30 Butir Akhlak Mulia


Sesungguhnya Allah Swt menisbatkan khauf dan khasyyah kepada-Nya dengan takut dan khasyyahnya para ulama. Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya di antara para hamba-hamba- Nya hanya para ulamalah yang takut kepada Allah Swt “(Qs. al-Faathir:28)
Rasulullah Saw bersabda:
” Sesungguhnya aku adalah hamba yang paling takut kepada Allah Swt”[1]
Seorang perawi yang bernama Sa’labi meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Abi Ishaq dari Abi Huzaifah bahwa seorang sahabat nabi berkata kepada beliau: “Ya Rasulallah, betapa cepatnya engkau beruban”,
Rasul Saw menjawab:
“Sesungguhnya Hud dan saudari-saudarinya telah membuatku beruban”[2]
Di dalam hadis yang lain Rasulullah Sawbersabda:
“Telah membuatku beruban surat Hud, Waqiah, Mursalat, dan ‘Amma Yatasaalun”[3]
Walaupun engkau belum pernah berjumpa dan melihat para nabi, tetapi pasti engkau telah mendengar kisah-kisah tentang takutnya para nabi dan para muqarrabbin (orang-orang yang dekat dengan Allah Swt), ghaibubah-nya Amirul mu’minin ‘Ali bin Abi Talib As dan tadarruk-nya Sayyidus Sajidin di dalam munajat-munajatnya.
________________________________________
[1]Jam’us-sa’aadat, J. 1, Pasal Khauful-mahmud, hal 218.
[2] Tafsir Nur Tsaqalain, J. 2, hal. 334, dalam tafsir surah Huud.
[3] l Khisal, J.1, hal. 119, Bab keempat.

 Kedua: Harapan

Wahai saudaraku yang mulia, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah Swt. Jadilah orang yang mempunyai harapan dan optimis. Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia ini merupakan ladang akhirat sedangkan hati setiap anak adam merupakan tanahnya. Iman sebagai bibitnya, sementara taat sebagai air yang mengaliri bumi hati dan membersihkannya dari berbagai kotoran maksiat. Dan akhlak yang tercela merupakan duri-duri dan kayu, sedang hari kiamat adalah waktu untuk menuai tanaman tersebut. Ketahuilah barang siapa yang bercocok tanam di dunia ini dengan cara seperti itu kemudian dia memiliki rasa optimis, maka harapannya akan terpenuhi. Jika tidak, maka apa yang telah ia lakukan itu tiada lain kecuali ghurur, congkak dan kebodohannya.

 Ketiga: Ghirah dan Himyah (Cemburu dan Memelihara)

Saudaraku yang budiman, janganlah engkau teledor dan lalai dalam menjaga dan memelihara agamamu, kehormatanmu, anak-anakmu dan harta bendamu. Hendaklah engkau senantiasa menolak berbagai bid’ah dari para pembuat bid’ah dan berbagai keraguan para pengingkar agama yang nyata.
Serius dan bersungguh-sunguhlah dalam menyebarkan syari’at yang mulia. Janganlah engkau melalaikan amar maruf dan nahi munkar. Janganlah engkau angkat penutup haibahmu dari wanita-wanita keluargamu dan kerabatmu. Berusahalah semampu mungkin agar para wanita keluargamu tidak memandang lelaki. Cegahlah mereka dari segala sesuatu yang kemungkinan dapat merusak iman dan akhlak mereka, seperti mendengarkan musik dan lagu-lagu, keluar dari rumah dan berkumpul dengan orang-orang yang tidak dikenal serta mendengarkan kisah-kisah dan cerita-cerita yang membangkitkan syahwat. Berlakulah lemah lembut kepada mereka dan seriuslah dalam meneliti dan memperhatikan hal ihwal mereka.

 Keempat: Tercelanya Tergesa-gesa

Anakku yang baik, janganlah engkau tergesa-gesa dan terburu-buru dalam suatu urusan. Hendaklah engkau memikirkan segala perbuatan dan ucapan-ucapanmu terlebih dahulu. Ketahuilah bahwa segala urusan yang dilakukan oleh seseorang tanpa berfikir terlebih dahulu akan mengakibatkan kerugian dan menyebabkan pelakunya menyesal. Setiap ketergesa-gesaan dan gampangnya mengeluarkan pendapat dan pandangan, dapat menjadikannya hina di hadapan orang-orang dan tidak akan mendapat tempat nantinya di hati mereka.
Pujangga Sa’di berkata: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu dapat dikerjakan dengan baik dengan kesabaran, pertimbangan dan berfikir. Setiap orang yang tergesa gesa pasti akan jatuh. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri di padang pasir, bagaimana orang yang berjalan perlahan-lahan, lambat dan berhati-hati akan tiba terlebih dahulu. Sementara kuda yang berlari kencang jatuh tersungkur. Lihatlah bagaimana unta dapat menyelesaikan perjalanannya yang jauh dengan hati-hati dan perlahan-lahan”.

 Kelima: Ghadhab (Marah)

Saudaraku yang budiman, berusahalah sebisa mungkin untuk tidak marah dan murka. Hiasilah jiwa dan dirimu dengan hiasan kesabaran dan ketabahan. Ketahuilah sesungguhnya marah dan murka itu merupakan kunci segala keburukan dan bisa jadi bahwa puncak kemarahan itu akan mengakibatkan kepada kematian secara tiba-tiba.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya murka dan marah itu dapat merusak iman sebagaimana cuka dapat merusak madu”[1]
Cukuplah terhinanya murka dan marah sebagai pelajaran bagimu, yaitu engkau berfikir dan merenung tentang perbuatan seseorang di saat ia murka dan marah.
________________________________________
[1] Al Kafi, J. 2, hal. 229, Bab Al Ghadhab.

 Keenam: Al-Hilmu (Lembut)

Hilm merupakan sikap berhati-hati dan menahan murka sehingga tidak dengan mudah membangkitkan kekuatan marah. Dan sifat hilmini tidak akan mengakibatkan kegoncangan jiwa dan stres sepanjang masa.
Dan kazhmul ghaizh (menahan diri dari murka) adalah merupakan suatu perbuatan menyembunyikan dan mengekang rasa marah. Kedua sifat ini yaitu hilm dan kazhmul ghaizh adalah merupakan akhlak yang sangat baik dan terpuji.
Cukuplah hilm ini merupakan sifat terpuji karena ia banyak terdapat dan disinggung di dalam riwayat-riwayat yang dibarengi dengan al-‘ilm (ilmu pengetahuan).
Dikatakan bahwa hilm merupakan garamnya akhlak. Sebagaimana setiap makanan tidak bisa dirasakan nikmatnya kecuali dengan garam, maka begitu pula dengan hilm. Akhlak dan budi pekerti tidak dianggap indah kecuali dengan adanya sifat hilm. Maka sifat hilm bagi setiap akhlak seperti garam bagi setiap makanan.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As. berkata:
“Sesungguhnya hilm itu merupakan cahaya yang esensinya adalah akal”[1]
Dalam hadist yang lain dikatakan bahwa:
“Sesungguhnya hilm itu merupakan kesempurnaan akal”[2]
Dikatakan pula dalam riwayat yang lain:
“Hilm itu merupakan tatanan urusan seorang mukmin”[3]
Riwayat yang lainnya mengatakan:
” Hilm adalah kekasih dan teman dekat seorang mukmin dan merupakan wazirnya”[4]
Riwayat yang lain lagi mengatakan:
” Keindahan seorang laik-laki terletak pada sifat hilmnya”[5]
Riwayat lainnya lagi mengatakan:
” Barang siapa membuatmu murka dengan melontarkan ucapan buruk kepadamu maka balaslah dengan kebaikan sifat hilm”[6]
Riwayat yang lainnya lagi mengatakan:
” Apabila engkau tidak memiliki sifat hilm maka berusahalah untuk menjadi orang yang halim “[7]

________________________________________
[1]Ghurarul Hikam, hal. 286, hadist ke 6412.
[2]Ibid, hadist ke 6411.
[3]Ibid.
[4]Ibid.
[5] Ibid, hal. 285, hadist ke 6392.
[6] Ibid, hadist ke 6400.
[7]Usul Kafi, J. 2, hal. 92.

 Ketujuh: Afwu (Memaafkan)

Maaf adalah merupakan sifat Ilahy, Allah Swt menyebutkan sifat maaf tersebut ketika memberikan pujian dan sanjungan.
Rasulullah Saw. bersabda:
” Sesungguhnya maaf atau memberikan maaf itu lebih berhak untuk dilakukan ”
“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang memberikan maaf”
” Saling memafkanlah maka kedengkian di antara kalian akan sirna ”
” Hendaklah engkau pemberi maaf karena memaafkan itu tidak menambahkan seorang hamba melainkan kemuliaan “[1]
Diriwayatkan dari ‘Ali bin al-Husein as-Sajjad As., ia bersabda:
” Engkau ya Allah yang telah menamakan dirimu Pemaaf maka maafkanlah segala kesalahanku “[2]
Ketahuilah wahai saudarakau bahwa sesungguhnya dosa, apabila dosa itu besar maka sesungguhnya keutamaan maaf itu akan menjadi besar pula.
Di dalam sebuah syair di katakan:
Sesungguhnya berlaku buruk pada orang yang berbuat buruk adalah sebuah hal yang mudah. Apabila engkau betul-betul seorang lelaki maka berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk padamu.
________________________________________
[1] Usul Kafi, J. 2, hal. 88, hadist ke 5, bab ‘Afuu.
[2] Lihat Sahifah Sajjadiyah, do’a ke 16.

 Kedelapan: Ar-Rifqu(Lemah lembut)

Saudaraku yang mulia, jauhkanlah dirimu sebisa mungkin dari sikap keras dalam perkataan dan perbuatan, karena hal itu merupakan sifat yang buruk yang dijauhkan oleh setiap orang. Keras itu termasuk sifat yang tercela dan apabila engkau menyandangnya, maka orang-orang akan lari darimu dan akan merusak segala urusan hidupmu. Tidakkah engkau melihat bahwa Allah Swt memberikan petunjuk Nya kepada Rasul Nya Saw dengan firmannya:
“Apabila engkau berlaku dan bersifat keras hati maka mereka akan lari meninggalkanmu”[1]
Dan kebalikannya adalah sifat rifq yaitu lemah lembut dalam ucapan dan perbuatan dan hal itu sangat terpuji di dalam berbagai keadaan dan kondisi.
Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya lemah lembut itu tidak diletakkan di atas sesuatu melainkan ia lebih berat “[2]
Dalam hadist lain dikatakan:
“Lemah lembut itu separoh dari kehidupan”[3]
Dalam hadist yang lain lagi di katakan :
“Barang siapa yang diberikan bagian dari sifat lemah lembut maka dia akan diberikan bagian dari kehidupan dunia dan akherat”[4]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As. :
” Hendaklah engkau bersifat lemah lembut karena hal itu merupakan kunci kebenaran dan sifat mulia bagi orang-orang yang mempunyai akal yang sehat “.[5]

________________________________________
[1]Surah Ali Imran, ayat ke 159.
[2] Mishkatun-nuur lil- Tabarisy, hal. 180.
[3]Usul Kafi, J. 2, hadist ke 11, bab Ar Rifq.
[4]Usul Kafi, J.2, hal. 97.
[5]Lihat Ghurarul Hikam , hal. 24, hadist ke 4967, bab Fadzilatur-rifq.

kesembilan: Akhlak Buruk

Saudaraku yang mulia, hindarkanlah dirimu dari akhlak yang menyimpang, karena akhlak yang seperti ini akan menjauhkan seseorang dari Khalik dan makhluk Nya, dan dia akan senantiasa mendapatkan azab. Hal ini dikarenakan orang yang berakhlak buruk akan senantiasa tersiksa di tangan musuhnya dimana setiap kali dia pergi ke suatu tempat dia tidak akan pernah terlepas dari cengkeraman balasan.
Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwa akhlak dan budi pekerti yang baik merupakan lebih utama dari sifat-sifat para wali.
Ayat berikut ini merupakan saksi dari apa yang telah tertera di atas dimana Allah Swt berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Qs. al-Qalam:4).

Kesepuluh: Permusuhan dan Caci Maki

Saudaraku yang mulia, jauhilah kedengkian dan permusuhan karena hal itu hanya akan mengakibatkan penyesalan dan sakit hati di dunia dan juga di akherat. Bahkan efeknya adalah saling melaknat, berkelahi dan menikam. Tidaklah diragukan lagi tentang keburukan sifat-sifat tersebut terutama rasa dengki. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengharamkan surga bagi setiap pencaci maki dan orang yang mempunyai sedikit rasa malu, yaitu orang yang tidak perduli dengan apa yang ia ucapkan dan dengan apa yang dikatakan orang lain kepadanya. Sesungguhnya apabila engkau melihat dan meneliti hal tersebu,t maka engkau tidak akan mendapatinya melainkan pada seorang anak hasil zina atau teman setan”. [1].
Dalam hadist yang lain diriwayatkan dari Rasulullah Saw beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang berbuat keji dan suka mencaci maki”. [2].
Dan hadist lainnya
“Sesungguhnya surga itu haram untuk dimasuki oleh orang yang suka mencaci maki”.[3]
Diriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ali al Baqir As beliau bersabda:
“Ucapkanlah kepada manusia sebaik-baiknya ucapan sebagaimana engkau mencintai apa yang diucapkan kepada kalian. Karena sesungguhnya Allah murka kepada para pencaci maki dan orang-orang yang melaknat serta mengutuk atas orang-orang yang beriman yang berbuat keji dan mencaci maki serta yang meminta-minta “.[4]
Pada hadist yang lainnya beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang afif yaitu orang yang menjaga kehormatannya dan murka kepada orang yang duduk dan peminta-minta”. [5]
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya mencaci maki termasuk perbuatan keji yang ditimbulkan dari sekedar murka dan kemarahan dan juga ditimbulkan dari akibat bergaul dengan orang-orang yang buruk, fasiq dan orang-orang yang suka berleha-leha dan suka mengutuk, maka hal itu akan menjadi kebiasaan bagi teman-teman yang bergaul bersama mereka. Dan akibatnya ia akan menjadi pencerca dan pencaci maki tanpa adanya permusuhan dan permukaan. Barangkali engkau pernah menyaksikan orang-orang yang hatinya buruk dan orang-orang jalanan dimana mereka mengeluarkan kata-kata keji kepada sebagiannya yang lain khususnya kepada ibu-ibu mereka dan kepada keluarga mereka karena bergurau. Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang berbuat seperti itu jauh dari sifat-sifat kemanusiaan.

________________________________________
[1]Safinatul Bihar, J.2, hal. 268, hadist ke 2.
[2]Kanzul Ummal, hadist ke 8078.
[3] Kanzul Ummal, hadist ke 8085.
[4]Biharul Anwar, J. 78, hal. 181.
[5] Biharul Anwar, J. 79, hal. 111.

Sebelas: Ujub (Bangga diri)

Wahai saudaraku, jauhkanlah dirimu dari mengagungkan diri sendiri dan ujub terhadapnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan dosa yang bibitnya adalah kufur, tanahnya adalah nifak, airnya adalah kerusakan, cabang-cabangnya adalah kebodohan, dedaunannya adalah kesesatan dan buahnya adalah laknat dan kutukan, bahkan akan kekal di neraka jahanam. Apabila engkau ingin berbangga diri, maka pikirkanlah keadaan dan kondisimu, bagaimana asal mula terjadinya dirimu yang bermula dari setetes air mani yang menjijikkan, kemudian berakhir sebagai sebuah bangkai yang kotor. Dan di antara dua masa itu, engkau hanya sebagai pembawa berbagai najis yang bau dan berkeliling membawa kotoran yang bermacam-macam (di dalam perutmu). Renungkanlah keagungan yang Mahakuasa dan pikirkanlah betapa hina dan rendahnya dirimu, kefakiranmu dan kelemahanmu, dibandingkan dengan seekor lalat dan serangga. Betapa lemahnya dirimu untuk menolak berbagai bencana dan malapetaka yang akan menimpamu. Jadikanlah kelemahan dirimu sebagai bagimu, karena hal itu merupakan paling utamanya sifat dan akan mendatangkan manfaat di dunia dan di akhirat yang tidak terbatas. Allah Swt berfirman:
“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama) dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki Nya…” (Qs. Faathir:8).
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
“Sesungguhnya tidak ada seorang hambapun yang bangga dan ujub dengan kebaikan-kebaikannya melainkan dia akan hancur dan binasa”[1]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
“Dan hati-hatilah engkau dari sifat ujub dan berbangga kepada dirimu sendiri, dan percaya terhadap hal-hal yang membuatmu kagum dari padanya serta cinta menampakkan diri, karena hal itu adalah merupakan kesempatan yang paling baik bagi setan dengan dirinya untuk menghapuskan segala perbuatan-perbuatan atau kebaikan-kebaikan orang yang berbuat baik”
Dan riwayat yang lainnya:
“Sesungguhnya ujub dan bangga diri itu mengakibatkan kepada ketergelinciran”.
Hadist yang lainnya:
“Sesungguhnya buah dan hasil dari ujub dan bangga diri adalah kemurkaan dan kemarahan”.
“Sesungguhnya keridhaanmu atas dirimu yaitu ujub adalah bagian dari rusaknya akalmu”.
Hadist yang lainnya :
“Orang yang berbangga diri tidak mempunyai akal”
Dan hadist yang lain:
“Ujub itu merupakan perbuatan yang bodoh dan dungu”[2]
________________________________________
[1]. Biharul Anwar, Alamah Majlisi, J. 72, hal. 321.
[2]. Ghurarul Hikam, hal. 308 dan Biharul Anwar, J.77, hal 263.

Duabelas: Takabbur (Angkuh) & Tawadhu (Rendah Hati)

Wahai saudaraku, hendaklah engkau berusaha sebisa mungkin untuk tidak takabbur dan congkak. Karena sesungguhnya orang yang angkuh, congkak dan takabbur itu akan digiring di padang pada hari kiamat dalam bentuk kecil-kecil seperti kecilnya semut. Dan ketika itu, mereka akan diinjak-injak oleh manusia, karena mereka tidak ada harganya dan tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah Swt.[1]
Allah Swt berfirman:
” Dan mereka seluruhnya bersujud kepada Adam kecuali iblis karena ia congkak dan sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang kafir”. (Qs. Shaad:73-74)
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
” Hendaklah engkau menjauhkan sifat takabbur dan congkak, karena sifat takabbur dan congkak itu berada pada kaki dan sesungguhnya bagian atasnya terdapat aba’ah (pakaian lapisan luar gamis seperti jubah)”[2]
Dalam hadits yang lain diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
“Berhati-hatilah engkau jangan sampai mempunyai sifat takabbur dan congkak, karena sifat takabbur itu merupakan dosa yang paling besar dan merupakan puncak atau sumber segala aib dan ia merupakan hiasan bagi iblis”[3]
Dan pada hadits yang lain disebutkan:
” Paling buruknya bahaya akal adalah takabbur dan congkak”
Hadits lainnya berbunyi:
“Paling buruknya akhlak adalah takabbur dan congkak”
Hadits lainnya:
” Berhati-hatilah dan jauhkanlah dirimu dari sifat takabbur dan angkuh, karena ia merupakan puncaknya kezaliman dan maksiat kepada Allah Yang Maha Rahman”[4]
Diriwayatkan dari Imam Sajjad bin Husein As, beliau bersabda:
“Barang siapa yang mengucapkan Astaghfirullaha wa atuubu ilaih ( aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada Nya), maka ia bukan termasuk orang yang congkak dan takabbur dan juga tidak termasuk orang yang jabbar atau lalim”
Sesungguhnya orang yang congkak dan takabbur adalah orang yang senantiasa melakukan dosa, ia dikalahkan oleh hawa nafsunya dan ia lebih memilih dunianya daripada akhiratnya.[5]
Diriwayatkan dari Imam Ja’far bin Muhammad as Sadiq As, beliau bersabda:
“Takabbur ialah engkau merendahkan orang lain dan meremehkan kebenaran”[6]
Hadits yang lainnya:
“Takabbur ialah orang yang bodoh terhadap haq dan dia menikam atas ahlinya”[8]
Diriwayatkan dari Imam Sadiq As, beliau bersabda:
“Sesungguhnya di dalam neraka jahanam terdapat jurang dan lembah yang dikhususkan untuk orang-orang yang takabbur dan congkak. Lembah itu dinamakan saqar.Saking panasnya jahanam, lembah itu mengadu kepada Allah Swt dan meminta izin untuk sedikit bernafas kemudian dia bernafas maka jahanam membakarnya”[8]
Oleh karena itu saudaraku, berusahalah dengan sekuat tenagamu untuk menjadi orang yang rendah hati dan tawadhu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya rendah hati dan tawadhu itu tidak akan mengurangi kebesaran dan kehormatanmu sama sekali, bahkan akan menyampaikanmu kepada derajat dan kemuliaan yang tinggi. Adapun takabbur dan congkak adalah termasuk sifat-sifat yang dan rendah, dan akan menyebabkan orang-orang jatuh terjerumus. Dan orang-orang yang berusaha untuk besar dengan jalan menutupi kekurangan-kekurangan mereka dengan kecongkakan dan takabbur, sesungguhnya mereka itu malah akan membuka keburukan-keburukan dan menyingkap aib-aib mereka sendiri.
________________________________________
[1].Diriwayatkan oleh Syaikh Kulainy Ra. dalam Al-Kafi, J. 2, hal. 235, hadist ke 11.
[2]. Kanzul Ummal, hadist ke 7735.
[3]. Ghurarul Hikam , hal. 309, hadist ke 8124.
[4]. Ghurarul Hikam , hal. 309.
[5]. Biharul Anwar, J. 93, hal. 277.
[6]..Al Kafi, J. 2, hal. 234, hadist ke 8 dan 9.
[7]. Biharul Anwar , J. 73, hal. 217.
[8]. Al Kafi, J. 2, bab Al-Kibr, hal. 234, hadist ke 10.

Tigabelas: Al-Qasawah (Keras Hati)

Keras hati ialah adanya rasa tidak peduli terhadap kesusahan orang lain. Seseorang yang hatinya mengalami kondisi tersebut tidak merasakan kepedihan dan penderitaan orang lain. Sumber keras hati ini adalah karena ia dikalahkan oleh kekuatan buas hawa nafsunya. Kebanyakan dari perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti aniaya, menyakiti orang lain, tidak menjawab atau mengabulkan panggilan orang lain yang terzalimi, tidak membantu orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan bantuan, itu semua timbul dari sifat atau kondisi keras hati. Mengobati penyakit hati seperti ini sangat sulit. Dan orang yang tertimpa penyakit seperti ini, hendaklah ia senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat membuat hatinya lunak kembali, agar jiwanya mempunyai potesi untuk menerima curahan sifat belas kasih sayang dari sumber rahmat Allah Swt, agar nantinya sifat dan kondisi keras hatinya tersebut dapat menjadi sirna. Apabila seseorang yang tertimpa penyakit tersebut tidak berusaha mengobati dirinya, maka dia akan keluar dari daerah atau batasan manusia.
Allah Swt berfirman:
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (Qs. Al Maidah:13)
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
“Janganlah kalian memperbanyak ucapan selain berzikir kepada Allah Swt, karena banyak berbicara selain berzikir kepada Allah Swt, dapat mengakibatkan keras hati. Sesungguhnya paling jauhnya manusia dari Allah adalah orang yang hatinya keras”[1]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
“Tidak akan kering air mata, melainkan orang yang keras hati. Dan tidak akan keras hati melainkan orang yang banyak dosanya”[2]
Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw bersabda :
“Ada tiga perkara yang akan membuat keras hati, yaitu mendengarkan sesuatu yang sia-sia, memburu binatang dan menghampiri pintu kerajaan”[3]
Diriwayatkan dari Al Masih binti Maryam Isa As, beliau bersabda:
“Sesungguhnya binatang apabila tidak ditunggangi, tidak diuji dan tidak digunakan, maka nantinya ia akan menjadi sulit dan akan berubah sikapnya. Demikian pula hati manusia, apabila dia tidak dilembutkan dengan mengingat kematian dan tidak diikut sertakan dengan senantiasa beribadah, maka ia akan menjadi keras seperti batu”[4]
Penyair Sa’di Syirazi dalam sebuah syairnya berkata yang artinya:
Anak-anak Adam adalah anggota satu sama lainnya,
Mereka diciptakan dari mutiara yang satu
Apabila salah satu dari mereka tertimpa kesulitan suatu penyakit
Maka anggota-anggota yang lain akan merasakan penderitaan tersebut
Apabila engkau tidak mengambil faedah dari bencana orang lain
Maka ketahuilah, bahwa engkau tidak layak dinamakan sebagai anak Adam.

________________________________________
[1]. Kanzul Ummal, hadist ke 1840 dan 18960.
[2].Biharul Anwar, J. 70, hal. 55.
[3]Biharul Anwar, J. 75, hal. 370.
[4]. Biharul Anwar, J. 14, hal. 309.

Empatbelas: Asy-Syarrah (Keburukan)

Saudaraku yang mulia, hendaklah engkau menjauhkan diri dari menghamba perutmu. Sesungguhnya akibat buruk yang disebabkan oleh menghamba perut itu banyak sekali, seperti hina, bodoh, dungu dan lain sebagainya, bahkan termasuk bahaya paling besar yang menimpa manusia itu timbul dari mengikuti hawa nafsu perutnya. Seandainya tidak ada kezaliman dari arah perut yang ditimbulkan oleh hawa nafsu makan, maka tidak akan terjerumus seekor burungpun ke dalam perangkap, bahkan tidak ada seorang pemburu pun yang menyiapkan perangkapnya.
Ketahuilah sesungguhnya perut itu mengandung bahaya dan penyakit yang bermacam-macam dan sesungguhnya lapar itu mempunyai faedah dan manfaat yang banyak sekali. Karena sesungguhnya lapar dapat menerangi hati, menyinari dan menerangkan pikiran bahkan akan menyampaikan seseorang kepada kelezatan dan keindahan yang hakiki dalam bermunajat, berdzikir dan beribadah kepada Allah Swt. Lapar juga akan mengingatkan seseorang kepada hari kiamat dan menampakkan kerendahan nafsu amarahnya serta memperlancar dan mempermudah untuk taat dan beribadah, sehingga dengan lapar seseorang menjadi ringan dan sehat badannya serta akan tersingkir dari berbagai macam penyakit.
Rasulullah Saw dalam sebuah hadistnya bersabda:
“Janganlah kalian matikan hati kalian dengan banyak makan dan minum, karena sesungguhnya hati itu seperti tanaman yang akan mati apabila terlalu banyak disiramai air”.
Oleh karena itu, wahai orang-orang yang mengikuti hawa nafsu perutnya dengan banyak makan, hendaklah kalian mengobati jiwa dan diri kalian, dan jangan sampai terhalangi dari faedah-faedah dan manfaat lapar. Hendaklah mereka mengikuti tata cara para nabi, para ulama besar dan para urafa, karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang akan mencapai derajat yang tinggi tanpa memperhatikan rasa lapar. Hendaklah mereka memilih antara berteman dengan para malaikat dengan melalui rasa lapar daripada berteman dengan binatang-binatang yang selalu berteman dengan biji-bijian.

Limabelas: Hubb ad-Dunya (Cinta Dunia)

Saudaraku yang berbahagia, berhati-hatilah dari mencintai dunia yang hina. Karena sesungguhnya cinta dunia itu merupakan pokok dan sumber dari segala keburukan[1]. Dan pencari dunia akan hancur dan rusak serta sia-sia amal dan perbuatannya. Dunia merupakan bagian dari manfaat bagi seseorang setelah kematiannya. Dan haknya manfaat dunia itu akan terlihat pada seseorang setelah kematiannya. Ketahuilah, bahwa dunia yang diinginkan dan dicari oleh seseorang demi memperoleh pahala dan buah akhirat, hal itu tidaklah dinamakan dunia yang terhina. Sesungguhnya dunia tidak dianggap terhina apabila kadar dunia itu digunakan oleh seseorang untuk tujuan melangsungkan kehidupannya di dunia ini, seperti memenuhi kehidupan keluarganya, menjaga kehormatannya dan hal-hal lain yang ia perlukan. Bahkan hal semacam itu tidak dianggap dunia, tetapi merupakan amal-amal yang shaleh.
Diriwayatkan dari Imam Baqir As, beliau bersabda dalam salah satu hadistnya: “Barang siapa mencari rizki di dalam dunia ini untuk menjaga kehormatannya dari orang lain dan untuk menghidupi keluarganya dan membantu tetangganya, maka ia akan berjumpa dengan Allah Swt sedangkan wajahnya bagaikan bulan di malam purnama”[2]
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya dunia itu diumpamakan seperti air laut, setiap kali orang yang merasa haus minum air tersebut, ia akan bertambah haus sehingga ia hsmpir mati karenanya.[3]
Nabi Isa al-Masih As pernah bersabda:
“Sesungguhnya pencari dunia adalah seperti orang yang minum air lautan, setiap kali ia meminumnya, akan bertambah rasa hausnya sehingga air itu hampir membunuhnya sendiri”[4]
Dunia laksana seekor ular yang bagian luarnya lembut dan terukir indah, tetapi bagian dalamnya penuh dengan racun yang mematikan dan mengandung bahaya yang besar.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As pernah menulis sepucuk surat kepada Salman al Farisi, dalam surat itu beliau mengatakan:
“Perumpamaan dunia ini bagaikan seekor ular yang ketika disentuh ia lembut, tetapi racunnya akan membunuh. Maka berpalinglah dari segala sesuatu yang menakjubkanmu, karena sedikitnya sesuatu yang menemanimu. Dan enyahkanlah segala kesusahannya, karena engkau yakin akan meninggalkannya”.[5]
Allah Swt pernah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa As yang isinya: “Wahai Musa, ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap fitnah itu bibit dan sumbernya adalah cinta dunia”.[6]
Diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda:
“Dosa yang paling besar adalah cinta dunia”.[7]
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
“Cinta dunia merupakan sumber segala maksiat dan awal segala kedustaan”.[8]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
“Cinta dunia merupakan sumber segala fitnah dan dasar segala cobaan”.
Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan:
“Sumber segala bencana adalah gandrung dan cinta dunia. Dan sesungguhnya engkau tidak akan menjumpai Allah Swt dengan suatu amal perbuatan yang lebih berbahaya atasmu selain dari pada cinta dunia”.
Riwayat lainnya mengatakan:
“Sesungguhnya dunia itu merusak agama dan mencabut keyakinan”.[9]

