkan pula oleh Ibnu Maghazil al-Syafi’i di dalam kitabnya al-Manaqib; dan diriwayatkan pula oleh al-Dailami di dalam kitabnya al-Firdaus 

Semoga melalui tulisan sederhana ini Rasulullah SAWW dan Imam Ali bin Abi Thalib AS mencurahkan perhatian istimewanya buat kami dan anda para pembaca yg budiman, serta kelak di yaumil akhir kita berhak mendapatkan syafa’at mereka. Aamiin Ya Mujibassailiin.

 

Allahumma inni ataqarrabu ilayKa bi wilayati ‘Ali yabna Abi Thalib ‘alayhissalam.

Ya Rabbi shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad, al-awshiyai’r radhinal mardhiyin, bi afdhali shalawatiKa wa barik ‘alayhim bi afdhali barakatiiKa. Wassalamu ‘alayhim wa ‘ala arwahihim wa ajsadihim wa rahmatullahi wabarakatuh.

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: