ALASAN AKU BERSELAWAT LALU, APA ALASANMU SAHABAT?


ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD SAWW

1. Aku rindu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpanya, aku tak mengenal Allah dan ajaran suci-Nya.

2. Aku ingin agar kelak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku syafaat di akhirat nanti. Aku ingin baginda menolongku pada saat Pengadilan Tuhan datang.

3. Aku ingin selalu dibimbing oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab aku yakin, baginda tetap hidup dan selalu ada di hatiku, duduk bersamaku, saat kuucapkan tahiyat pada shalat dan dzikirku.

4. Aku ingin selalu mendapat cinta Rasulullah, yang dapat mengantarkan cintaku kepada Allah.

5. Aku ingin merasakan kedamaian hati dan kebahagiaan batin, seperti yang dirasakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Aku ingin mendapat pahala dari Allah dan mendapat kucuran berkah dan rezeki Ilahi, sebab aku berusaha meneladani Nabiku.

7. Aku ingin menanamkan semangat hidup seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam jiwaku.

8. Aku ingin menjadi kekasih Allah dengan cara mencintai kekasih-Nya.

9. Aku ingin mati dan dikenang sebagai ummati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

10. Aku ingin meneladani ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan membaca selawat Nabi diharapkan agar Allah membukakan mati hatiku, memudahkan kesadaranku untuk tetap istiqamah di jalan yang diajarkan baginda Rasul.

11. Aku ingin agar Allah memberiku kemudahan, keluasan pikiran, kerendahan hati, keteguhan iman, kesabaran dan kedahsyatan keyakinan seperti yang diberikan Allah kepada kekasih-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

12. Aku ingin agar aku, saudaraku, suamiku/istriku, orangtuaku, kawanku, tetanggaku, mau meneladani ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan selawat Nabi yang aku panjatkan setiap saat, kelak menjadi doa untuk kami semua.

13. Aku tahu setiap aku shalat, tak ada rakaat yang sah, tanpa selawat Nabi, karenanya, tak ada satu shalat pun yang aku dirikan tanpa kehadiran Rasulullah, kekasih hatiku…Kekasih yang kelak mengantarkan aku, kepada Sang Kekasih Sejati, Allah SWT.

14. Aku berselawat untuk menurunkan demam panas anakku. Karena, aku tahu, Rasulullah adalah air kesejukan batin yang menyembuhkan dan menyegarkan jiwa setiap hamba Allah yang meniti jalan Rasul-Nya.

15. Aku berselawat atas Nabi, karena aku ingin selalu dibimbing, diajar, dikasihi dan disayang seperti baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

16. Aku berselawat atas Nabi karena aku membutuhkan pertolongan batin, saat aku berusaha meniti jalan Ilahi, belajar tentang makrifatullah. Tanpa bantuan Rasulullah, mustahil aku dapat menghadap-Nya.

17. Aku berselawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, khatammu-nabiyyin (penutup para Nabi), sebab tak ada Nabi setelahnya.

18. Aku berselawat atas Nabi Muhammad, sebab atas alasan inilah Allah menciptakan dunia.

19. Aku berselawat Nabi, karena aku merasakan sendiri kehadiran Nabi dalam setiap ibadah yang kujalankan. Praktis, semua ibadahku dimulai dan diakhiri dengan selawat.

20. Aku tak ingin menjadi umat yang sombong, kikir, bodoh dan tak tahu diri, yang tak pernah mau memahami makna selawat Nabi dalam kehidupan batinnya.

21. Aku tak ingin menjadi hamba Allah yang kufur dan sombong, sebab Allah dan Malaikat-Nya pun berselawat atas Nabi.

22. Aku ingin agar cinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi ruh yang menggairahkan jiwa setiap Mukmin hingga akhir zaman, sehingga ajaran Ilahi bisa diamalkan, dihayati dan dijalankan sesuai sunah Rasul-Nya.

23. Aku berselawat atas Nabi, sebab hanya bagindalah figur manusia satu-satunya yang perlu dipuja dari generasi ke generasi. Aku tak ingin anak-anakku lebih mengenal Katty Perry, Justin Beiber, Rihanna, dan arti lainnya, meski kini mereka masuk ke dinding-dinding rumah lewat radio, internet, televisi atau film.

24. Aku berselawat atas Nabi karena aku lebih mementingkan akhiratku daripada dunia yang fana. Karena itu, aku tak akan peduli dengan cemooh, hasutan, dan tuduhan bid’ah atas amalan ini. Sebab, aku yakin mereka yang tak paham, telah terkotori oleh cara berpikir rasional-empirik yang salah kaprah, cara berpikir golongan yang bersumber dari nafsu, dan cara pandang pada ajaran yang sangat kering dari spiritulitas dan menyepelekan sejarah, tidak menghargai Rasulullah, sahabat, ulama, wali, guru, nenek moyang dan para orangtua.

25. Aku berselawat Nabi agar Allah mau mengajarkan ilmu batin langsung kepadaku, melalui pancaran cahaya –Nya yang diberikan ke arah batinku, melalui hembusan nafasku saat mengucapkan selawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

26. Aku berselawat Nabi agar karena, aku merasa Rasulullah adalah satu-satunya manusia yang diutus Allah kepadaku, kaumku, bangsaku dan duniaku. Aku tak pernah merasa dikecewakan oleh baginda Rasul, meski baginda telah kembali, tapi aku masih bisa merasakan kehadirannya di setiap shalat dan dzkirku.

27. Aku berselawat Nabi, karena kalimat inilah yang pertama kali diajarkan oleh orangtuaku, saat aku dinina-bobokan, ditamang-timang, dibelai dan dimanja.

28. Aku berselawat Nabi, karena kalimat inilah yang dijarkan guruku saat menyelamatkan aku dari sakit selama berbulan-bulan. Selawat inilah yang menyadarkan aku tentang makna doa dan munajat kepada Allah, sebagai satu-satu Dzat yang disembah dan dimintai pertolongan.

29. Aku berselawat Nabi, karena kalimat ini yang dibisikan nenekku, ketika aku jatuh dari pohon belimbing di belakang rumah.

30. Aku berselawat Nabi, karena ini urusan pribadiku, antara aku, nabiku dan Tuhanku. Aku tak membutuhkan pemaksaan logikamu, sebab ini sangat pribadi buatku.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Rahasia Al-Fatiha



Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatu.

250076_209117142461714_2637519_nBismillahirrahmanirrahim

Allahumma Shalli aala Sayyidinaa Muhammad wa aala Aali Sayyidinaa Muhammad saww

“RAHASIA AL-FATIHA”
 
Alhamdu = Anggota Tubuh kita
Lilallahi = Nyawa pada kita
Rabbil =  Roh pada kita
Alamin = Otak pada kita
Ar-Rahman = Bapak kita
Ar-Rahim = Ibu kita
Maliki Yaumidin = Jantung pada kita
Iyyakana’budu wa iyyaka nasta’iin = Tangan di dada
Ihdinaas shiraathal mustaqiim = Tulang belakang  kita
Shiraathalladzina an’amta alaihim = Hati pada kita
ghairil magh dhubi alaihim = Hati kura pada kita
waladh dhaallin = Empedu pada kita
Aamiiin = Rahasia diri kita

“MAKSUD AYAT-AYAT DALAM AL-FATIHAH”

BISMILLAHIRAH MANIRRAHIM = Ya Muhammad, Aku mengatakan RahasiaKu kepada Engkau.
ALHAMDULILLAH = Ya Muhammad, Aku memuji DiriKu
RABBIL’ALAMIN = Ya Muhammad, pekerjaan Dzahir batin itu Aku jua…
ARRAHMAANIR RAHIM = Ya Muhammad, yang membaca itu Aku jua memuji diriKu.
MALIKIYAU MIDDIN = Ya Muhammad, Engkau adalah ganti kerajaanKu
IYYA KA’NA BUDU = Ya Muhammad, tiada lain Aku kepada Engkau.
WAIYYA KANAS TA’IN = Ya Muhammad, tiada lain engkau dari padaKu.
IHDINAS SIRARTAL MUSTAQIM = Ya Muhammad, tiada yang tahu melainkan Engkau juga yang mengetahui.
SIRATAL LAZI NA AN’AM TA’ALAIHIM = Ya Muhammad, sesungguhnya sekalian yang ada ini karenaKu dan KekasihKu.
GHAIRIL MAGDU BI’ALAIHIM = Ya Muhammad, tiada lupa Aku maka umatku sekalian Aku katakana RahasiaKu.
WALAD DOOOLLLIN = Ya Muhammad, jikalau tiada kasih Aku, maka tiada Engkau dan tiada pula RahasiaKu.
AAMIIIIN = Ya Muhammad, kamu adalah RahasiaKu.
.
.
“MA’NA RAHASIA “NUR” DARI AL-FATIHAH”

 BISMILLAHIRAH MANIRRAHIM = Nur Muhammad3e-1
ALHAMDULILLAH HIRABBIL’ALAMIN = Kepada Nabi Adam
ARRAHMAANIR RAHIM = Kepada Nabi Daud
MALIKIYAU MIDDIN = Kepada Nabi Sulaiman
IYYA KA’NA BUDU WAIYYA KANAS TA’IN = Kepada Nabi Ibrahim
IHDINAS SIRARTAL MUSTAQIM = Kepada Nabi Yakub
SIRATAL LAZI NA = Kepada Nabi Yusuf
AN’AM TA’ALAIHIM = Kepada Nabi Musa
GHAIRIL MAGDU BI’ALAIHIM = Kepada Nabi Isa
WALAD DOOOLLLIN = Kepada Nabi Muhammad SAW.
 AAMIIIN = Dia yang buka Dia juga yang tutup semua terhimpun dalam Nur Muhammad jua…

“ RAHASIA A L H A M D U “
ﺍ  = Hakekat niat = Subuh = Syahadat = Rahasia = Nabi Adam = Innashalati = Qulhuawallahu ahad.
ﻞ = Hakekat berdiri = Dzohor = Sholat = Dzat = Nabi Ibrahim = Wanusuki = Allahussamad.
ﺡ = Hakekat ruku = Ashar = Puasa = Sifat = Nabi Nuh = Wamahyaaya = Lamyalid walamyuulad.
ﻡ = Hakekat sujud = Magrib = Zakat = Asma = Nabi Musa = Wamamaati = Walamyaqullahu.
ﺪ = Hakekat duduk antara dua sujud = Isa = Haji =Af’al = Nabi Isa = lillahi rabbil alamin = Qufuan ahad.

ALHAMDU = Nur Muhammad = Sumber segala kejadian Alam ini
.
Telah diisyaratkan dalam Al-Quran dengan kata “Nurun ala Nurin” = Nur yang hidup dan menghidupkan
(Maksudnya : Nur yang di Agungkan dan dibesarkan di Alam semesta ini, yang hidup dan maujud pada tiap-tiap yang hidup dan yang ujud di Alam semesta)
Inilah Kebesaran Hakekat Muhammad yang sebenar-benarnya, yang dipuji dengan kalimah “ALHAMDU”
.
.“ALHAMDU = Kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD”
.
Tajjalinya dalam diri yang Batin adalah :
.
ﺍ (Alif) = Al Haq = Ke-Esa-an = Kebesaran Nur Muhammad, tajjalinya = Roh bagi kita.
ﻞ (Lam) = Latifun = Kesempurnaan Nur Muhammad, tajallinya = Nafas bagi kita,
ﺡ (Ha) =  Hamidun = Kesempurnaan Berkat Nur Muhammad, tajallinya =  Hati, Akal, Nafsu Penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa bagi kita.
ﻡ  (Mim) = Majidun = Kesempurnaan Safa’at Nur Muhammad, tajallinya = Iman, Islam, Ilmu, Hikma bagi kta.
ﺪ  (Dal) = Darussalam = Kesempurnaan Nikmat Nur Muhammad, tajallinya = Kulit, Bulu, Daging, Urat, Tulang, Otak, Sumsum bagi kita.
.
Tajallinya pada diri yang Dzahir adalah :
.
 ﺍ  (Alif) = kepala bagi kita,
ﻞ   (Lam) = dua tangan bagi kita,
ﺡ  (Ha) = badan bagi kita,
ﻡ   (Mim) = pinggang bagi kita
ﺪ   (Dal) = dua kaki bagi kita.
.
.Yang di-Esa-kan dengan ASYAHADU = ALHAMDU  yaitu :
.
 ﺍ  (Alif) = Al-Haq = Yang di-Esa-kan dan yang dibesarkan di sekalian Alam semesta.
ﺶ (Syin) = Syuhudul Haq = Yang diakui bersifat Ketuhanan dengan sebenar benarnya.
ﺡ (Ha) = Hadiyan Muhdiyan ilal Haq = Yang menjadi petunjuk  kepada jalan/Agama yang Haq.
ﺪ  (Dal) = Daiyan ilal Haq = Yang selalu memberi Peringatan kepada jalan/Agama yang Haq.
.
.ALHAMDU =  “Alhayyaatu Muhammadu” = kesempurnaan tajjalli Nur Muhammad.
.
Bahwa :
ADAM = Nama Syariat = Nama Hakekat = Nama kebesaran bagi kesempurnaan tajjali Nur Muhammad,
MUHAMMAD =  Nama ke-Esa-an yang menghimpun nama Adam + nama Allah
.
Bahwa :
(Adam daminnya ‘Hu’) = (Muhammad daminnya ‘Hu’) = (Allah daminnya ‘Hu’)
Sedangkan, ‘Hu’ makna Syariat = Dia seorang laki-laki
 ‘Hu’ makna Hakekat = Esa = Tiada terbilang-bilang
.
Isyarat ‘Hu’ dalam Al-Quran :
“Huwal hayyun qayyum” = yang hayyun awal, dan tidak ada permulaannya.
“Huwal aliyyil adzim” = yang bersifat dengan sifat-sifat kesempurnaan lagi maha besar.
“Huwal rahmanur rahim”  = yang bersifat rahman dan rahim.
“Huwal rabbul arsyil karim” = yang memiliki Arasy yang maha mulia,
(ARASY =  Nama kemuliaan diri Nabi kita yang sebenar benarnya = Nama majazi bagi sesuatu tempat = Suatu alam gaib yang dimuliakan)  
.
Bahwa :
Yang bernama ABDULLAH itu adalah Nabi kita yang bernama MUHAMMAD itu sendiri.
Abdullah = Muhamad = Penghulu sekalian Alam
.
Semuanya nama-nama yang mulia, dilangit dan dibumi itu adalah nama-nama kemuliaan dan kesempurnaan dari tajalli NUR MUHAMMAD itu sendiri, dan menjadi nama majazi pada tiap tiap wujud yang dimuliakan pada alam ini.
.
IsyaratNya dalam Al Qur’an :
“Wahuallazi lahu fiisamaawati wafil ardhi illahu”
“Dan Dialah yang sebenar benarnya memiliki sifat sifat Ketuhanan yakni sifat kesempurnaan yang ada dilangit dan sifat kesempurnaan yang ada di bumi”
.
“Lahul Asma’ul Husna”
“Hanyalah Dia yang sebenar benarnya memiliki nama nama yang mulia dan yang terpuji yang telah maujud pada semesta alam ini”.
.
Bahwa :
“Hakekat kebesaran Nur Muhammad itu meng-himpun-kan 4 jenis alam, yaitu :
1. Alam HASUT = Alam yang terhampar di langit dan bumi dan segala isinya.
(Maksudnya : Hasut pada diri kita = Anggota jasad, Kulit, Daging, Otak, Sumsum, Urat, Tulang)
2. Alam MALAKUT = Alam gaib bagi malaikat-malaikat
(Maksudnya : Malakut pada diri kita =  Hati, Akal, Nafas, Nafsu, Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Perasa dan sebagainya)
3. Alam JABARUT = Alam gaib bagi Arasy, Kursi, Lauhul Mahfudz, Surga, Neraka
(Maksudnya : Jabarut pada diri kita = Roh, Ilmu, Hikmah, Fadilat, Hasanah yaitu segala sifat yang mulia dan terpuji)
4. Alam LAHUT = Alam gaibul gaib kebesaran Nur Muhammad
(Maksudnya : Lahut pada diri kita = Batin tempat Rahasia, Iman, Islam, Tauhid dan Makrifat)
.
(Maksudnya lagi : 4 Alam diatas = Wujud kesempurnaan tajalli Nur Muhammad = terhimpun kepada kebenaran wujud diri Rasulullah yang bernama Insanul Kamil)
.
.Hal ini menjadi berkah dan “Faidurrabbani” yakni kelebihan bagi tiap tiap mukmin yang ahli tahkik, bahwa mereka itu adalah “Wada syatul Ambiya” yakni mewarisi kebenaran batin nabi nabi dan rasul rasul dan mukmin yang tahkik itulah yang dinamakan Aulia Allah, namun kebanyakan mukmin itu tidak mengetahui bahwa dirinya adalah Aulia yang sebenarnya.
.
Bahwa :
Muhammad itu ada dua rupa atau dua makna :
1. Muhammad yang bermakna Qadim Azali = diri Muhammad yang pertama, yang tidak kenal mati selama lamanya.
(Maksudnya :  Muhammad diri yang pertama = yang awal Nafas + yang akhir Salbiah + yang dzahir Ma’ani + yang batin Ma’nawiyah)
2. Muhammad yang bermakna Muhammad Bin Abdullah = Insanul Kamil yang mengenal mati.
(Maksudnya : Muhammad diri yang kedua = yang  bersifat manusia biasa, yang berlaku padanya “Sunnatu Insaniah” yaitu “Kullu nafsin zaikatul maut” namun jasad Nabi kita adalak Qadim Idhofi = tiada rusak, selama-lamanya di kandung bumi)
“Innallaha azza wajalla harrama alal ardhi aiya kulla azsadal ambiya”
“Bahwasanya Allah Ta’ala yang maha tinggi telah mengharamkan akan bumi menghancurkan jasad para nabi nabi”
.
Ingat hal dibawah ini baik-baik :
.
Agar pemahaman ini tidak sama seperti pemahaman yang ada pada paham-paham yang lain diluar ini, maka perlu kita tetapkan dahulu paham kita sebagai berikut :
.
1. Bahwa Nabi kita Muhammad, yang Muhammad itu adalah manusia biasa
seperti kita, hanyalah dilebihkan Ia dengan derajat ke-Rasul-an.

.
2. Bahwa tiap-tiap manusia itu sendiri, baik pada hukum aqli maupun hukum naqli, mempunyai dua macam diri yakni Diri pertama = Diri Hakiki = Rohani, dan Diri kedua = Diri Majazi = Jasmani, Dan diri yang kedua atau diri jasmani itulah kemuliaan bagi Rasulullah maka dinamakan Insanul Kamil.
.
3. Bahwa diri Hakiki yang bermakna Rohani itulah yang bernama Muhammad. Dialah yang Qadim Azali, Qadim Izzati, Qadim Hakiki, itulah makna yang dirahasiakan yang menjadi ke-Esa-an segala sifat kesempurnaan yang 99.
Jalannya kebesaran wujud Roh Nabi kita itulah yang diisyaratkan oleh kalimah “Huallah” jadi makna Muhammad itu Tahkiknya adalah “Ainul Hayyat” yakni wujud sifat yang hidup dan yang menghidupkan.
Maka itu juga yang diisyaratkan dengan kalimah “Laa illaha illallah” dan yang dibesarkan dengan kalimah “Allahu Akbar” dan yang dipuji dengan kalimah “Subbhanallah walhamdulillah” dan sebagainya lagi.
Itu juga yang dipuji dengan “ALHAQ QULHAQ” oleh seluruh malaikat-malaikat Mukarrabin.
.
4. Bahwa diri Majazi yang bermakna Jasmani itulah yang bernama Insanul Kamil.
Muhammad majazi =  Muhammad yang kedua yang menempuh Al-Maut namun jasad Nabi itu adalah Qadim Idhofi.
Jasad Nabi kita itulah diisyaratkan oleh ayat Al-Quran “Barakallahu fii wujudil karim” = “Maha sempurnalah sifat Allah pada kedzahiran wujud yang sebaik baik rupa kejadian itu”.
Hadist Qudsi =  “ Dzahiru Rabbi wal batinu abdi” =  Kedzahiran sifat kesempurnaan Allah itu adalah maujud pada hakekat kesempurnaan seorang hamba yang bernama Muhammad Rasulullah itu. = maujud dengan rupa Insanul Kamil,
maka rupa wujud Insanul Kamil itulah yang diisyaratkan oleh Al-Quran dengan “Amfusakum” = “Wujud Diri Kamu Sendiri”.
“Wafi amfusakum afalaa tubsirun” =  “Dan yang diri kami berupa wujud insan itu apakah tidak kamu pikirkan”. = yang menjadi diri hakiki atau diri pertama pada insan itu.
.
Pada hakekatnya “diri kedua” adalah kebenaran dan kesempurnaan Roh Nabi kita yang bernama Muhammad itu semata mata,
(Maksudnya : Diri kedua = Insan yang kedua = Rupa Muhammad yang nyata = yang Nasut = Kebenaran Roh Nabi kita yang bernama Muhammad yang diisyaratkan oleh Al-Quran)
“ALLAHU NURUSSMA WATIWAL ARDHI”  = Kebenaran Nur Allah itu ialah Maujud di langit dan dibumi. 
“NURUN ‘ALA NURIN” = Nur yang hidup dan yang menghidupkan atas tiap tiap wujud yang hidup pada alam ini,
.
Isyarat perkataan 4  sahabat Rasulullah :
.
Imam Ali as

Ali bin Abi Talib a.s : 
ﻮﻤﺎﺮﺍﻴﺕ ﺷﻴﺎﺀﺍﻶ ﻮﺮﺍﻴﺕ ﺍﷲ ﻓﻴﻪ
(Tidak Aku lihat pada wujud sesuatu hanyalah aku lihat kebesaran Allah Ta’ala semata-mataMAUJUD PADANYA).
.
Abu Bakar Siddik .
ﻮﻤﺎﺮﺍﻳﺖ ﺷﻳﺎﺀﺍﻶ ﻮﺮﺍﻳﺖﺍﷲ
(Tidak aku lihat pada wujud sesuatu dan hanyalah aku lihat kebenaran Allah semata mataDAHULUNYA)
.
Umar bin Khattab :
“Maa ra’aitu syaian illa wara’aitullahu ma’ahu”
(Tidak aku lihat pada wujud sesuatu dan hanyalah aku lihat kebenaran Allah Ta’ala semata-mata KEMUDIANNYA)
.
Usman bin Affan :
ﻮﻤﺎﺮﺍﻴﺕ ﺘﺒﻳﺎ ﺍﻶ ﻮﺮﺍﻴﺕ ﺍﷲ ﻤﻌﻪ
(Tidak aku lihat pada wujud sesuatuhanyalah aku lihat kebesaran Allah Ta’ala semata-mataBESERTANYA)

……………..  Itulah isyarat-isyarat ayat Al Qur’an ……..
.
“Wakulli hamdulillah sayurikum aayaatihi faakhiru naha”
“Dan ucapkanlah puji bagi Allah karena sangat nampak bagi kamu pada wujud diri kami itu sendiri, akan tanda tanda kebesaran Allah Ta’ala, supaya kamu dapat mengenalnya”
.
Sabda Nabi Muhammad saww :
“Mamtalabal maula bikhairi nafsihi fakaddalla dalalam baida”
”Barang siapa mengenal Allah Ta’ala diluar dari pada mengenal hakikat dirinya sendiri., maka sesungguhnya adalah ia sesat yang bersangat sesat. 
Karena hakekat diri yang sebenarnya, baik rohani dan jasmani tidak lain adalah wujud kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD itu semata-mata.
Maka apa-apa nama segala yang maujud pada alam ini, baik pada alam yang nyata dan alam yang gaib adalah semuanya nama majazi bagi kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD.
.
.Adapun makna Syahadat itu adalah :
.
“ASYHADUALLA ILAHA ILLALLAH”
Naik saksi aku bahwasanya Rohku dan Jasadku tidak lain, melainkan wujud kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD semata-mata.
.
“WA ASYHADUANNA MUHAMMADARRASULULLAH”
Dan naik saksi Aku bahwa hanya MUHAMMAD RASULULLAH itu tiada lain, melainkan wujud kebenaran tajalli NUR MUHAMMAD yang sebenar benarnya.
.
Maka kesempurnaan Musyahadah, Murakabah, dan Musyafahah, yakni ke-Esa-an pada diri yaitu pada keluar masuknya Nafas..
.
Tidak ada lagi “LAA”
Tetapi hanya “ILLAHA”
Tidak lain Nafsi ”ILLAHU”
Melainkan wujud kebesaran NUR MUHAMMAD semata mata.

Billah 
Wallahu’alam
Wa-Baarakallaahu Fiikum jamii’an
Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu

  Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa’ala ali Muhammadin kamasollaita’ala Ibrahim.
Wabarik’ala Muhammadin wa’ala ali Muhammadin kamabarakta’ala Ibrahima fil’alamin.
innaka hamidunmajid
Aamiin Ya Karim
Aamiin Ya Wahhab..Aamiin Ya “Alimun
Categories: Uncategorized | Tags: | Leave a comment

SUCIKAN MAKSUD DAN TUJUAN


11262469_362663340593327_725390208314500631_n
“BARANGSIAPA YANG HIJRAHNYA KEPADA ALLAH DAN RASUL MAKA HIJRAHNYA ADALAH KEPADA ALLAH DAN RASUL. BARANGSIAPA YANG HIJRAHNYA KEPADA DUNIA UNTUK MENDAPATKANNYA ATAU WANITA UNTUK MENGAHWININYA, MAKA HIJRAHNYA TERHENTI PADA TUJUAN HIJRAHNYA ITU”.
FAHAMILAH SABDA RASULULLAH SAW TERSEBUT DAN PERHATIKAN PERSOALANNYA JIKA KAMU BOLEH MEMAHAMINYA. DAN, SELAMATLAH ATAS KAMU.Hikmat ini adalah lanjutan kepada Kalam Hikmat yang lalu. Keluar dari satu hal kepada hal yang lain adalah hijrah juga namanya. Apa yang didapati dari hijrah ialah apa yang dituju atau dimaksudkan dengan hijrah itu. Orang yang keluar dari penjara hawa nafsu dan dunia kerana inginkan syurga, maka pencariannya akan terhenti pada syurga. Orang yang keluar dari penjara akhirat kerana menginginkan kekeramatan akan berhenti bila berjaya memperolehi kekeramatan. Orang yang keluar dari semua penjara alam kerana bermaksud mencapai Ilmu Allah akan berhenti pada ilmu. Orang yang keluar dari kurungan ilmu kerana mahu mendapatkan makrifat akan berhenti pada makrifat. Semua maksud dan tujuan yang telah dinyatakan tadi menghalang seseorang dari masuk ke Hadrat Allah s.w.t. Hanya satu sahaja tujuan yang benar-benar suci lagi murni, iaitu berhijrah kepada Allah s.w.t dan Rasul-Nya. Rasulullah s.a.w menyebutkan berhijrah kepada Allah s.w.t dan Rasul-Nya, bukan berhijrah kepada Allah s.w.t semata-mata. Hijrah zahir adalah berpindah dari Makkah pergi ke Madinah. Hijrah hati adalah meninggalkan sifat-sifat yang keji dan pergi kepada sifat-sifat yang terpuji. Hijrah rohani adalah meninggalkan segala yang maujud dan pergi kepada Rasul Allah kerana hanya Rasul Allah yang boleh membimbing kepada Allah s.w.t, sesuai dengan penyaksian:
Tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad Rasul Allah. Ketuhanan Allah s.w.t dan kerasulan Muhammad s.a.w tidak dipisahkan. Rasul Allah adalah umpama jambatan yang menghubungkan segala sesuatu dengan Allah s.w.t. Bagaimana mahu sampai kepada Allah s.w.t jika tidak melalui jambatan-Nya. Apa juga usaha dan jalan yang diambil untuk pergi kepada Allah s.w.t, tidak akan berhasil jika tidak diikuti jalan Rasul Allah. Bahkan bolehlah dikatakan Allah s.w.t tidak mungkin ditemui jika Rasul-Nya tidak ditemui. Muhammad s.a.w adalah Rasul Allah. Semua nabi-nabi sejak Nabi Adam a.s menyaksikan bahawa Muhammad s.a.w adalah Rasul Allah. Tidak ada kenabian tanpa nur Kenabian Muhammad s.a.w. Tiada syuhud (penyaksian)  tanpa syuhud terhadap nur Kebenaran Muhammad s.a.w. Tidak akan sampai kepada Hakikat Allah s.w.t tanpa fana di dalam Hakikat Muhammad s.a.w. Tiada makrifatullah tanpa makrifat Muhammad s.a.w. Begitulah hukum hakikat dan makrifat. Penyaksian ketuhanan Allah s.w.t dan penyaksian kerasulan Muhammad s.a.w tidak boleh bercerai tanggal.