________________________________________
[1] Al Kafi, J. 2, hal. 238, hadist ke 1.
[2]. Diriwayatkan oleh Sayyid ‘Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 211.
[3]. Kulainy dalam kitab Al-Kafi, J. 2, hal. 810, hadist ke 24.
[4]. Sayyid ‘Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 215.
[5]. Diriwayatkan oleh Sayyid ‘Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 214.
[6]. Bihar al-Anwar , J.13, hal. 351.
[7]. Kanz al-‘Ummal, hadist ke 6074.
[8]. Tanbih al-Khawaatir, hal. 362.
[9]. Ghurar al-Hikam, hal. 139.

Enambelas: Al-Faqr (Fakir)

Saudaraku yang fakir, janganlah engkau bersedih dengan kefakiranmu, karena fakir merupakan hiasan bagi seorang mukmin dan hal itu lebih baik daripada pelana yang dijadikan sebagai hiasan kuda. dan setiap manusia pasti merindukan surga, sementara surga itu rindu kepada orang-orang fakir.
Al-Alamah al Majlisi meriwayatkan sebuah hadist dalam kitabnya Al Bihar jilid 72 hal 48 hadist ke 58. Di dalam hadis tersebut Rasulullah Saw bersabda:
“Orang-orang fakir merupakan raja-raja ahli surga, dan seluruh manusia rindu kepada surga. Sedangkan surga rindu kepada orang-orang fakir”.
Cukuplah bagi seorang fakir untuk menghibur hatinya dengan ucapan pemimpin umat manusia pemberi kabar gembira Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Kefakiran adalah kebanggaanku”.[1]
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda: “Kefakiran adalah kebanggaanku dan dengan kefakiran itu aku merasa bangga”.[2]
Dan dalam hadist yang lainnya lagi beliau bersabda:
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam kondisi miskin, matikanlah aku dalam kondisi miskin dan giringlah aku di padang mahsyar bersama kelompok orang-orang yang miskin”.[3]
Di dalam hadist yang lain Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa berusaha untuk membantu keluarganya dari sesuatu yang halal, maka dia bagaikan seorang mujahid (pejuang ) di jalan Allah Swt. Dan barang siapa mencari dunia yang halal untuk tujuan iffah (menjaga diri dan kehormatan) maka dia akan sederajat dengan orang-orang yang mati syahid”.[4]
Amirul Mukminin Al Imam Ali bin Abi Thalib As bersabda:
“Raja-raja dunia dan akhirat adalah orang-orang fakir yang rela”.[5]
Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw bersabda:
“Tidakkah kalian ingin aku kabarkan tentang ahli-ahli surga?”. Para sahabat menjawab : “Tentu ya Rasulullah”, lalu beliau bersabda: “Raja-raja ahli surga adalah setiap orang yang lemah dan mustadh’af yang wajahnya berdebu dan rambutnya kusut dan hanya memakan dua butir kurma. Orang-orang tidak perduli kepadanya, tetapi apabila dia bersumpah atas Asma Allah, pasti Allah akan mengabulkannya”.[6]

________________________________________
[1]Jam’ al-Akhbaar oleh Sabzewary dari A’lamul-qurnus-saabi’, hal. 302, pasal ke 67.
[2]Mishkat al-Anwar, Tabarsy, hal. 133.
[3]. Bihar al-Anwar, J. 69, bab ke 94, pasal Al Fakir wal Fuqara.
[4]. Al-Mahjat al-Baidha, J. 3, Akhlak Shubbar, hal. 211 dan Jami’ as-Sa’aadat, J. 2, hal. 19, cetakan Najaf.
[5]. Ghurar al-Hikam, hal. 366, hadist ke 8243.
[6]. Jam’i as-Sa’adaat, J. 2, hal. 83, cetakan Najaf.

Tujuhbelas: Memohon

Saudaraku yang mulia, angkatlah kedua tanganmu sebisa mungkin untuk memohon kepada Tuhanmu. Mintalah kepada Nya segala hajat dan kebutuhanmu dan janganlah engkau tumpahkan wajahmu di hadapan orang-orang yang terkutuk hanya demi sesuap nasi.
Di dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bersabda bahwa orang kaya itu bukanlah orang yang banyak hartanya, tetapi orang kaya adalah orang yang jiwanya terhormat. Dalam tempat yang lain kepada seorang Badui yang memohon nasihat kepadanya, beliau bersabda: “Apabila engkau melakukan shalat maka lakukanlah seperti orang yang melakukan shalat terakhir kalinya, janganlah engkau berkata-kata dengan ucapan yang menyebabkan keesokan harinya engkau akan menyesal. Dan himpunlah rasa putus asa dari apa-apa yang ada di tangan manusia”.