 Allah berfirman dalam Hadis Qudsi yang bermaksud:
Wahai Muhammad! Kamu melihat mereka melihat kamu, dan meskipun mereka melihat kamu namun, mereka tidak mengenal kepada kamu.

 images (39)
Orang yang paling hampir dengan Rasulullah s.a.w adalah Sayyidina Ali as. Beliau berkata: “Wahai Rasulullah. Engkau tidak terpisah daripadaku meskipun sesaat.

Kelebihan Sayyidina Ali as dari sekalian manusia adalah lantaran Sir yang ada pada dirinya. Sir (Rahsia) adalah perkaitan atau jambatan antara  roh dengan Allah s.w.t. Sir yang tersembunyi dalam rahsia hati berkekuatan melebihi kekuatan langit dan bumi. Sir dapat memandang tanpa biji mata dan mendengar tanpa telinga. Sir tidak menetap di satu tempat dan tidak pula mengembara. Sir tidak makan dan tidak minum. Akal tidak ada pengetahuan tentang Sir. Sir tidak ada hubungan dengan hukum sebab musabab. Sir hidup dalam abad demi abad, sedangkan jasad hidup dalam waktu tertentu. Bila seseorang yakin tentang sirnya maka dia bukan lagi dirinya. Dia adalah daripada Allah s.w.t, sedangkan sekalian yang maujud datang kemudian daripadanya. Tidak ada satu pun yang datang kemudian daripadanya dapat mengalahkannya, asalkan dia mengenal kedudukannya dan membiasakan duduk di dalam makamnya, maka dengan demikian dia lebih kuat dari  bumi dan langit, lebih kuat dari syurga dan neraka, lebih kuat dari huruf dan asma’, lebih kuat dari apa yang nyata di dalam dunia dan akhirat. Bagaimana hubungan hati seseorang dengan Rasulullah s.a.w menentukan kedudukan sirnya. Hati yang menerima pancaran cahaya nur Rasulullah s.a.w dikatakan hati yang ada perkaitan dengan Sir.

Hijrah rohani melalui berbagai-bagai peringkat sebelum sampai kepada Allah s.w.t. Seseorang salik atau murid yang melakukan hijrah rohani kepada Allah s.w.t tidak akan berhasil mencapai maksudnya jika dia tidak ‘bersama’ Muhammad s.a.w kerana semua pintu langit, semua pintu syurga, semua pintu hijab dan pintu masuk ke Hadrat Allah s.w.t hanya dibuka kepada Muhammad s.a.w dan yang menyertai Muhammad s.a.w. Berhijrah kepada Allah s.w.t tetapi lari dari Muhammad s.a.w adalah kejahilan.

Salik yang benar pada hijrahnya, mula-mula dikurniakan cahaya yang menerangi hatinya, membuatnya merasakan hampir dengan Allah s.w.t, dan hatinya merasakan Allah s.w.t berbicara dengannya. Apa sahaja yang sampai kepada hatinya adalah juru bicara Allah s.w.t. Kemudian dia dibawa kepada makam makrifat iaitu saling kenal mengenal. Jadilah dia seorang yang mengenal Allah s.w.t. Makam ini adalah permulaan makam kesudahan. Ahli tasauf sering mengucapkan:


Permulaan agama ialah mengenal Allah s.w.t.Hijrah bersama-sama Rasulullah s.a.w meletakkan makrifat sebagai permulaan, sedangkan hijrah tanpa Rasulullah s.a.w menjadikan makrifat sebagai kesudahan jalan. Sebab itu orang yang berhijrah tanpa Rasulullah s.a.w, setelah memperolehi makrifat mereka beragama dengan cara lain dari cara Rasulullah s.a.w beragama. Mereka tidak lagi berpegang kepada Sunah Rasulullah s.a.w. Sebenarnya mereka baharu berada di ambang pintu agama, belum lagi masuk ke dalam gerbang agama yang benar, yang di bawa oleh Rasulullah s.a.w.

 Setelah mencapai makrifat, orang arif menanggalkan segala-galanya. Dia tidak lagi bersandar kepada amal, ilmu, makrifat, aulia yang agung, malaikat dan semua yang selain Allah s.w.t. Dia mengikhlaskan hati pada semua perbuatannya dan niatnya hanya tertuju kepada Allah s.w.t. Dia membenamkan dirinya ke dalam sabar menghadapi apa juga ujian dan fitnah. Kuatlah dia berserah diri dan tawakal kepada Allah s.w.t. Kemudian dia naik kepada reda dengan segala hukum dan takdir Allah s.w.t. Seterusnya dia masuk ke dalam makam syuhud, iaitu menyaksikan-Nya dengan mata hati. Masuklah dia ke dalam makam keteguhan. Pada peringkat ini dia sudah melepasi makam kalbu, kerana kalbu adalah keadaan yang berbalik-balik, berubah-ubah, tidak tetap dan tidak teguh. Bila dia sudah berada dalam keteguhan maka dihulurkan kepadanya perjanjian kewalian. Kewalian bukanlah kekeramatan. Sikap menghubungkan kewalian dengan kekeramatan adalah kesilapan yang besar. Sikap beginilah yang membuat orang tertipu dengan keramat khadam dan jin. Ada pula yang tertipu dengan sihir yang dilakukan oleh syaitan.

feast of the epiphany

Kewalian sebenarnya menggambarkan tentang nama Allah s.w.t, al-Waliyyu, yang bermaksud Yang Menjaga, Yang Melindungi dan Yang Memelihara. Orang yang dijadikan-Nya wali adalah orang yang dibawa masuk ke dalam wilayah-Nya atau penjagaan, perlindungan dan pemeliharaan-Nya, dari berbalik mata hatinya kepada selain Allah s.w.t. Seorang wali ialah orang yang tetap penglihatan mata hatinya kepada Allah s.w.t walau dia di dalam kesibukan sekalipun. Semua sahabat Rasulullah s.a.w adalah wali-wali tetapi jarang kedengaran mereka mempamerkan kekeramatan. Rasulullah s.a.w sendiri bersama-sama sahabat, Abu Bakar as-Siddik, berhijrah dari Makkah ke Madinah dengan berjalan kaki dan menaiki unta, bukan terbang di udara dan sampai di Madinah dalam sekelip mata. Aulia Allah yang agung mengatakan kekeramatan adalah permainan kanak-kanak yang diperlukan seseorang untuk meneguhkan iman, sedangkan orang yang sudah teguh imannya tidak memerlukan kepada keramat. Seorang wali Allah s.w.t mengatakan orang yang keramat bukanlah orang yang dapat mengeluarkan wang dari poketnya yang kosong atau menukar daun kayu menjadi wang kertas. Seorang yang keramat ialah orang yang poketnya penuh dengan wang, tetapi bila dia cuba mengambil wang di dalam poketnya itu didapatinya semua wang itu tidak ada, walaupun begitu hatinya tidak berkocak sedikit pun oleh hal tersebut, dia tidak berasa apa-apa. Jadi, kewalian adalah istiqamah iaitu keteguhan bersama-sama Allah s.w.t, bukan kekeramatan. Andainya Allah s.w.t melahirkan kekeramatan melalui wali-Nya itu adalah kerana hikmah yang Dia sendiri mengaturnya kerana tujuan yang hanya Dia mengetahuinya.

 Orang yang berada di dalam wilayah-Nya akan dibawa pula kepada makam pilihan. Setelah dipilih-Nya diserahkan amanat dan disingkapkan kepadanya khazanah Rahsia-rahsia-Nya. Orang yang berada pada peringkat ini sudah dapat menyimpan Rahsia-rahsia Allah s.w.t, tidak membeberkannya sebagai barang murahan yang boleh menyebabkan berlaku fitnah kepada orang ramai. Setelah itu semua dilalui, jadilah dia seorang khalil atau sahabat setia. Seorang khalil dapat mencapai makam al-mahabbah (makam cinta). Makam cinta ini dinamakan makam as-Sir iaitu makam Hakikat Muhammad s.a.w. Kefanaan di dalam makam Mahabbah ini membakar segala tutupan dan hijab lalu tersingkaplah kemutlakan. Lalu si hamba masuk ke Hadrat Allah s.w.t dengan didorong oleh tarikan yang kuat oleh cahaya nur yang pada sisi-Nya. Selamatlah si hamba itu sampai ke Hadrat Tuhannya. Allah s.w.t yang memulakan ciptaan-Nya dan mengulanginya. Permulaan segala sesuatu ialah Allah s.w.t dan akhirnya juga adalah Allah s.w.t. Dia Yang Awal dan Yang Akhir. Kami datang dari Allah s.w.t dan kepada Allah s.w.t kami kembali.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Mengapa nama para Imam Maksum As tidak dicantumkan secara jelas dalam Al-Qur’an?


Perlu diketahui bahwa kendati nama para Imam Maksum As tidak disebutkan secara jelas dan tegas dalam Al-Qur’an, namun dalam sabda-sabda Nabi Saw disebutkan secara jelas nama para Imam Maksum As, khususnya nama Imam Ali As yang merupakan proyeksi jelas dari hadis al Ghadir dan sebagai pengumuman resmi akan kekhalifahannya. Hadis al Ghadir, dari aspek sanadnya termasuk hadis yang mutawatir dan dari sisi dilâlah-nya (petunjuknya) merupakan bukti-bukti jelas akan imâmah Imam Ali As.

Terlepas dari hal ini, dalam Al-Qur’an juga terdapat ayat-ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali As dimana yang paling penting di antaranya adalah surat al-Maidah ayat 55 yang artinya:”Sesungguhnya wali kalian adalah hanya Allah Swt dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat serta memberikan zakat dalam keadaan ruku’”. Dalam kitab-kitab tafsir, sejarah dan riwayat-riwayat, baik Syi’ah ataupun Sunni, disebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Imam Ali As yang sedang ruku’ sambil menginfakkan cincinnya dan bukti luarnya itu tidak ada yang lain kecuali Imam Ali As, oleh itu meskiAl-Qur’an tidak menyebutkan secara transparan nama Imam Ali As, namun ia telah menunjukkan hal itu secara jelas.

Namun bahwa mengapa nama Imam Ali itu tidak disebutkan secara terbuka? Minimal ada dua jawaban yang dapat disuguhkan di sini. Pertama: Secara mendasar, Al-Qur’an itu (diturunkan) untuk menjelaskan seluruh permasalahan itu secara universal, dengan bentuk kaidah dan pokok, bukan menjelaskan secara rinci dan detil seluruh permasalahan. Dan demikianlah yang berlaku pada beberapa teori-teori Al-Qur’an. Terkait hal ini, ketika Imam Shadiq As ditanya: Mengapa nama para Imam As tidak disebutkan secara terbuka dalam Al-Qur’an, beliau menjawab: sebagaimana halnya Allah Swt menurunkan perintah shalat, zakat, haji secara universal tanpa menjelaskan perinciannya, bahkan Rasulullah Saw sendiri yang menjelaskan dan menerangkan cara pelaksanaan dan rincian hukum-hukumnya. Demikian pula dengan masalah wilâyah, Rasulullah Saw sendiri yang menjelaskan serta memaparkan ihwal kekhalifahan Imam Ali As dan Ahlulbait As tanpa perlu disebutkan nama para Imam Maksum As satu per satu dalam Al-Qur’an. Kedua:Pada masalah seperti ini, karena diprediksikan  banyak orang yang akan menentang, maka jalan terbaik dan maslahat adalah Al-Qur’an menjelaskan hal ini secara tidak transparan dan cukup dengan isyarah dan kinâyah (kiasan) saja, lantaran kemungkinan penentangan atas masalah keimamahan para Imam Maksum As bisa melebar sampai kepada menentang Al-Qur’an itu sendiri dan juga prinsip serta pokok agama, yang tentu saja hal ini akan sangat berbahaya bagi umat Islam secara keseluruhan; artinya betapa banyak orang-orang yang menentang wilâyah Imam Ali As yang karena penentangan itu –jika ada ayat yang secara transparan dan terbuka menjelaskan ihwal wilâyah beliau As– mereka berani dan nekad merubah dan membelokkan ataupun menghapus ayat tersebut, dan ketika itu nilai Islam sebagai agama penutup dan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang abadi akan dicemooh dan dihina.

Selain itu, perlu dicamkan baik-baik bahwa kalau Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: ”Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan kami pulalah yang akan menjaganya”. Salah satu cara menjaga Al-Qur’an adalah memberantas seluruh motivasi-motivasi untuk menentang dan distorsi tersebut secara alami. Dengan demikian dalam Al-Qur’an, pertama: tidak dijelaskan secara transparan ihwal wilâyat dan juga tidak disebutkan dengan jelas nama beliau (Ali As), kedua: ayat-ayat yang ada kaitannya dengan wilâyat Imam Ali As dan ayat tabligh yang merupakan ayat yang mengumumkan langsung secara resmi atas wilâyah dan khilâfah Imam Ali As dan juga ayat tathir yang mengandung kemaksuman (terhindar dari segala bentuk dosa) Ahlulbait As, yang terletak di antara ayat-ayat yang lahir tidak punya relasi sama sekali dengan bahasan yang ada, sehingga semaksimal mungkin dapat mengatasi adanya keinginan dan motivasi untuk mengganti dan merubah (Al-Qur’an) dan karena itu sepanjang sejarah, Al-Qur’an selalu terjaga dan terpelihara dari segala macam distorsi.