Imam Shadiq As bersabda:
“Sesungguhnya syia’ah-syi’ah kami adalah orang-orang yang tidak meminta sesuatu dari manusia dan orang lain, sekalipun ia mati kelaparan”.
Beliau bersabda dalam hadits yang lain:
“Ada tiga perkara yang merupakan kebanggaan seorang mukmin dan akan menjadi hiasan baginya di dunia dan akhirat, yaitu shalat pada akhir malam dan merasa putus asa dalam mengharap apa yang berada di tangan orang lain dan berwilayah kepada Imam dari keluarga Muhammad Saw”.[1]
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa pakaian seorang raja sekalipun ia mulia, tetapi sesungguhnya ia lebih rendah daripada pakaian seorang fakir yang sabar dan rela dengan kefakirannya tersebut. Sesungguhnya makanan orang yang berleha-leha sekalipun nampaknya lezat, tetapi sesungguhnya roti kering yang dimakan oleh orang-orang fakir itu lebih lezat.
Wahai saudaraku, janganlah engkau merasa gelisah karena sedikitnya uangmu, janganlah engkau menjual agamamu untuk duniamu, karena sesungguhnya pada hari pembalasan nanti kemuliaan itu terdapat pada agama dan bukan terdapat pada uang. Derajatmu akan naik dengan agamamu dan bukan dengan uangmu.
Hukama (orang-orang bijak) berkata “Seandainya air kehidupan itu dijual dan diganti dengan air wajah (kehormatan), maka tidak akan ada seorang alimpun yang bersedia untuk membelinya. Sesungguhnya mati karena sakit itu lebih baik daripada hidup dengan segala kehinaan”.
Oleh karena itu wahai saudaraku bertawakallah sepenuhnya kepada Allah Swt dan hindarilah rasa tamak dengan melihat apa yang ada pada orang lain dan janganlah engkau perduli dengan yang ada pada mereka. Imam Shadiq As bersabda:
“Apabila kalian menghendaki agar Tuhan kalian tidak mengabulkan suatu permintaanpun melainkan ia pasti memberikannya, maka hendaklah kalian berputus asa dari seluruh manusia dan tidak lagi menaruh harapan selain dari Allah Swt. Apabila Allah Swt mengetahui hal itu dan apa yang ada di dalam lubuk hati kalian maka apa yang dia minta pasti Allah akan memberikannya”.[2]
Allah Swt berfirman: “…. orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka itu orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…”. (Qs. Al-Baqarah:273).
Rasulullah Saw bersabda kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, hendaklah engkau jangan meminta-meminta, karena hal itu merupakan kehinaan yang berwujud dan merupakan kefakiran yang cepat dan di dalamnya terdapat hisab yang panjang di hari kiamat”.[3]
Dalam hadits yang lain diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Wahai Ali seandainya kedua tanganku ini di masukkan ke dalam mulut at tannin sampai ke sikuku hal itu lebih aku sukai daripada aku harus meminta dari orang lain yang tidak ada di sana”.[4]
Amirul Mukminin Ali As pernah bersabda: “Sesungguhnya meminta-minta itu akan melemahkan lisan orang yang berbicara dan akan memecahkan hati yang berani dan membuat orang yang merdeka dan mulia itu bersikap bagaikan sikap seorang budak yang hina dan menghilangkan kehormatan muka dan menghapuskan rizki”.[5]
Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
“Sesungguhnya taqarrub kepada Allah Swt itu dilakukan dengan memohon kepada Nya dan dengan cara meninggalkan apa yang ada pada manusia”.
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
“Sesungguhnya Syi’ahku adalah orang yang tidak menjilat-jilat bagaikan seekor anjing dan orang yang tidak tamak sebagaimana tamaknya burung elang dan tidak meminta-minta kepada orang lain meskipun ia mati kelaparan”.
Pada hadist yang lain beliau bersabda bahwa meminta-minta kepada orang lain adalah kunci dari kefakiran. Rasulullah Saw bersabda:
“Tidak ada seorang hambapun yang membuka pintu pada dirinya untuk meminta-minta kepada orang lain melainkan Allah akan membukakan atasnya tujuh puluh pintu kefakiran”.
Imam Shadiq As bersabda:
“Barang siapa yang memohon kebutuhannya kepada orang lain, maka akan tercabut kehormatan dan rasa malunya. Dan dengan berputus asa atau tidak mengharapkan apa yang ada pada manusia adalah merupakan kemuliaan bagi seorang mukmin di dalam agamanya, sedangkan tamak adalah merupakan fakir yang hadir”.[6]

________________________________________
[1]. Jam’i as-Sa’adaat, J.2, hal. 107.
[2]. Diriwayatkan oleh Kulainy dalam Al-Kafi, J.2, hal. 119, hadist ke 2.
[3].Bihar al-Anwar, J. 77, hal. 59 dan 60.
[4].Makarim al-Akhlak, hal. 433, cetakan Beirut dan Bihar al-Anwar, J. 77, hal. 59 dan 60.
[5].Jam’i al-Akhbar, hal. 379.
[6].Miskhat al-Anwar, hal. 185.

Lapanbelas: Al-Hirsh (Rakus)

Saudaraku yang mulia, hindari dan buanglah jauh-jauh sifat rakus karena sifat tersebut merupakan padang pasir yang luas tidak bertepi, ke arah mana saja engkau menghadapkan wajahmu maka engkau tidak akan dapat melihat dan menjangkau batasnya. Rakus merupakan lautan yang tiada bertepi dan tidak dapat dijangkau kedalamannya sekalipun kamu menyelaminya. Sungguh betapa rugi dan celakanya orang yang ditimpa penyakit rakus ini, karena ia akan mencelakakan dan menyesatkan dan sulit untuk diselamatkan.
Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya orang yang rakus itu mahrum (terhalangi,) dan dengan adanya penghalang ini dia akan menjadi terhina dalam hal apa saja. Bagaimana ia tidak akan menjadi mahrum dan terhalangi sedangkan ia kabur dari ikatan janji Allah Swt?”.[1]
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda : “Sesungguhnya rakus itu lebih panas dari api neraka”. Dalam riwayat yang lain beliau bersabda: “Sesungguhnya sifat rakus itu dapat menghalangi kadar dan kemuliaan seseorang dan sifat ini tidak akan menambahkan rizki kepadanya”.
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda bahwa orang yang rakus itu adalah fakir meskipun ia memiliki dunia dan isinya. Diriwayatkan dari Imam Baqir As, beliau bersabda bahwa perumpamaan orang yang rakus terhadap dunia adalah seperti ulat sutra, dimana setiap kali bertambah lipatan sutra pada dirinya maka akan semakin jauh pulalah dirinya untuk dapat keluar dari lipatan tersebut.[2]
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya qanaah (merasa cukup) adalah merupakan suatu sifat yang penuh dengan keutamaan dan fadhilah dan merupakan sifat yang membuat ketenangan seseorang di dunia dan akhirat.
Al Alamah An Niraqi dalam kitabnya Jami’u Sa’adat jilid 2 hal 101 berkata bahwa qanaah dan merasa cukup itu merupakan lawan dari rakus. Qanaah adalah suatu sifat terpuji yang jika melekat pada diri seseorang dapat menjadikannya merasa cukup dengan sekedar kebutuhannya dari harta tanpa berusaha untuk susah payah mencari tambahannya. Qanaah merupakan sifat yang mulia dan utama, dimana sifat-sifat mulia yang lain bergantung pada sifat tersebut. Dan ketiadaan sifat qanaah tersebut akan menjadikan dan menyebabkan seseorang menjadi terjerumus kepada akhlak dan budi pekerti yang buruk. Orang-orang yang qanaah, dengan hanya satu hidangan makanan akan bisa mencukupi sepuluh orang. Tetapi sebaliknya, sifat rakus itu tak ubahnya bagaikan dua anjing yang akan berkelahi hanya untuk memperebutkan sebuah bangkai. Demikianlah orang yang rakus, dia akan tetap lapar meskipun dunia seisinya telah menjadi milikinya. Sementara orang yang merasa cukup dan qanaah akan merasa kenyang sekalipun hanya dengan sebuah roti kering.

________________________________________
[1] Biharul Anwar, J. 73, hal. 165.
[2] Kafi, J.2, hal. 134.

Sembilanbelas: Tamak (Serakah)

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa tamak merupakan sebuah sifat yang sama dengan sifat rakus. Lawan dari sifat ini adalah tidak butuh kepda orang lain.
Telah diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tamak akan menghilangkan hikmah dari kalbu-kalbu para ulama”.[1]
Dan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
“Mulialah orang yang qanaah, yaitu orang yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya dan hinalah orang yang tamak”.[2]
Dari Ali bin Husain as Sajjad As bersabda:”Aku melihat kebaikan yang awalnya terkumpul dan menjadi terputus karena ketamakan manusia”.[3]
________________________________________
[1]. Kanzul Ummal, hadist ke 7576.
[2]. Kalimat pertama, dalam Syarah Ghurarul Hikam, J. 4, hal. 474, dan kalimat kedua dengan sedikit perbedaan dalam J. 5, hal 451.
[3]. Biharul Anwar, J. 70, hal 171.

Dua puluh: Bakhil (Kikir)

Saudaraku yang mulia, hindarkan dan jauhkanlah dirimu dari sifat bakhil dan pelit, karena sesungguhnya orang yang bakhil dan pelit itu terhina, rendah dan tidak berharga. Cukuplah dalam keburukan sifat ini bahwa tidak akan ada seorang pun yang menyukainya di dunia ini. Dan masyarakat, bahkan anak-anaknya sendiri akan memusuhinya dan keluarga serta familinya senantiasa akan menunggu kematiannya, supaya dalam duka citanya mereka bisa mengenakan pakaian yang paling lusuh akan tetapi mereka akan membawa pakaian yang paling baik.
Sebagian ulama mengatakan: “Akar bakhil itu dari tanah dan dia akan tumbuh ketika hendak menuju ke tanah”.
Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwa orang bakhil tidak akan pernah diingat setelah kematiannya, karena telah jelas bahwa barang siapa tidak memakan rotinya ketika hidupnya, maka tidak akan ada yang menyebutkan namanya ketika matinya.
“Dan barang siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri”. (Qs.Muhammad:38).

Dua puluh satu: AS – SAKHO’ (MURAH HATI)

Wahai saudaraku yang budiman, sesungguhnya kebalikan dari sifat bakhil adalah sakho’ atau murah hati. Sakho’ adalah sebuah sifat yang merupakan akhlak tinggi dan mulia dimana pemiliknya senantiasa akan diterima oleh para penghuni ufuk. Keutamaan dari sifat ini begitu jelas dan terang, karena orang yang memiliki sifat ini akan menjadi orang yang dicintai dan dipuji di sisi Khaliq dan di sisi makhluk. Orang yang pemurah akan dicintai oleh para penghuni langit dan penghuni bumi, dan namanya akan senantiasa terukir dalam kebaikan.
Wahai saudaraku yang mulia, ketahuilah bahwa kekayaan merupakan perantara untuk memudahkan kehidupan. Dan kehidupan ini bukan merupakan sarana untuk mengumpulkan kekayaan. Seorang ‘Aqil (orang yang berakal sehat) pernah ditanya: “Siapakah yang dimaksud dengan orang yang beruntung, dan apakah yang dimaksud dengan kemalangan?” Sang Aqil berkata: “Beruntung adalah memakan dan memanen, sedangkan malang adalah mati dan tenggelam”. Dengarlah baik-baik nasihat Hadhrat Musa As kepada Qarun, beliau berkata: “Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, wahai Qarun engkau tidak mendengarkannya dan akibatnya engkau melihat keburukannya dan apa yang engkau capai”
Para cerdik pandai berkata: “telah meninggal dunia dua orang dan keduanya menyesal, karena yang satu mempunyai tetapi tidak memakannya dan yang satunya lagi mengetahui tetapi tidak mengamalkannya”.
Wahai saudaraku, karena engkau telah mengetahui keutamaan sifat murah hati, maka ketahuilah bahwa sifat ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pemberian dan infak.
Pertama: adalah infak-infak wajib, dan yang termasuk di dalamnya seperti: zakat, khumus, nafkah keluarga dan sepertinya.
Kedua: adalah pemberian-pemberian mustahab seperti sedekah, hadiah, mengundang tamu, memberikan hak ma’lum dan hak hashad , memberikan pinjaman, membantu para muslim, membangun masjid, madrasah, jembatan, istal kuda, membangun kanal-kanal, mencetak buku-buku agama dan lain sebagainya, yang kesemuanya ini merupakan sedekah jariyah (yang akan selalu mengalir pahalanya-pen) dan merupakan baqiyatus-shalihaat (peninggalan amal shaleh).

Dua puluh dua: MENGHINDARI HARTA HARAM

Wahai saudaraku yang budiman, hindarkan dan jauhkanlah dirimu dari harta yang haram, karena hal itu akan menimbulkan bahaya yang teramat besar, dan merupakan penghalang terbesar dalam memperoleh kebahagiaan. Ketahuilah, bahwa sebagian besar manusia yang tidak memiliki harapan lagi untuk memperoleh karunia dan berkah Ilahy, sebabnya adalah karena mereka tidak mau menjauhkan diri dari harta yang haram. Dan sesungguhnya hati yang tumbuh dari suapan makanan haram, akan berada di suatu tempat yang tidak lagi layak untuk menerima karunia dari Yang Maha Suci.
Oleh karena itu wahai saudaraku, ingatlah, jika engkau ingin mencari keselamatan, engkau harus mencari sesuatu yang halal dan harus menahan tangan serta perutmu dari memakan setiap makanan yang ada. Hindarilah berbuat zalim, keras kepala, berkhianat dalam amanat, menipu, licik, marah, mencuri, mengurangi timbangan, melakukan riba dan sebagainya. Wahai saudaraku, sebaliknya kenakanlah baju taqwa dan wara’ di atas tubuhmu karena sesungguhnya: ” Pakaian takwa itulah yang paling baik”.

Dua puluh tiga: PERCAKAPAN YANG TIDAK BERMANFAAT

Wahai saudaraku yang mulia, berusahalah semampumu untuk menutup mulut, dan jauhkanlah dirimu dari tenggelam dalam kebatilan, dari percakapan yang tidak bermanfaat dan dari ikut campur dalam urusan orang lain. Karena hal itu akan menyebabkan tersia-sianya waktumu yang merupakan modal perdagangan dan modal keselamatan.
Oleh karena itu wahai saudaraku, perhatikanlah bahwa waktu untuk mempersiapkan perjalanan akhirat lebih sempit dari melakukan hal-hal di atas, karena sesungguhnya kita adalah para musafir yang hanya berkesempatan mengikat bekal perjalanan, lalu seberapakah banyaknya waktu luang kita sehingga masih sempat duduk-duduk dan bercakap-cakap mengenai hal-hal yang tidak ada manfaatnya.

Dua puluh empat: HASAD(IRI HATI)

Wahai saudaraku yang mulia, hindarkan dan jauhkanlah dirimu dari sifat iri hati sekuat kemampuanmu, karena orang yang iri hati akan merasa tersiksa dengan azab yang berat, baik di dunia maupun di akhirat dan tidak akan pernah terlepas dari kesedihan dan kesusahan.
Apabila engkau perhatikan orang yang terjangkiti penyakit ini dengan baik, maka engkau akan mendapatkan bahwa dia memiliki watak keras kepala dan bersifat keras terhadap orang lain, bahkan menganggap Allah Swt (wal ‘iyaadzu billah) adalah jahil, atau dia menganggap dirinya lebih mengetahui kemaslahatan dan keburukan hamba Allah. Ketahuilah, bahwa kedua-duanya ini merupakan kekufuran dan juhud (pengingkaran), sehingga dia akan menyandang julukan si hasad yang malang.
Maka wahai saudaraku, jadilah mahsud (orang yang dijadikan obyek untuk iri hati-pen) dan janganlah menjadi haasid (pelaku hasad), karena sesungguhnya mizan kebaikan para haasid senantiasa akan menjadi ringan, karena kebaikannya itu dipindahkan ke mizan para mahsud.
Hadhrat Rasulullah Saw dalam sebuah hadist bersabda: “Sedikit sekali manusia hasad yang bisa merasakan kenikmatan”.
Dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda: “Sifat hasad tidak akan membawa keberuntungan”.
Terdapat perumpamaan masyhur yang mengatakan: “Telah cukup bagi para penghasud dengan hasadnya”.
Apabila engkau ingin mengetahui kemalangan yang akan dibawa oleh para penghasad, maka perhatikanlah baik-baik, bahwa sebenarnya -di dalam kehidupan dunia yang hanya beberapa hari saja- tidak pantas sama sekali untuk iri hati kepada hamba Allah yang lain. Karena dalam waktu yang hanya sekejap mata, si haasid dengan mahsud akan segera terkubur di dalam tanah, dan nama mereka akan terhapus dari lembaran masa.