Terlebih dahulu ada poin penting yang perlu kita camkan baik-baik. Pertama: nama para Imam Maksum As secara jelas disebutkan dalam sabda-sabda Nabi Saw, khususnya nama mulia Imam Ali As yang telah dijelaskan Rasulullah Saw ihwal wilâyat dan khilâfahImam Ali As, salah satu di antaranya adalah pada awal pengangkatan Rasulullah Saw menjadi nabi, ketika beliau Saw menyampaikan risalahnya kepada keluarga, kaum dan sanak famili, Rasulullah Saw bersabda:Orang yang paling pertama beriman kepadaku,maka ia akan menjadi wali, wazir dan penggantiku”, dan tidak ada satu orang pun yang menyambut kecuali Imam Ali As dan pada akhirnya Rasulullah Saw bersabda pada Imam Ali As: “Setelahku,  engkaulah yang akan menjadi washi, wazir dan khalifah”.[1] Riwayat lain adalah “hadis al Ghadir” yang dijelaskan Nabi Saw secara terang-terangan:”Man kuntu maulaahu fa ‘aliyyun maulaahu” (Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Ali As menjadi pemimpin baginya).[2] Dan juga hadis “manzilah” dimana Rasulullah Saw bersabda kepada Imam Ali As:” Engkau (wahai Ali As) bagiku (Nabi Saw) laksana Nabi Harun As bagi Nabi Musa As, kecuali bahwa tidak ada nabi setelahku”.[3]

Hadis-hadis Nabi Saw tentang khilafah dan kepemimpinan Imam Ali As itu kebanyakannya adalah mutawatir dan hal ini telah banyak diisyarahkan dalam banyak kitab, baik dari pihak Syiah atau pun Sunni.[4] Dalam hadis lain, Rasulullah Saw menyebutkan dan menjelaskan semua nama para Imam Maksum As dari Imam Ali As sampai Imam Zaman kepada Jabir bin Abdullah al Anshari.[5]

Jadi poin yang harus diperhatikan di sini adalah bahwa kendati nama para Imam Maksum As tidak disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an. Akan tetapi Nabi Saw, yang menurut Al-Qur’an seluruh ucapannya adalah hak dan wahyu,[6] menyebutkan dengan jelas nama para Imam Maksum As dan beliau menegaskan dan menekankan keimamahan dan kekhalifahan mereka itu.

Kedua: Dalam Al-Qur’an telah disinggung tentang wilâyah Imam Ali As, meskipun tidak disebutkan dengan jelas nama beliau. Mayoritas para mufassir, baik dari kalangan Syi’ah maupun Ahlusunnah, mengakui bahwa telah turun ayat yang berkenaan dengan Imam Ali As, dan tidak ada sosok lain kecuali Imam Ali As[7] dan ayat tersebut adalah surat al-Maidah ayat 55, dimana Allah Swt berfirman:”innamâ waliyyukumullâhu warasûluhu walladzîna âmanû yuqiimuunashshalah wayu’tuunazzakaah wa hum râki’ûn”(Sesungguhnya wali kalian adalah hanya Allah Swt dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat serta memberikan zakat dalam keadaan ruku’).

Dengan melihat bahwa dalam Islam kita tidak memiliki perintah dan aturan dimana manusia harus memberi zakat ketika sedang ruku’, maka jelaslah kalau ayat ini menunjukkan pada suatu kejadian yang hanya terjadi sekali kali, dan kejadian tersebut adalah tatkala Imam Ali As sedang ruku’ dan datang seorang pengemis meminta bantuan, Imam Ali As menunjuk ke tangannya, pengemis itu pun datang dan mengeluarkan serta mengambil cincin dari tangan Imam Ali As lantas pergi.[8] Berdasarkan hal ini ayat tersebut menyatakan dengan menggunakan kata “innamâ” [9], hanya Allah Swt dan Nabi Saw serta Imam Ali As yang berhak menjadi wali dan pemimpin kalian wahai kaum muslimin dan tidak ada orang lain yang memiliki wilayah atas kalian selain mereka.

Sampai disini jelas bahwa nama para Imam Maksum As dengan jelas ada dalam sabda-sabda Nabi Saw dan juga Al-Qur’an telah mengisyarahkan tentang wilayah dan khilafah Imam Ali As, dimana kalau ada seorang periset objektif dan hanya kebenaran yang dicari maka dengan cepat bisa memahami bahwa yang dimaksud Nabi saw dengan khilafah dan imamah setelah beliau Saw adalah khilafah Imam Ali As dan Ahlulbaitnya yang suci. Adapun masalah kenapa nama para Imam Maksum itu tidak disebutkan dengan jelas dalam Al-Qur’an, ada dua dalil yang bisa kita sodorkan disini:

1.            Sejatinya Al-Qur’an itu diturunkan untuk menjelaskan segala masalah dalam bentuk yang universal dan berupa kaidah dan pokok, bukan untuk menjelaskan seluruh perkara secara terperinci dan detil, sebagaimana dalam banyak hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dan furu’ (cabang dan ranting).

Jawaban ini diterangkan dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq As[10] dan untuk memperkuat pernyataan tersebut, Imam Shadiq As memberikan tiga contoh: pertama berkenaan dengan shalat, Al-Qur’an menjelaskan hal ini secara universal dan tidak menjelaskan tentang bagaimana kualitas dan kuantitas setiap shalat tersebut, namun Nabi Saw menerangkan kepada seluruh kaum muslimin tentang tata cara pelaksanaan dan jumlah raka’at shalat tersebut. Juga beliau memberikan contoh mengenai zakat bahwa dalam Al-Qur’an hanya disebutkan secara intinya saja, namun beliaulah Saw yang menetapkan apa-apa saja yang perlu dikeluarkan zakatnya dan ukuran nisab setiap dari sesuatu itu. Dan ketiga beliau Saw juga mengisyarahkan tentang hukum-hukum haji yang mana dalam Al-Qur’an hanya menyebutkan tentang wajib haji, namun pribadi Nabilah Saw yang menjelaskan tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji tersebut.

Jadi harapan dan penantian kita terhadap Al-Qur’an dimana ia seharusnya menjelaskan secara detil dan seluruh masalah-masalah yang sekecil apa pun, merupakan harapan dan penantian yang tidak tepat. Dan jika dalam masalah keimamahan dan Ahlulbait As tidak disebutkan satu per satu nama para Imam Maksum As, itu tidak bisa dijadikan sandaran ataupun alasan untuk tidak berpegang pada ajaran dan maktab Ahlulbait As, sebagaimana halnya bahwa karena Al-Qur’an tidak menyebutkan shalat Zhuhur itu adalah 4 rakaat, maka boleh melakukannya dengan dua rakaat. Atau karena Al-Qur’an tidak menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan haji itu harus melakukan tawaf sebanyak tujuh kali, maka boleh meninggalkannya.

2.    Pada permasalahan seperti ini yang diprediksikan akan banyak yang menentang, sebaiknya dan maslahatnya itu ada pada bahwa Al-Qur’an menjelaskan hal tersebut secara tidak jelas dan tidak transparan, karena ada kemungkinan penentangan terhadap keimamahan Imam Ali As melebar kearah penentangan terhadap Al-Qur’an itu sendiri dan ini sangat berbahaya bagi Umat Islam. Tentunya perlu dicamkan bahwa Allah Swt dalam Al-Qur’an telah berfirman yang artinya:”Sesungguhnya kamilah yang telah menurunkan al Dzikr (Al-Qur’an) dan kami pulalah yang akan menjaganya”,[11] salah satu cara dalam menjaga keaslian Al-Qur’an dan keterpeliharaannya dari segala bentuk distorsi dan penambahan atau pun pengurangan adalah dijelaskan serupa mungkin sehingga motivasi dan niat orang-orang munafik yang berlagak muslim untuk mengaburkannya itu dilenyapkan, sehingga minimalnya kalau ada seorang atau kelompok –dikarenakan hawa nafsu dan ikhtilaf serta adanya motifasi kuat untuk merubah dan mendistorsi– merubah Al-Qur’an tersebut tidak merubahnya sesuai dengan seleranya dan dengan demikian nilai dan kehormatan Al-Qur’an pun bisa terjaga dan tidak dicemooh.[12] 

Ayatullah Muthahari, dalam pemaparannya, mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan cara berikut ini: ”Masalah bahwa mengapa Al-Qur’an tidak menjelaskan keimamahan dan khilafah Imam Ali As dengan menyebutkan nama beliau? Mereka memberi jawaban Pertama: Al-Qur’an itu pada dasarnya hanya menjelaskan seluruh permasalahan itu dalam bentuk yang universal, Kedua: Rasulullah Saw atau Allah Swt tidak menghendaki dalam masalah ini, dimana pada akhirnya hawa nafsu pun akan turut campur, sebuah persoalan dijelaskan dalam bentuk seperti ini. Buktinya bahwa mereka tetap berkeras kepala mencoba menerangkan dan bahkan berijtihad –terkait bentuk penjelasan tersebut– lalu mengatakan hal seperti bahwa yang dimaksud Rasulullah Saw adalah demikian dan demikian; yakni kendatipun ada sebuah ayat yang secara khusus dan jelas berbicara tentang masalah ini, mereka tetap akan berusaha menjelaskan dan menafsirkannya sedemikian mungkin (sesuai dengan selera masing-masing). Rasulullah Saw dalam sabdanya menyatakan dengan sangat jelas bahwa:”haadzaa ‘aliyun maulaahu” (ini Ali As sebagai pemimpinnya); apakah Anda masih tetap menginginkan hal yang lebih jelas dari ini?! Terlalu kelewatan, sabda Nabi Saw yang demikian jelas tersebut serta ayat Al-Qur’an yang menjelaskan dengan sempurna dan jelas mengenai masalah itu, pada hari pertama setelah Rasulullah Saw wafat, dibuang begitu saja. Oleh karena itu, pada mukaddimah buku “Khilafat wa Wilâyah” saya menukil kalimat ini bahwa seorang Yahudi pada masa Imam Ali As, hendak mencaci dan mencemooh seluruh kaum Muslimin dengan peristiwa-peristiwa yang sangat naif yang terjadi pada masa awal Islam (dan ada benarnya cacian tersebut), ia berkata kepada Imam Ali As: sebelum nabi kalian dikebumikan,  kalian telah berselisih dan berikhtilaf tentangnya. Imam Ali As menjawab: kami tidak berselisih mengenai Rasulullah Saw, perselisihan dan ikhtilaf kami itu tentang suatu perintah yang datang dari Nabi Saw untuk kami, namun  kalian ketika kaki kalian masih basah dengan air laut, telah meminta dan mengatakan kepada nabi-nabi kalian: jadikanlah bagi kami tuhan sebagaimana tuhan-tuhan yang mereka miliki. Kemudian Imam Ali As berkata: sungguh kalian ini adalah kaum yang bodoh. Jadi sangat berbeda antara apa yang terjadi pada kami dengan apa yang terjadi pada kalian, kami tidak berselisih tentang Nabi Saw, akan tetapi kami berikhtilaf pada masalah apa maksud dan substansi perintah Rasulullah Saw tersebut? Kedua hal ini sangatlah berbeda dimana suatu pekerjaan yang bagaimanapun juga tetap dilakukannya, penjelasannya di luar juga seperti itu (bukan berarti hakikat seperti itu), mereka berkhayal bahwa maksud Nabi Saw seperti ini, dan pada akhirnya ucapan Nabi Saw tersebut dipelintir sedemikian rupa dan atau menyatakan bahwa ayat Al-Qur’an yang sangat jelas ini dikesampingkan, atau mereka mendistorsi Al-Qur’an tersebut.[13]

Jadi dapat dikatakan bahwa poin asli dari tidak adanya penyebutan secara jelas nama para Imam Maksum As dan atau minimalnya nama Imam Ali As adalah guna menjaga dan memelihara keutuhan dan orisinalitas Al-Qur’an, sebagaimana Anda perhatikan pada ayat-ayat tathhir[14] dan tabligh[15] dan  wilâyah [16] yang terletak di antara ayat-ayat yang ada kaitannya dengan istri-istri Nabi Saw atau hukum-hukum atau tiadanya pertemanan Ahli Kitab, dimana nampaknya tidak punya relasi sama sekali dengan wilâyah para Imam As yang suci dan Imam Ali As, namun seorang peneliti dan periset dan objektif bisa dengan sedikit teliti memahami bahwa konteks bagian ayat ini terpisah dengan ayat yang ada sebelum dan sesudahnya dikarenakan terdapat istilah innamâ (hanya) di dalam ayat tersebut.[17][]


[1] . Ibnu al Bithriq, al ‘Umdah, hal. 121 dan 133; Sayid Hasyim Buhrani, Ghâyah al-Marâm, hal. 320; Allamah Amini, al Ghadir, jil. 2, hal. 278.

[2] .hadits ini mutawatir dan ada dalam kitab-kita syi’ah dan sunni. Dalam kitab al Ghadir disebutkan para penukil hadits ini tahap pertahap dari abad 1 sampai abad 14 dimana yang paling awal ada 60 orang dari sahabat Nabi Saw yang dalam kitab-kitab ahlusunnah merupakan perawi hadits ini dan nama mereka itu tercatat dalam kitab-kita tersebut. Dan juga dalam kitab ‘Abaqât  Mir Hamid Husein, terbukti akan kemutawatiran hadits al-Ghadir. Al-Ghadir, jil. 1, hal 14-114; Ibnu al-Maghaazali, Manâqib, hal 25-26; Murtadha Muthahari, Imâmat wa Rahbari, hal 72-73.

[3] .al ‘Umdah, hal 173-175; Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jil. 3, hal 32; al Ghadir, jil. 1, hal 51, jil. 3, hal 197-201.

[4] .Mengenai kemutawatiran hadits-hadits tentang keimamahan Imam Ali As telah banyak ditemukan dalam kitab al Ghadir, dan kitab ‘abaqât. Fadhil Qausyaji (salah seorang ulama terkemuka Ahulusnah) tidak menolak kemutawatiran sebagian riwayat-riwayat tersebut. Syarah Qausyaji bar Tajriidul I’tiqâd, Khajah Thusi.

[5] .Muhammad Hasan Hurra Amili, Itsbâtul Hudât, jil. 3, hal 123; Sulaiman bin Ibrahim Qanduzi, Yanâbii’ul Mawaddah, hal 494; Ghâyatul Marâm, jil. 10 hal 267, sesuai yang dinukil Mishbah Yazdi, Âmuzesy ‘Aqâid, jil. 2, hal 185.

[6] .Qs. al-Najm ayat 3 dan 4.

[7] . Fakhru Razi, Tafsir Kabir, jil. 12, hal 25; Tafsir Nemuneh, jil. 4, hal 421-430; Jalaluddin Suyuti, Tafsir Durul Mantsuur, jil. 2, hal 393; juga dalam kitab-kitab hadits seperti: Dzakhâirul ‘Uqba, Muhibuddin Thabari, hal 88; Jalaluddin Suyuti, Lubâbunnuqûl, hal 90; ‘Alauddin Ali al-Muttaqi, Kanzul Ummal, jil. 6, hal 391 dan masih banyak disebutkan dalam kitab-kitab yang lain yang anda bisa meruju ke tafsir nemuneh jil. 4, hal 425.

[8] .Murtadha Muthahari, Tahlile az Kitâb-e Imâmat wa Rahbari, hal 38.

[9] .innamaa bermakna hanya (pembatasan, eksklusif): Mukhtashar al-Ma’âni.

[10] .Kulaini, al-Kâfi, kitab al-Hujjah, bab mâ nashsh Allahu wa Rasuluhu ‘alal Aimmati Waahidan Fawâhidan, jil. 1.

[11] .Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd, jil. 2

[12] .Ibid.

[13] . Imamat wa Rahbari, hal 109-110 (cetakan ke 27)

[14] .Qs. al-Ahzab (33): 33.

[15] .Qs. al-Maidah (5):67.

[16] .Qs. al-Maidah (5):55.

[17] . Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd, jil. 2.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Hari Teragung dalam Al-Quran


الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَ رَضِيتُ لَكُمُ الإِْسْلامَ دِيناً

 Artinya:”Hari ini orang-orang kafir berputus asa dari agama kalian, oleh karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, dan takutlah kalian kepada-Ku, hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku rampungkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku rela Islam sebagai agama.” (Surah Al-Maidah, ayat 3).

Pembahasan Ayat

Dalam ayat ini telah disebutkan sebuah hari yang begitu besar dan begitu agung yang menjadi kekuatan bagi kaum muslimin. Sebuah hari di mana keputusasaan para musuh-musuh Islam, penyempurnaan agama, rampungnya nikmat-nikmat ilahi serta kerelaan merupakan kado dari Allah Swt.

Sekarang satu hal yang harus dijawab adalah apakah hari akbar tersebut? Insya Allah, dalam pembahasan mendatang jawaban dari soal ini akan jelas.

Penjelasan dan Tafsir

Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa dari agama kalian. Kendati musuh-musuh Islam dan orang-orang kafir yang keras kepala sudah mengalami kekalahan-kekalahan yang bertubi-tubi semenjak diutusnya nabi Saw hingga detik-detik akhir kehidupan beliau, baik melalui konspirasi atau peperangan mereka tetap berharap untuk dapat melenyapkan ajaran Islam pada masa yang akan datang; akan tetapi setelah turunnya ayat yang telah kita sebutkan tadi para musuh Islam bukan hanya mengalami kekalahan baru akan tetapi mereka kehilangan harapan untuk masa yang akan datang.

Oleh karena itu, orang-orang kafir untuk selamanya akan berputus asa untuk dapat melenyapkan dan menghilangkan agamamu dari dunia.

فلا تخشوهم و اخشوني  dengan bantuan dan kemenangan besar ini yang terjadi pada hari ini maka janganlah kalian takut kepada mereka, karena mereka sudah tidak bisa memberikan ancaman, akan tetapi takutlah kalian untuk menentang perintah-perintah ilahi; karena pada kondisi inilah bahaya asli dari pada hawa nafsu itu berasal dari Allah Swt.

Dalam hari yang sangat agung dan sangat penting ini agamamu telah sempurna dan nikmat-nikmat ilahi bagi kalian kaum muslimin telah rampung.

Keagungan dan kebesaran hari-hari dan kejadian di dalamnya begitu besar dan begitu bermakna sehingga Allah Swt menjadikan Islam sebagai agama yang terus menerus.

Apakah Hari Itu?

Sebuah hari yang dijelaskan oleh ayat di atas memiliki empat ciri penting;

1) Hari yang menjadi kaum kafir berputus asa.

2) Sebuah hari yang menjadi menyempurnanya agama.

3) Sebuah hari di mana Allah telah menyempurnakan nikmatnya kepada kaum muslimin.

4)Sebuah hari di mana Allah rela agama Islam menjadi agama abadi bagi umat manusia.

Dengan empat ciri khusus di atas, apakah itu sebenarnya? Untuk sampai pada jawaban pertanyaan dia atas kita bisa menempuh dua metode.

Metode pertama: merenungkan dan mendalami ayat tersebut dan mengkaji tentangnya, dengan tanpa melihat riwayat dan hadis-hadis yang menjelaskan ayat tersebut juga tanpa merujuk kepada ungkapan para ahli tafsir, muhadis, cendekiawan dan berbagai bukti-bukti lainnya. Metode kedua, menafsirkan ayat dengan menggunakan riwayat-riwayat yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut ditambah dengan pendapat-pendapat dan keyakinan para mufassir.

Metode pertama: menafsirkan ayat dengan tanpa memperhatikan bukti-bukti di luar ayat

Dengan peristiwa apakah ayat mulia tersebut dapat kita terapkan? Untuk menjawab pertanyaan ini Fakhru-Razi memberikan dua pendapat, sedang Marhum Thabrisi menambahkan satu pendapat lagi. Dengan meminta pertolongan Allah Swt dan dengan berlandaskan akal, logika, menjauhi fanatisme dan berbagai perasaan semoga kita bisa memaparkan pembahasan ini secara ilmiah dan menjauhi hal yang meretakkan kesatuan kaum muslimin. Tiga pendapat tersebut adalah:

Pertama: Salah satu dari pendapat yang dibawakan oleh Fakhru-Razi adalah kata Yaum dalam ayat ini tidak memiliki arti yang sebenarnya, akan tetapi memiliki arti metafora. Dengan demikian arti yaum di sini berarti masa atau sebuah masa; bukan penggalan dari sebuah masa yang dimulai dari pagi hingga malam.

Sesuai pendapat ini, ayat ini tidak berkaitan dengan hari tertentu dan peristiwa khsusus, akan tetapi memberitahukan akan dimulainya masa keagungan Islam dan tibanya masa keputusasaan orang-orang kafir. Terlebih penggunaan kata yaum dengan arti metafora semacam ini merupakan tradisi masyarakat; sebagaimana dikatakan: kemarin saya muda, tapi sekarang saya sudah tua. Arti ungkapan ini adalah masa muda telah berlalu dan telah tiba masa tua, dan ini bukan berarti ingin mengatakan kemarin ia masih muda tapi sekarang (hari ini ) ia sudah tua.

Akan tetapi jawaban pendapat ini jelas dan gamblang; karena arti metafora membutuhkan bukti-bukti yang jelas. Entah Fakhru-Razi dengan bukti jelas mana dia membawakan dan mengatakan bahwa arti dari pada al-Yaum dalam surat ini memiliki arti metafora?

Pendapat kedua: yang dimaksud dari al-Yaum yang berarti hari ini dalam surah ini memiliki arti hakiki dan sebuah hari yang sudah diketahui hari tersebut adalah hari Arafah, tahun 8 bulan Dzulhijjah. Hari Arafah yang terjadi pada peristiwa Hajjatul-wada’ haji perpisahan / terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah Saw pada tahun kesepuluh hijriah.

Pendapat ini juga tidak begitu memuaskan, karena apakah yang membedakan hari Arafah pada tahun kesepuluh hijriah dengan hari Arafah pada tahun kesembilan dan kedelapan?! Jika sebuah peristiwa tidak terjadi di sana, maka bagaimana mungkin hari ini dianggap sebagai hari yang sangat besar dan agung?! Al-hasil pendapat ini juga tidak bisa kita terima karena sulit dicerna dan dibayangkan. Hasilnya dua pendapat yang dipaparkan oleh Fakhru-Razi ini tidak menyingkap misteri besar yang terdapat dalam ayat ini.

Pendapat ketiga: Marhum Thabrisi, salah seorang mufasir ternama kalangan Syi’ah, setelah menukil dan menolak dua pendapat Fakhru-Razi, beliau menukil penafsiran Ahlul Bait a.s. tentang ayat tersebut yang diterima oleh semua para mufasir Syi’ah juga ulama dan cendekiawan mereka.

Pengikut pendapat ini berkeyakinan maksud dari hari yang sangat agung yang membuat orang-orang kafir berputus asa dan menjadi sebab kerelaan Allah Swt serta menjadi sebab kesempurnaan agama dan nikmat-Nya adalah hari kedelapan belas dari bulan Dzul hijjah tahun kesepuluh hijriah, yang tak lain adalah hari raya Ghadir; sebuah hari di mana Rasulullah Saw dengan titah Allah Swt secara resmi melantik Ali bin Abi Thalib a.s. sebagai Wali dan Khalifah setelah beliau di hadapan kaum muslimin.

Soal: apakah pendapat ini sesuai dengan kandungan ayat yang mulai itu?

Jawab: jika kita melihat dengan penglihatan yang sportif dan tanpa praduga sebelumnya, kita akan mendapati bahwa ayat ini secara utuh sesuai dan berkaitan dengan peristiwa Ghadir, karena:

Pertama: musuh-musuh Islam setelah tidak mampu melenyapkan Islam melalui peperangan-peperangan, ancaman-ancaman dan konspirasi-konspirasi yang mereka lakukan, mereka tetap berharap pada satu hal yaitu Rasulullah Saw akan meninggal dunia dan setelah kepergiannya – terlebih setelah mereka mengetahui bahwa beliau tidak memiliki seorang putra yang akan menjadi penggantinya juga sampai detik itu beliau tidak menentukan penggantinya secara resmi – mereka bisa memiliki harapan untuk menghancurkan dan merusak Islam, akan tetapi setelah mereka melihat Rasulullah Saw pada hari itu tanggal delapan belas Dzulhijjah tahun sepuluh Hijriah, di Padang sahara Ghadir Khum dan di tengah-tengah khalayak yang begitu besar dan tiada tandingnya beliau melantik orang yang paling pintar, paling kuat, paling paham dan sosok paling piawai dalam dunia Islam maka harapan-harapan mereka tak lebih dari isapan jempol belaka dan satu-satunya harapan mereka untuk menghancurkan Islam menjadi sirna.

Kedua: dengan pelantikan imam Ali a.s. kenabian tidak terputus di tengah jalan, akan tetapi risalah ini tetap berlanjut untuk menyempurna, karena pada dasarnya, Imamah merupakan penyempurna kenabian dan hasilnya menjadi sebab kesempurnaan bagi agama; oleh karena itu Allah Swt memilih Ali a.s. sebagai khalifah kaum muslimin yang merupakan sebuah sosok besar yang paling alim dan paling pintar setelah pribadi agung Rasulullah Saw dan secara langsung menyempurnakan agama-Nya.

Ketiga: Nikmat-nikmat Allah Swt menjadi sempurna setelah pelantikan kepemimpinan Rasulullah Saw.

Keempat: Tanpa diragukan lagi, agama Islam tanpa Imamah dan kepemimpinan tidak akan bisa menjadi sebuah agama yang global, universal dan pamungkas. Agama terakhir hendaknya mampu menjawab segala keperluan manusia di setiap masa, hal ini sulit dibayangkan jika tidak ada seorang imam maksum yang hadir di setiap zaman.

Oleh karena itu, penafsiran ayat yang mulia tersebut dengan peristiwa Ghadir merupakan penafsiran yang bisa diterima; bahkan penafsiran ini merupakan satu-satunya penafsiran yang benar.

Apakah maksud dari penyempurnaan agama itu?

Dalam menafsirkan penggalan dari ayat di atas “hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian” telah terdapat tiga pendapat:

1) Yang dimaksud dari pada din dari ayat ini adalah undang-undang; artinya pada hari tersebut undang-undang Islam telah sempurna dan setelahnya Islam tidak memiliki kekurangan sedikitpun dalam undang-undangnya.

Untuk menjawab pertanyaan ini bisa kita tanyakan kepadanya: Peristiwa apakah yang terjadi pada hari tersebut atau undang-undang apakah yang telah turun pada hari itu yang membuat undang-undang ilahi menjadi sempurna? (Jawaban dari pertanyaan ini merupakan poin penting dan penjelas dari pada ayat ini).

2)Sebagian kelompok meyakini bahwa maksud dari pada din dari ayat di atas adalah haji; dengan arti pada hari yang khusus dan agung tersebut Allah telah menyempurnakan haji kalian.

Akan tetapi apakah benar din dalam bahasa bermakna haji? Atau din merupakan sekumpulan dari keyakinan-keyakinan dan amal perbuatan di mana haji salah satu dari bagian amal-amal tersebut?

Jelas kemungkinan kedua itu yang benar yang dengan demikian penafsiran agama dengan haji merupakan penafsiran yang tak berdasar.

3)Terwujudnya kandungan ayat dan penyempurnaan agama serta perampungan nikmat itu disebabkan karena Allah Swt pada hari tersebut telah memenangkan kaum muslim terhadap musuh-musuhnya dan membebaskan mereka dari kejelekan mereka.

Akan tetapi apakah pendapat ini benar?! Musuh manakah yang telah dikalahkan dan berputus asa? Kaum Musyrik dari bangsa Arab pada tahun delapan hijriah telah memeluk agama Islam saat peristiwa takluknya kota Mekkah (Fath Mekkah); orang-orang Yahudi di kota Madinah, Khaibar, kabilah Bani Quraidhah, Bani Qainuqo’ dan Bani Nadzir beberapa tahun sebelumnya telah mengalami kekalahan di perang Khaibar dan Ahzab mereka telah menyerah kepada Islam atau mereka hijrah keluar dari pemerintahan Islam, orang-orang kristen juga dengan menandatangani surat perdamaian dengan kaum muslimin; oleh karena itu seluruh musuh-musuh Islam sebelum tahun kesepuluh hijriah telah menyerah kepada Islam.

Memang benar, bahaya kaum munafik yang merupakan musuh yang paling berbahaya bagi agama dan selalu menunggu masa-masa yang tepat sampai saat itu belum menyerah dan belum hilang. Akan tetapi, bagaimana mereka kalah dan berputus asa?

Lagi-lagi pertanyaan ini tak mendapat jawaban seperti pertanyaan-pertanyaan yang telah dipaparkan di atas ini pendapat pertama di mana para pengikut pendapat ini tidak bisa menjawabnya.

Akan tetapi penafsiran ulama-ulama Syi’ah (sebagaimana telah disebutkan) telah memberikan jawaban yang lengkap terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dan telah memberikan kejelasan akan tafsiran ayat tersebut.

Ya, peristiwa Ghadir Khum dan masalah wilayah dan kepemimpinan Amirul Mukminin Ali a.s. merupakan penafsiran terbaik atau bahkan satu-satunya penafsiran yang benar terhadap ayat yang mulia ini; karena dengan peristiwa inilah rasa putus asa kaum munafikin itu tampak dan jelas.

Pengakuan Menarik dari Fakhru-Razi

Fakhru-Razi seorang mufasir terkenal dari kalangan Ahli unah mengatakan: para ahli sejarah dan ahli hadis telah mengatakan bahwa saat ayat ini turun kepada nabi Saw beliau tidak hidup lama kecuali 81 atau 82 hari (bahkan usia beliau tidak lebih dari tiga bulan) dan dalam masa waktu yang kurang dari tiga bulan ini tidak ada satupun hukum-hukum Islam yang bertambah begitu juga tidak ada hukum-hukum Islam yang berkurang atau dihapus[1] oleh hukum baru dan peletakan undang-undang telah selesai.[2]

Sesuai penuturan Fakhru-Razi ayat yang mulia di atas turun pada 81 atau 82 hari sebelum Kepergian Rasulullah Saw. Dengan mengacu pada perkataan ini bisa kita menebak bahwa kapan ayat ini turun. Untuk memperjelas poin ini  perlu bagi kita untuk mengetahui sejarah wafatnya Rasulullah Saw. Ahli Sunah meyakini bahwa Rasulullah Saw lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal dan kebetulan juga pada tanggal yang sama yaitu pada tanggal 12 Rabiul awal beliau wafat.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa pendapat ini juga didukung oleh sebagian  ulama Syi’ah, salah satu di antara mereka adalah Marhum Kulaini (pengarang kitab al-Kafi) beliau meyakini bahwa hari wafat Rasulullah Saw pada hari kedua belas bulan Rabiul Awal.[3] Kendati hari kelahiran Rasulullah Saw sesuai masyhur ulama Syi’ah adalah tanggal 17 Rabiul Awal. Oleh karena itu kita harus menghitung mundur 81 atau 82 hari tersebut. Dan mengingat tiga bulan berturut-turut itu tidak akan bisa tiga puluh hari sebagaimana juga tidak bisa dua puluh sembilan hari maka kita harus menghitung dua bulan itu tiga puluh hari dan satu bulannya dua puluh sembilan hari atau dua bulannya sebanyak dua puluh sembilan hari sedang satu bulannya tiga puluh hari.

Jika dua bulan Safar dan Muharam kita hitung dua puluh sembilan hari maka semuanya  berjumlah lima puluh delapan hari yang dengan  menambah dua belas hari bulan Rabiaul Awal akan menjadi Tujuh puluh hari dan mengingat bulan Dzul Hijjah tiga puluh hari kita hitung maka dua belas hari ke belakang akan menjadi 82 hari dengan mengurangi dua belas hari bulan Dzul Hijjah maka kita akan sampai kepada tanggal delapan belas dari bulan ini yang merupakan hari raya Ghadir. Berdasarkan  perhitungan ini yang sesuai dengan pendapat ulama Ahli Sunah ayat yang mulia di atas berkenaan dengan Ghadir bukan hari Arafah jika 81 hari kita jadikan standar maka sesuai dengan hari sebelum hari Ghadir Khum dan sangat jauh dengan hari Arafah dan tidak ada kesesuaian sama sekali. Dan jika bulan Safar dan Muharam kita anggap tiga puluh hari sedang bulan Dzul hijjahnya dua puluh sembilan hari, maka sesuai pendapat 82 hari maka 19 Dzul Hijah itu yang benar dan sesuai 81 hari tanggal 20 Dzul Hijjah merupakan waktu turunnya ayat ini, artinya ayat mulia ini satu atau dua hari turun setelah peristiwa Ghadir dan pelantikan Amirul Mukminin Ali a.s. sebagai seorang wali dan menjelaskan peristiwa sejarah yang penting tersebut juga lagi-lagi tidak memiliki hubungan dengan  hari Arafah sama sekali!

Konklusinya adalah bukti-bukti yang beragam telah menunjukkan bahwa ayat yang mulia itu turun berkaitan dengan wilayah dan Khilafah Amirul Mukminin Ali a.s.

Soal: Permulaan ayat ketiga dari surah Al-Maidah berkaitan dengan daging-daging yang diharamkan[4] sedang pada akhir ayat ini berbicara tentang keterdesakan dan hukumnya[5] dan di tengah-tengah dua poin tersebut ditegaskan wilayah dan kepemimpinan. Lalu apakah keserasian antara masalah wilayah dan Imamah serta kepemimpinan selepas Rasulullah dengan masalah daging-daging haram dan hukum orang yang terdesak? Apakah ini tidak bisa menjadi bukti bahwa ungkapan dari ayat tersebut itu tidak berkaitan sama sekali dengan wilayah tapi berkaitan dengan  masalah yang lain?

Jawab: ayat-ayat al-Quran Karim tidak disusun sebagaimana sebuah buku klasik, akan tetapi Quran dicatat dan disusun sesuai urutan turunnya (kadang kala dengan perubahan dan perpindahan) sesuai perintah Rasulullah Saw. Oleh karena itu bisa jadi permulaan ayat di atas berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi berkenaan dengan daging-daging yang diharamkan sebelum terjadinya peristiwa Ghadir dan setelah sesaat terjadinya peristiwa Ghadir para penulis wahyu menulisnya dengan diakhiri dengan hukum daging-daging yang diharamkan. Kemudian masalah terdesak atau personifikasi dari hal-hal tersebut telah terjadi dan hukum-hukumnya sedang akhir dari pada ayat tersebut memuat hukum orang yang terdesak sebagai lanjutan dari bagian tengah ayat tersebut. Oleh karena itu dengan merujuk kepada poin di atas maka tidak lazim ayat-ayat itu memiliki keserasian khusus satu sama lain.

Memperhatikan poin ini dapat menuntaskan berbagai Syubhat dan isykalan-isykalan yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Quran karim.

Pertanyaan lain: Dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa ayat ketiga dari surat al-Maidah merupakan ayat terakhir yang turun kepada Rasulullah Saw  dan dengan diturunkannya ayat ini agama menjadi sempurna juga kumpulan undang-undang yang lazim secara utuh telah turun kepada beliau jika memang demikian kenapa setelah ayat ini atau di penghujung ayat ini dijelaskan hukum kondisi terdesak? Jika ayat penyempurnaan agama ini menjadi akhir ayat yang turun dan mengkhabarkan akan kesempurnaan agama dan undang-undangnya, lalu kenapa undang-undang baru ini turun setelah khabar tersebut?

Jawab: Isykalan ini bisa dijawab dengan dua bentuk:

Jawaban pertama: Berkenaan dengan kondisi terbesar seperti dalam musim kemarau atau kelaparan yang berada di akhir pembahasan ayat ini bukanlah hukum baru; akan tetapi ia merupakan hukum ta’kidi (penekanan). Karena hukum ini telah turun sebelum ayat ini dan telah disebutkan di tiga ayat yang lain:

 a. Dalam ayat 145 surat al-An’am yang tanpa diragukan termasuk surat Makkiyah kita mendapati: “katakanlah: aku tidak mendapatkan di dalam wahyu yang telah diturunkan kepadaku tidak ada makanan haram yang aku temukan kecuali bangkai atau darah (yang berasal dari badan binatang) keluar atau daging babi di mana itu merupakan sebuah kotoran, atau binatang yang berdosa di mana saat disembelih di nama arca-arca selain Allah itu disebutkan. Sedang  orang yang terpaksa atau terdesak untuk memakan hal-hal yang diharamkan ini dengan tanpa ingin menikmatinya atau tidak melampaui batas ( maka dia tidak berdosa); karena Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang” . sebagaimana anda perhatikan dalam ayat yang mulia ini yang turun di Mekkah karena beliau belum hijrah ke Madinah sudah turun kepada nabi di mana telah disebutkan hukum Idthirar.

b. Dalam ayat 115 surat an-Nahl  di mana sebahagiannya turun di Mekkah dan sebahagiannya lagi turun di Madinah disebutkan: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada kalian bangkai, dara, daging babi, dan apa-apa yang disembelih tanpa menyebut nama Allah maka barang siapa yang terdesak untuk memakannya yang dia tidak melampaui batas kewajaran maka sesungguhnya Allah memberikan ampunan kepadanya karena sesungguhnya Allah maha pengasih lagi maha penyayang.” Dalam ayat mulia tadi yang turun sebelum ayat yang kita bahas yaitu ayat Ikmal hukum idthirar juga telah disebutkan.

c. Dalam ayat173 surat al-Baqarah di mana turun pada permulaan hijrah di kota Madinah, hukum idthirar juga telah disebutkan; dan mengingat ayat ini serupa dengan ayat sebelumnya (Walaupun ada perbedaan tapi perbedaan itu terlampau sedikit) maka kami rasa tidak perlu untuk mengulangnya kembali.

Konklusinya adalah hukum idthirar sudah dibahas dalam tiga ayat al-Quran sebelum ayat ini,[6] oleh karena itu dalam ayat ini tidak dalam rangka menyebutkan hukum baru serta tidak bertentangan dengan ayat Ikmaluddin  oleh karena itu  setelah ayat Ikmaluddintidak ada undang-undang baru yang turun kepada Rasulullah Saw.

Jawaban kedua: ayat-ayat al-Quran Karim dikumpulkan atau disusun bukan sesuai turunnya ayat akan tetapi  sesuai dengan perintah atau petunjuk nabi Saw dengan metode khusus, sebagai contoh ayat 67 surat al-Maidah  yang berbunyi: “wahai Rasulullah sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu…”, secara yakin itu turun sebelum ayat yang kita bahas ini (ayat ketiga surat Maidah) akan tetapi saat penyusunan ayat itu diletakkan setelah ayat ini; oleh karena itu tidak apa-apa jika hukum idthiror ini yang jelas turun sebelum ayat Ikmaluddin itu ditulis dan dicatat setelah ayat ini.

Metode kedua: Menafsirkan Ayat Dengan Berdasarkan Riwayat-riwayat

Hadis-hadis dan riwayat yang menjadi kondisi turunnya ayat tersebut begitu banyak. Marhum Allamah Amini ra dalam kitabnya yang begitu berharga dan tiada bandingnya yaitu al-Ghadir[7] secara panjang lebar membahas peristiwa Ghadir. Beliau telah menukil dalam kitabnya 110 orang sahabat juga 80 tabiin[8]; penulis kitab al-Ghadir menukil peristiwa besar dan tiada tandingnya dari 360 kitab yang berbeda-beda; kitab-kitab yang sebagian darinya berasal dari kalangan Ahli Sunah dan sebagian yang lain berasal dari kalangan Syi’ah. Adapun poin yang perlu diperhatikan adalah seluruh riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa akbar al-Ghadir tidak berkaitan dengan pembahasan kita sekarang, akan tetapi riwayat-riwayat yang berkenaan dengan turunnya ayat yang mulia ini yang berkaitan dengan pembahasan kita dan kebetulan jumlah riwayat ini juga tidak sedikit Muhaqqiq Allamah Hilli dalam kitabnya menyebutkan 16 riwayat yang dinukil berkenaan dengan hal ini[9]

Riwayat-riwayat tersebut demikian:

1. Suyuti, salah satu ulama terkenal Ahli Sunah yang hidup di Mesir dan mendapat tempat yang terhormat di kalangan Ahli Sunah telah menyebutkan dan menukil sebuah riwayat:

Abu Said al-Hudri mengatakan: saat Rasulullah Saw melantik Ali a.s. di hari Ghadir Khum sebagai pengganti setelahnya dan mengumumkan wilayahnya kepada kaum mukminin, Jibril turun dan membawa ayat ini kepada beliau.[10] Sesuai riwayat ini yang dinukil dari Ahli sunah, maka maksud dari kata al-yaum adalah hari Ghadir Khum dan ayat yang sedang dibahas berkenaan dengan wilayah dan kepemimpinan Ali as.

2. Ulama Ahli Sunah tersebut juga meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah, seorang perawi yang diterima dan dihormati oleh kalangan Ahli Sunah . sesuai dengan riwayat ini Abu Hurairah mengatakan: ketika hari Ghadir Khum tiba yaitu hari ke delapan belas Dzul Hijjah, Rasulullah Saw bersabda: barang siapa aku maulanya maka ini Ali sebagai maulanya (juga), maka Allah SWT menurunkan ayat:[11] Riwayat ini juga dengan jelas dan tegas menunjukkan pada apa yang telah kita tekankan dan kita bahas.

3. Khatib Bagdadi salah satu ulama lain dari Ahli Sunah yang hidup di abad kelima hijriah[12] dalam kitabnya Tarikh Baghdad dengan menukil riwayat dari Abu Hurairah disebutkan: Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa berpuasa di hari kedelapan belas dari bulan Dzul Hijjah maka dicatat baginya (pahala puasa 60 bulan) hari itu adalah hari Ghadir Khum saat Rasulullah Saw mengangkat tangan Ali Bin Abi Thalib a.s kemudian beliau bersabda: Tidakkah aku wali kaum mukminin? Semua  menjawab: ya benar wahai utusan Allah, Rasulullah Saw kemudian bersabda: barangsiapa aku maulanya maka Ali adalah maulanya (juga). Kemudian Umar bin Khattab berkata: Selamat bagimu wahai putra Abi Thalib kamu telah menjadi maulaku dan maula setiap mukmin dan mukminah, kemudian Allah SWT menurunkan ayat[13]

4. Hakim Haskani, di mana dia termasuk ulama Ahli Sunah yang hidup di abad kelima juga meriwayatkan beberapa riwayat yang gamblang dan jelas dalam hal ini, tapi untuk meringkas kami tidak perlu menyebutkan riwayat-riwayat yang dinukil di kitabnya.[14]

Hafidz Abu Naim Isfahani dalam kitab “Ma Nuzzila minal Quran fi Ali a.s.”                   (ayat-ayat yang berkenaan dengan Ali a.s.) menukil dari seorang sahabat terkenal Rasulullah Saw, Abu Said al-Hudri di mana Rasulullah Saw telah melantik dan mengumumkan kepada ummat manusia bahwa Ali a.s. Wali dan khalifah mereka khalayak belum berpisah satu sama lain di mana ayat  Ikmal.[15] turun, pada saat itu Rasulullah Saw bersabda: Allahu Akbar atas penyempurnaan agama, perampungan nikmat, kerelaan tuhan atas risalahku dan kepemimpinan Ali setelahku. Kemudian beliau bersabda: barang siapa aku maula baginya maka Ali adalah maulanya juga. Ya Allah lindungilah atau cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya dan hinakanlah orang yang menghinanya.[16] Konklusinya adalah dari riwayat-riwayat yang telah disebutkan dan riwayat-riwayat lain yang begitu banyak yang tidak dapat kira sebutkan semua untuk menyingkat pembahasan  secara gamblang dan jelas dapat dipahami bahwa ayat Ikmaluddin yang mulia ini turun berkaitan dengan peristiwa akbar al-Ghadir dan menjadi bukti jelas yang jelas juga lugas terhadap kepemimpinan, wilayah dan khilafah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.

Ungkapan menarik dari Alusi

Kendati banyak bukti-bukti yang gamblang dalam ayat mulia tersebut sebagaimana telah lewat pembahasannya dan riwayat-riwayat yang begitu banyak yang telah dinukil baik dari kalangan Syi’ah dan kalangan Ahli Sunah sebagian kalangan atas dasar fanatik dan keras kepala masih tetap menafsirkan ayat mulia tersebut sesuai dengan kemauannya sendiri dan keluar dari pembahasan  logis. Salah satu dari mereka adalah Alusi seorang Mufassir kenamaan Ahli Sunah penulis tafsir terkenal Ruhul-Ma’ani. Saat menjelaskan dan menafsirkan ayat ke-67 surat al-Maidah ketika sampai pada peristiwa Ghadir dia mengatakan: Ibnu Jarir at-Thabari salah seorang ahli sejarah terkenal Ahli Sunah telah menulis dua jilid kitab berkenaan dengan riwayat-riwayat al-Ghadir, kemudian (tanpa membahas dan memeriksa riwayat-riwayat yang ada dalam kitab tersebut) dia berkata: Dalam dua kitab tersebut hadis-hadis yang sahih dan yang dhaif telah di campur aduk ! Kemudian  dia menukil dari Ibnu Asakir di mana dia banyak sekali menukil tentang hadis berkenaan dengan khutbah dan peristiwa al-Ghadir, akan tetapi kami hanya menerima hadis-hadis yang tidak berbicara tentang khilafah dan kepemimpinan Ali a.s.[17]

Ungkapan semacam ini sungguh telah membuat heran setiap orang yang sportif.

Apakah kita bisa menolak seluruh isi kitab tersebut dengan dalil di dalamnya terdapat hadis-hadis yang dhaif dan tidak bisa diterima?

 Apakah dalam kitab-kitab standar Ahli Sunah tidak terdapat hadis-hadis dhaif?

Apakah dengan dalil ini kalian tidak akan menyentuh kitab-kitab seperti ini?

Jelas ungkapan semacam ini sangat lucu dan perlu ditertawakan. Akan tetapi ungkapan yang lebih parah dari ini, ungkapan yang berkaitan dengan riwayat Ibn Asakir. Di mana ungkapan tersebut merupakan puncak kecongkakan dan permusuhannya dengan kebenaran dan hakikat Ahlul Bait a.s. Di belahan  bumi mana ungkapan ini bisa diterima di mana seseorang berkata: apa yang sesuai dengan keinginan dengan hawa nafsu saya akan saya terima sedang yang tidak sesuai tidak akan saya terima!

Apakah ungkapan semacam ini bisa diterima dari seorang biasa..?

Dari seorang ulama seperti Alusi, bagaimana mungkin?!

Para pembaca yang budiman! Mungkin dengan keheranan yang luar biasa kita bertanya pada diri kita sendiri bagaimana mungkin seorang sosok besar seperti Alusi melontarkan ungkapan-ungkapan yang tidak berdasar? Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan tadi perlu disampaikan: setiap orang yang ingin memutuskan sesuatu dan menganggap dirinya dan tidak menjaga dirinya untuk cepat-cepat menghukumi pasti dia akan terjerembab pada nasib yang sama!

Pesan-pesan Ayat

1. Wilayah yang membuat putus asa para musuh, jika kalian ingin para musuh kalian berputus asa di setiap masa maka berpegang teguhlah kepada wilayah dan hidupkanlah ia; karena sebagaimana pada hari tersebut pemaparan wilayah membuat para musuh membuat putus asa, pada masa sekarang pun menghidupkan kembali dan berpegang teguh kepadanya  menjadi sebab keputusasaan para munafik dan musuh-musuh. Masa sekarang ini, hendaknya semua menuju dan mengarah kepada imam yang gaib dari pandangan namun hadir dalam kalbu dan pikiran yaitu imam zaman, Imam Mahdi a.s. Dan hendaknya kita melangkah di bawah naungannya; karena wilayah beliau merupakan pemersatu kaum Syi’ah dengan berbagai latar belakang yang beragam. Oleh karena itu, hidupnya wilayah merupakan tiupan angin segar, satu dan kesatuan dan kesamaan langkah. Ini merupakan awal dari kebahagiaan dan harapan sebagaimana perbedaan dan perpecahan sumber malapetaka dan kemunduran.

Jika semua negara-negara Islam yang terpecah belah mengamalkan salah satu dasar yang pokok ini dan merangkul satu sama lain dan bersatu, maka kisah memilukan Palestina tidak akan terulang lagi, dan para muslim yang tertindas tidak akan memuji-muji bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu satu-satunya jalan yang dapat membuat orang kafir berputus asa adalah berpegang teguh kepada tali wilayah.

2. kesempurnaan agama dan rampungnya nikmat berada di bawah naungan wilayah

sebagaimana d pahami dari ayat tadi, penyempurnaan agama dan rampungnya kenikmatan terwujud karena wilayah; masa sekarangpun turunnya nikmat-nikmat baik materi maupun maknawi serta kesempurnaan agama dalam berbagai sisi-sisinya akibat wilayah. Tanpa wilayah kendati agama dipraktekkan amal-amal ibadah dilaksanakan, namun tanpa diragukan lagi semua itu tidak akan diterima di sisi Allah Swt; oleh karena itu kesempurnaan nikmat dan agama di setiap masa bergantung kepada konsekuensi kita terhadap tali wilayah dalam tataran praktis.

Pembahasan tambahan

1. Wilayah merupakan permasalahan paling pokok dalam Islam

Berkenaan dengan pentingnya wilayah begitu banyak riwayat yang menjelaskan hal tersebut; salah satu contoh yang akan kita bawakan sebagai pelengkap pembahasan di atas berikut ini riwayat dari imam Muhammad Al-Bagir a.s.: Zurarah menukil dari beliau:Islam dibangun atas lima hal; salat, zakat, puasa, haji, dan wilayah. Kemudian Zurarah bertanya: Manakah di antara kelima hal tersebut yang paling mulia?beliau menjawab: Wilayah yang paling utama karena wilayah kunci dari segalanya sedang wali atau imam merupakan pembimbing manusia terhadapnya.[18]

Dua poin yang perlu dicermati dari riwayat tersebut:

a) kelima hal maha penting itu bukan asal-asalan (begitu saja) digandengkan satu sama lain, akan tetapi kelimanya memiliki hubungan erat satu dengan lainnya.

Salat merupakan hubungan hamba dengan penciptanya, bahkan masa terbaik untuk hubungan antara makhluk dengan khaliknya adalah waktu salat.

Zakat merupakan hubungan antara makhluk dengan sesamanya; orang yang membutuhkan, dengan pelaksanaan undang-undang zakat yang dilakukan oleh orang-orang kaya akan lenyap dari mereka masalah-masalah ekonomi yang mereka hadapi.

Puasa merupakan hubungan manusia dengan dirinya sendiri; dengan menciptakan hubungan ini manusia dapat menaklukkan dan melawan hawa nafsunya; bahkan puasa merupakan simbol melawan hawa nafsu.

Haji merupakan hubungan sekelompok kaum muslimin dengan kelompok yang lain di mana dengan kesatuan pikiran dan tukar-menukar pendapat problematika dunia Islam dapat ditangani.

Sedang wilayah merupakan penjamin terlaksananya hal-hal tersebut dengan benar dan penjelas hukum-hukum dari masalah itu.

Oleh karena itu empat asa di atas bukan secara kebetulan disebutkan bersamaan dalam riwayat ini akan tetapi mereka memiliki hubungan logis satu sama lain.

(b) Lalu kenapa wilayah lebih penting dan utama dari empat asas yang pertama?

Sebagaimana di dalam riwayat juga disebutkan, wilayah merupakan penjamin terwujudnya salat, puasa, haji dan zakat dan kandungan ibadah-ibadah ini, bahkan seluruh ibadah-ibadah yang lain dapat dilaksanakan (secara benar) di bawah naungan wilayah; artinya tanpa wilayah dan kepemimpinan Islam undang-undang ini tak lebih dari hitam di atas putih saja, dan seperti resep seorang dokter yang jika tidak diamalkan kesembuhan akan sulit didapatkan.

Wilayah berarti pelaksanaan undang-undang Islam oleh para imam maksum dan para pengganti mereka; oleh karena itu pemerintahan wilayah dari salat, puasa, haji dan zakat itu lebih tinggi yang hasilnya adalah pemerintahan Islam; sebuah wilayah yang bersumber dari wilayah Amirul Mukminin Ali a.s. di Ghadir khum:

1) Wilayah Memiliki Dua Arah

Wilayah sesuai penafsiran tadi memiliki dua arah:

Satu sisi wali dan pemimpin di mana dia memberi petunjuk kepada umat manusia, menjelaskan pembahasan-pembahasan yang perlu disampaikan, memberikan kewaspadaan kepada kaum muslimin di hadapan bahaya-bahaya, menciptakan ketertiban dan keteraturan, memberikan hak-hak orang-orang yang tertindas, menerapkan hukum-hukum ilahi dan menegakkan amar makruf dan nahi anil munkar.

Sedang sisi lainnya adalah umat manusia di mana mereka harus berusaha untuk mengatur langkah mereka sesuai dengan  ucapan, tindakan, keyakinan dan pemikiran para imam, karena tidak bisa dikatakan mereka pengikut garis wilayah namun membiarkan dirinya melakukan pelanggaran dan penyimpangan.

Hal yang menarik adalah pada satu ketika ketua Savak dalam salah satu interogasinya berkata kepada saya (penulis): kecintaan terhadap a.s. Ali dan wilayahnya tetap berada di hatiku akan tetapi jika orang-orang bangkit menentang Syah, maka aku rela untuk membinasakan satu juta orang dari mereka! Apakah tindakan dan pemikiran semacam ini sesuai dengan wilayah? atau wilayah semacam ini adalah wilayah gombal belaka?

Ya, wilayah adalah menyesuaikan seluruh amal perbuatan, ucapan dan pikiran atas keyakinan, ucapan dan tindakan para maksumin a.s.


[1] Hari-hari ini telah mendapat serangan yang bertubi-tubi dari orang-orang yang tidak memiliki kesadaran; salah satu dari serangan mereka adalah Islam seharusnya tidak terbatas dengan apa yang dimiliki sekarang bahkan Islam harus menambahkan pemikiran dan poin-poin lain kepada undang-undang dan aturan-aturannya, dan jika Rasulullah Saw lebih lama lagi hidup maka undang-undang lain dalam bentuk wahyu akan turun kepada beliau; konklusinya adalah Islam adalah sebuah agama yang tidak sempurna dan harus disempurnakan!

Jawab: apa yang disampaikan oleh Fakhru-Razi tadi maka jawaban dari syubhah ini akan jelas; karena jika memang demikian maka seharusnya dalam masa waktu  delapan puluh sekian hari di mana Rasulullah Saw masih hidup setelah turunnya ayat Ikmal ini seharusnya ayat dan undang-undang turun kepada beliau. Oleh karena itu mengingat dalam masa ini tidak ada undang-undang khusus yang turun maka kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa apa yang seharusnya bias disampaikan itu telah dilakukan dan jika nabi Saw hidup beberapa tahun lagi setelah itu tetap undang-undang islam tidak akan bertambah.

Di sini perlu kita sayangkan di mana bagaimana orang-orang yang tidak mengenal sumber-sumber keislaman yang tidak memiliki kesadaran dapat memberikan pendapat?! Kenapa di setiap tempat hanya orang-orang yang memiliki keahlian dan pengetahuan yang memberikan pendapat akan tetapi di dalam permasalahan agama kita melihat setiap orang berani memberikan pendapat dan ikut andil meramaikan perbedaan pendapat yang ada?!

[2] Tafsir Kabir, jilid 11, hal 139.

[3] Usul-Kafi, jilid ke-2, hal 323 (kitab al-Hujjah, bab-bab Tarikh, Bab Maulidin-nabi Saw)

[4] Permulaan ayat tersebut adalah: “Telah diharamkan kepada kalian bangkai, darah, daging babi, hewan-hewan yang disembelih dengan tanpa menyebut nama Allah, hewan-hewan yang tercekik,hewan-hewan yang terjatuh dari ketinggian dan hewan-hewan yang mati karena ditanduk hewan-hewan lain atau hewan-hewan sisa dari binatang-binatang yang suka berburu kecuali yang telah disembelih oleh kalian, juga hewan-hewan yang disembelih di atas arca-arca; dan begitu juga membagikan daging hewan dengan kayu-kayu panah yang khusus untuk mengundi nasib semua pekerjaan-pekerjaan ini adalah fasik dan berdosa.”

[5] Bagian akhir dari ayat yang sedang kita bahas itu adalah: “sedang mereka yang sedang terjepit dalam keadaan lapar dia tidak mampu mendapatkan bahan makanan dengan tanpa cenderung kepada dosa (maka tidak apa-apa dia memakan daging-daging yang telah dilarang) maka Allah Swt maha pengampun lagi maha penyayang”.

[6] Kandungan 4 ayat idthirar ini beliau memberikan Kewenangan  terhadap umat manusia untuk memanfaatkan daging-daging yang telah dilarang untuk menjaga jiwa dan keselamatannya yang jelas penggunaan itu harus sesuai dengan keperluannya; yang jelas hukum ini pada zaman kita sangat sedikit kita jumpai akan tetapi dalam perjalanan-perjalanan ke luar negeri dan ke berbagai Negara yang penyembelihan binatang-binatang tidak dilakukan dengan syar’i itu dapat kita temukan; oleh karena itu mereka yang bepergian ke negara-negara tersebut mereka yang sama sekali dia tidak memakan daging atau bahan-bahan protein lain keselamatannya akan terganggu maka dengan dalil darurah dia dapat menggunakan dan memanfaatkan daging-daging tersebut seperlunya untuk menghilangkan bahaya yang mengancam. Perlu ditekankan lagi bahwasanya itu harus sesuai dengan kebutuhan dan darurat yang ada. 

[7] Kendati dalam topik kitab al-Ghadir terdapat kitab-kitab lain seperti Tabaqatul-Anwar, al-murajaat, Ihhqaqol-Haq dan yang lainnya itu telah ditulis akan tetapi kitab-kitab yang kita sebutkan tadi tidak bida menyamai kitab al-Ghadir; karena Marhum Allamah Amini telah membahasnya dengan lebih mendalam dan lebih teratur.

[8] Perbedaan antara sahabat dan tabiin adalah sahabat orang yang bertemu dengan Rasul Saw dan hidup di zaman beliau sedang tabiin dia tidak sempat berziarah kepada rasul dan tidak hidup sezaman dengan beliau akan tetapi mereka hidup di zaman para sahabat beliau.

[9] Al-Ghadir filKitab was-Sunnat wal-Adab, jilid 1, hal 230.

[10] Ad-Durul-Mantsur, jilid ke-2, hal 259.

[11] Ad-Durul-Mantsur, jilid 2, hal 259..

[12] Pada abad kelima hijriah hadis al-Ghadir mendapat tempat dan perhatian, sehingga pada abad tersebut begitu banyak kitab-kitab yang ditulis tentangnya.

[13] Tarikh Baghdad, jilid 8, hal 290.

[14] Jelas puasa di hari ke delapan belas bulan Dzul Hijjah guna mensyukuri ditetapkannya wilayah memiliki fadilat yang besar dan setara dengan pahala puasa enam puluh bulan hal ini juga merupakan bukti lain akan peristiwa maha penting yang terjadi di Ghadir jika tidak sangat sulit dibayangkan pahala yang besar dijanjikan untuk hari tersebut.

[15] Syawahid-Tanzil, jilid pertama, hal  153

[16] Tafsir Nemuneh, jilid 4, hal 266.

[17] Ruhul-Ma’ni, jilid 6 ,hal 195.

[18] Usul-Kafi, jilid 3, hal 30, kitabul-Iman wal-Kufr, bab Da’aimul-Islam, hadis ke-5.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Al Quran dan Ahlul Bayt as


Ahlul Bait Dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab: 33

Dalam ayat ini Allah menyebut mereka Ahlulbait. Dia berfirman: “Innamâ yuridu l’llâhu liyudzhiba ‘ankumu l’rijsa ahla l’bayt wa yuthahhirakum tathhirâ”. Artinya: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan al-rijs dari kamu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” (QS. 33:33).

Imam Ja’far Al-Shadiq ditanya mengenai al-rijs yang terdapat pada ayat diatas. Beliau menjawab: “Al-Rijsu itu adalah al-syak (keraguan)”. (Ma’ani l’Akhbar).

Sebagian muslim beranggapan bahwa tafsir ahlulbayt pada ayat di atas adalah istri-istri Rasulullah saw. Penafsiran itu terjadi karena awal ayat ini memang ditujukan kepada istri-istri Nabi, yaitu : “Dan hendaklah kamu (istri-istri Nabi) tinggal di rumah-rumah kamu, dan janganlah kamu bersolek seperti kaum jahiliah yang pertama, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah serta Rasul-Nya…”. Tafsir itu tidak benar karena kata ganti (personal pronoun atau dhamir) bagi istri-istri Nabi dan untuk ahlulbaitnya jelas berbeda; untuk istri-istri Nabi, kata gantinya mu’annats atau feminin, sedangkan untuk Ahlulbait kata gantinya mudzakkar atau maskulin.

Selain itu, penafsiran untuk istri-istri Nabi ini tidak bisa diterima karena penjelasannya bukan dari Rasulullah. Padahal, orang yang paling mengetahui tafsir ayat ini adalah Nabi saw sendiri. Dan Al-Quran juga telah memerintahkan kita untuk mengikuti beliau sebagaimana dalam firmanNya: “Dan telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir”. (Al-Nahl:44).

“Dan tidak Kami turunkan Al-Kitab melainkan agar kamu jelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Al-Nahl:64).

“Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakan dan apa-apa yang dia larang maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya”. (QS. 59:7).

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Uli l’amri (para khalifah Rasulullah yang dua belas) dari kamu…”. (QS 4:59).

Jika demikian, maka siapakah Ahlulbait yang disebutkan dalam Al-Ahzab ayat 33 ini menurut Nabi dan sebagian sahabatnya itu? Dalam hadis Sahih Muslim diriwayatkan sebagai berikut:

Aisyah mengatakan: “Pada suatu pagi Rasulullah saw keluar dari rumah) dengan membawa kain berbulu yang berwarna hitam. Kemudian datang (kepada beliau) Hasan putra Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain); lalu datang Husayn lantas dia masuk bersamanya; kemudian datang Fathimah, lantas beliau memasukannya; kemudian datang Ali, lalu beliau memasukannya. Kemudian beliau membaca ayat : “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan dari kalian wahai Ahlulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya”. (Lihat Shahih Muslim bab fadha’il Ahli bayt Nabiy; Al-Mustadrak ‘ala l’Shahihayn 3/147; Sunan Al-Bayhaqi 2/149 dan Tafsir Ibnu Jarir Al-Thabari 22/5).

Amir putra Abu Salamah–anak tiri Rasulullah–mengatakan: “Ketika ayat ini “innama yuridu l’llahu liyudzhiba ‘ankumu l’rijsa ahla l’bayt wa yuthahhirakum tathhira” diturunkan di rumah Ummu Salamah, beliau memanggil Fathimah, Hasan dan Husain sedangkan Ali as berada di belakang beliau. Kemudian beliau mengerudungi mereka dengan kain seraya beliau berdoa: “Ya Allah mereka ini ahlulbaitku maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya”. Ummu Salamah berkata: “Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?” Beliau bersabda: “Engkau tetap di tempatmu, engkau dalam kebaikan”. (Al-Turmudzi 2:209, 308 ; Musykilu l’Atsar 1:335; Usudu l’Ghabah 2:12; Tafsir Ibni Jarir Al-Thabari 22: 6-7).

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw telah mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husaun, Ali, Fatimah lalu beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini Ahlulbaitku dan orang-orang terdekatku, hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya”. Kemudian Ummu Salamah berkata: “Aku ini bersama mereka wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan”. (HR Al-Turmudzi 2:319).

Anas bin Malik berkata: “Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah as selama enam bulan, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya”. (HR Al-Turmudzi 2:29).

Itulah beberapa kesaksian dari beberapa kitab Sunni bahwa Ahlulbait dalam surah Al-Ahzab itu sebenarnya bukanlah istri-istri Nabi saw melainkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, sekalipun ayat itu penulisannya digabungkan dengan ayat yang menceriterakan istri-istri Nabi saw. Alasannya, terkadang terselip di dalam Al-Quran itu beberapa ayat madaniyah atau makiyah atau sebaliknya atau satu ayat mengandung dua cerita seperti pada ayat di atas dan tentu saja para ulama telah memaklumi hal tersebut.

Surah Al-Syura:23

Ketika orang-orang musyrik berkumpul di satu tempat pertemuan mereka, tiba-tiba berkatalah sebagian dari mereka kepada yang lainnya: Apakan kalian melihat Muhammad meminta upah atas apa yang dia berikan? Lalu turunlah ayat: “Katakanlah aku tidak meminta upah dari kalian selain kecintaan (mawaddah) kepada al-qurba”. (Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasyaf).

Kemudian beliau berkata: Telah diriwayatkan ketika ayat tersebut turun bahawa ada orang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah kerabatmu yang telah diwajibkan atas kami mencintai mereka? Beliau menjawab: “Mereka itu adalah Ali, Fathimah dan kedua putranya (Hasan dan Husain)”.

Ayat di atas telah mewajibkan seluruh manusia khususnya kaum Muslim untuk mencintai dan mengikuti keluarga Nabi atau Ahlulbait. Dan kecintaan kepada mereka adalah dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda: “Segala sesuatu ada asasnya dan asas Islam adalah mencintai Ahlulbaitku”. (Hadis). Dan membenci mereka akan menjadilan seluruh amal kita sia-sia dan menyeret kita ke dalam neraka. Nabi saw bersabda: “Maka seandainya seseorang berdiri (beribadah) lalu dia salat dan puasa kemudian dia berjumpa dengan Allah (mati), sedangkan dia benci kepada Ahlulbait Muhammad, niscaya dia masuk neraka.” Al-Hakim memberikan komentar terhadap sabda Nabi ini sebagai berikut: “Ini hadits yang baik lagi sah atas syarat Muslim”. (Kitab Al-Mustadrak Shahihayn 3:148).

Surah Ali ‘Imran:61

Ayat ini disebut ayat mubahalah karena di dalamnya ada ajakan untuk bermubahalah dengan para pendeta Nasranim yaitu: “Siapa yang menbantahmu tentang dia (Al-Masih) setelah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah (kepada mereka): Marilah, kami memanggil anak-anak lelaki kami dan (kamu memanggil) anak-anak lelaki kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamudan diri-diri kami serta diri-diri kamu, kita bermubahalah dan kita tetapkan laknat Allah atas mereka yang berdusta”.

Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasyaf berkata: “Sesungguhnya ketika mereka diseru untuk bermubahalah mereka mengataakan: ‘Nanti akan kami pertimbangkan terlebih dahulu’. Tatkala mereka berpaling (dari mubahalah) berkatalah mereka kepada Al-Aqib—yang menjadi juru bicara mereka: ‘Wahai hamba Al-Masih, bagaimanakah menurutmu?’ Dia berkata: ‘Demi Allah wahai umat Nasrani, kalian tentu tahu bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul. Dia datang kepadamu membawa penjelasan mengenai Isa (Yesus). Demi Allah tidak ada satu kaum pun yang bermubahalah dengan seorang Nabi lalu mereka hidup. Dan jika kalian melakukan mubahalah dengannya niscaya kalian semua pasti akan binasa, dan apabila kalian ingin tetap berpegang kepada ajaran kalian, maka tinggalkan orang ini dan pulanglah ke kampung halaman kalian”.

Keesokan harinya Nabi saw datang dengan menggendong Husain dan menuntun Hasan dan Fatimah berjalan di belakang beliau sedangkan Ali berjalan di belakang Fatimah. Nabi bersabda: “Bila aku menyeru kalian maka berimanlah!”. Saat melihat Nabi dan Ahlulbaitnya, berkatalah uskup Najran : “Wahai umat Kristen, sungguh aku melihat wajah-wajah yang sendainya mereka berdoa kepada Allah agar Dia (Allah) menghilangkan sebuah gunung dari tempatnya pasti doa mereka akan dikabulkan. Oleh karena itu, tinggalkan mubahalah ini sebab kalian akan celaka dan nantinya takkan tersisa seorang Kristen pun sampai hari kiamat”.

Akhirnya mereka berkata: “Wahai Abul Qasim, kami telah mengambil keputusan bahwa kami tidak jadi bermubahalah, namun kami ingin tetap memeluk agama kami.” Rasul bersabda: “Jika kalian enggan bermubahalah, maka terimalah Islam bagi kalian dan akan berlaku hukum atas kalian sebagaimana berlaku atas mereka (muslim yang lain).”

Surah Al-Maidah:55

“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam keadan ruku’”. (Al-Maidah: 55).

Berdasarkan hadis-hadis yang dinukil baik oleh kalangan ulama Syi’ah maupun Ahlussunnah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali as, dan sesuai dengan kajian para ahli tafsir dan hadis dari kalangan Syi’ah serta pengakuan ulama Ahlussunnah yang tidak sedikit, orang yang menyedekahkan cincinnya kepada si faqir dalam keadaan shalat (waktu ruku’) itu adalah pribadi agung Ali as.

Allamah Mar’asyi dalam kitab-Nya Ihqâqul Haqq berpendapat bahwa ada sekitar 85 kitab hadis dan tafsir Ahlussunnah yang menegaskan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Imam Ali as.

Dengan riwayat-riwayat ini, jelas bahwa yang dinginkan dari kata jamak pada ayat di atas adalah kata tunggal dan itu adalah Imam Ali as. Akan tetapi, yang perlu dicermati di sini adalah apa arti sebenarnya dari kata wali yang terdapat dalam ayat ini.

Surah Al-Maidah:67 dan ayat 3

Peristiwa Ghadir berkaitan dengan sebuah momen yang terjadi di penghujung kehidupan Nabi saw. Peristiwa ini terjadi sewaktu beliau kembali dari menunaikan haji Wadâ’. Peristiwa besar ini terjadi di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum. Tempat ini adalah tempat berpisahnya para jamaah haji dari Mesir, Irak, dan para jamaah haji yang berangkat dari Madînah.

Pada tahun ke-10 H, Nabi saw bersama sekelompok besar dari sahabatnya pergi ke Mekah untuk menunaikan haji. Setelah menunaikan ibadah tersebut, beliau memberi titah kepada para sahabat untuk kembali ke Madînah. Namun, ketika rombongan sampai di kawasan Râbigh, sekitar tiga mil dari Juhfah, Jibril datang dan turun menjumpai Rasul di Ghadir Khum dengan menyampaikan misi dan wahyu dari Tuhan:

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukannya, niscaya kamu tidak menyampaikan risalah-Nya, dan (ketahuilah) Allah akan menjagamu dari manusia.” (Al-Maidah: 67)

Dengan turunnya ayat ini, Rasulullah memerintahkan rombongan untuk berhenti dan menyuruh mereka yang telah berlalu untuk kembali serta memerintahkan untuk menunggu rombongan yang masih tertinggal di belakang. Saat itu adalah waktu Zuhur. Hawa sangat panas sekali dan mimbar pun didirikan. Shalat Zhuhur didirikan secara berjamaah. Kemudian setelah semua berkumpul, beliau berdiri di atas mimbar setinggi 4 onta, dan dengan suara lantang beliau berpidato:

“Segala puji bagi Allah, dari-Nya kita minta pertolongan, dan kepada-Nya kita beriman dan berserah diri, dan kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan amal perbuatan kita. Tuhan yang tiada pembimbing dan pemberi hidayah selain-Nya. Siapa yang diberi petunjuk oleh-Nya, tidak akan ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya. Aku bersaksi bahwa tiada yang layak disembah selain-Nya, dan Muhammad adalah utusan dan Hamba-Nya.

Wahai Manusia, sudah dekat rasanya aku akan memenuhi panggilan-Nya, dan akan meninggalkan kalian. Aku akan dimintai pertanggung jawaban, kalian pun juga demikian. Apakah yang kalian pikirkan tentang diriku?”

Lalu mereka menjawab:

“Kami bersaksi bahwa anda telah menjalankan dan berupaya untuk menyampaikan misi yang anda emban. Semoga Allah swt memberi pahala kepadamu.”

Nabi saw melanjutkan:

“Apakah kalian bersaksi bahwa Tuhan hanya satu dan Muhammad adalah hamba sekaligus Nabi-Nya, surga, neraka, dan kehidupan abadi di dunia lain adalah benar dan pasti?” Lalu mereka menjawab lagi: “Iya, kami bersaksi”.

Kemudian Nabi saw berkata:

“Wahai manusia, aku akan menitipkan dua hal berharga pada kalian supaya kalian beramal sesuai dengan dua hal tersebut”.

Pada saat itu, berdirilah seorang dari mereka seraya berkata, “