Dua puluh lima: MERENDAHKAN ORANG LAIN

Wahai saudaraku yang mulia, hindarkanlah dirimu dari menghina dan merendahkan orang lain dari hamba-hamba Allah.
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Barang siapa menghina salah satu dari sahabatku berarti dia telah mengikatkan tali peperangan denganku”.
Oleh karena itu wahai saudaraku, seharusnya engkau senantiasa menghormati dan memuliakan seluruh tingkatan rakyat sesuai dengan keberadaan mereka, khususnya dari keturunan mulia; ahli ilmu, ahli fadhilah dan pemilik sifat wara’ dan takwa. Demikian pula terhadap orang-orang tua dan para pendahulu Islam dan keturunan agung para sadat.

Dua puluh enam: ZALIM DAN KASAR

Wahai saudaraku yang mulia, hindarkanlah dirimu sebisa mungkin dari berbuat zalim dan kasar. Sesungguhnya aniaya dan zalim menurut pendapat siapapun di alam ini, merupakan perbuatan yang buruk. Di dalam Al Qur’an al Majid dijelaskan bahwa orang-orang yang berbuat zalim berada dalam laknat yang sangat keras. Banyak sekali hadist-hadist Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang celaan serta ancaman yang berat bagi orang-orang yang zalim.
Allah Swt dalam salah satu ayatnya berfirman: “Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”

Terdapat sebuah riwayat yang mengatakan bahwa berbuat zalim dan kekerasan dalam satu jam itu lebih buruk di sisi Allah dari melakukan dosa selama enam puluh tahun. Dan barang siapa yang takut dengan balasannya, maka dia pasti akan menjauhkan diri dari melakukan kezaliman tersebut, karena muntaqim (yang mengambil balas dendam) hakiki akan mengambil intiqam (balas dendam) dari setiap orang yang berbuat kezaliman, lalu memberikan balasan yang sesuai untuknya.
Demikianlah, Sultan Mahmud Ghaznawi mengatakan: “Aku tidak terlalu takut dengan pedang para lelaki singa, tetapi aku lebih takut pada amir perempuan tua”.
telah diriwayatkan pula bahwa berbuat zalim atau berteman dengan orang yang zalim, dan rela dengan kezalimannya, mereka semua berada dalam kedudukan yang sama. Oleh karena itu wahai saudaraku yang mulia, berbuatlah sesuatu dengan adil dan hindarkanlah dirimu dari berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah, karena kemuliaan sifat adil berada di luar sifatnya. Dan cukuplah dalam posisi sebagaimana apa yang kita lihat dalam sebuah cerita bahwa setelah lebih dari seribu tahun Anushirwan yang adil terkuburkan, tetapi ternyata rakyat masih saja menyebutkan kebaikan namanya, hal ini dikarenakan satu sifat yang mulia dan tali umurnya yang selama sekian ribu tahun dalam kesultanan telah ditancapkan pada paku ajal, akan tetapi hingga kini nyanyian rantai keadilannya masih terikat erat di kubahnya.

Dua puluh tujuh: MEMENUHI HAJAT MUSLIMIN

Wahai saudaraku yang mulia, senantiasa bersungguh-sungguhlah dalam memenuhi dan membantu kebutuhan serta hajat para muslim, dan berusahalah untuk memberikan hal-hal yang lebih penting bagi mereka.
Ketahuilah, bahwa keutamaan para muqarrab adalah karena usaha mereka yang serius untuk memenuhi keperluan orang-orang yang butuh.
Hadhrat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda dalam salah satu hadistnya kepada Kumail bin Ziyad: “Wahai Kumail, perintahkanlah kepada keluargamu untuk berusaha meraih kemuliaan dengan berupaya memenuhi kebutuhan orang-orang yang memerlukan”.

Dua puluh delapan: MEMBAHAGIAKAN HATI MUKMIN

Wahai saudaraku yang mulia, bahagiakanlah hati para mukmin semampumu, karena betapa besar dan banyaknya pahala dari perbuatan tersebut. Dan ketahuilah bahwa membuat bahagia dan gembira hati kaum mukmin lebih baik dan lebih utama daripada meramaikan sebuah bangsa.
Hadhrat Rasul Saw bersabda: “Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Swt adalah memberikan kebahagiaan atas para mukmin”.

Dua puluh sembilan: AMR MA’RUF DAN NAHI MUNGKAR

Wahai saudaraku yang budiman, janganlah engkau menganggap ringan pelaksanaan amr ma’ruf dan nahi mungkar, karena melalaikan masalah ini dapat mengakibatkan bahaya yang sangat fatal. Dan bahaya yang ditimbulkan oleh hal ini bersifat universal, dan kerusakan yang akan terjadipun bersifat global dan memenuhi segala segmen.
Dari Hadhrat Baqir al Ulum As telah diriwayatkan, beliau bersabda bahwa Haq Ta’ala telah mengirimkan wahyu kepada Nabi Syu’aib As dengan berfirman bahwa “Aku akan menurunkan azab kepada seratus ribu orang dari kaummu, empat puluh ribu darinya berasal dari golongan yang buruk dan enam puluh ribu lainnya dari golongan yang baik”. Nabi Syu’aib bertanya: “Tetapi mengapa golongan yang baik-baik pun mendapatkan azab?”, Lalu beliu mendengar jawaban bahwa “Hal itu terjadi karena mereka menjilat dan menganggap sepele para pembuat maksiat, dan mereka tidak memarahi dengan kemarahan-Ku”.

Tiga puluh: KEKELUARGAAN

Wahai saudaraku yang budiman, ketahuilah bahwa mempunyai sifat kekeluargaan atau familiar serta damai dengan masyarakat, merupakan sebuah sifat yang terpuji dan akhlak yang mulia. Sehubungan dengan masalah ini terdapat begitu banyak hadist yang mengungkapkan tentang keutamaan melakukan ziarah kepada para mukmin, mengucapkan salam, bersalaman dengan mereka, menjenguk mereka yang sakit, mengiringi jenazah dan mengucapkan tasliyat kepada orang-orang yang terkena musibah dan yang semisalnya.
Wahai saudaraku, apabila engkau perhatikan dengan baik hadist-hadist yang berkaitan dengan masalah ini, maka engkau akan mengetahui betapa besarnya perhatian Allah Swt terhadap persoalan rasa kekeluargaan di antara seluruh makhluknya, dan betapa banyaknya sunnah-sunnah yang telah Dia tetapkan untuk mempertahankan sifat ini. Tetapi sayang dan ironis sekali, ternyata pada zaman kita sekarang ini, sebagian besar dari sunnah-sunnah tersebut telah ditinggalkan, tidak ada yang tertinggal dari nubuwwah melainkan formalitasnya dan tidak ada yang tertinggal dari syari’at kecuali namanya. Setan-setan dengan berbagai usahanya telah berhasil menyebarkan berbagai rencana busuknya. Sehingga umat ini jatuh dan tejerumus ke dalam perbuatan nifak dan perpecahan di antara mereka. Bahkan umat ini, kini telah berani membelakangi segala sesuatu, padahal Allah telah memberikan perhatiannya begitu besar. Mereka tidak menjenguk sesamanya, kecuali karena riya atau untuk menampakkan dan menyebarkan keburukan. Mereka menganggap bahwa memberikan salam merupakan satu perbuatan yang tercela, tetapi mereka senantiasa mengharap agar orang lain memberikan salam kepadanya. Dan merekapun menganggap bahwa bersalaman merupakan sebuah kebiasaan yang dungu.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: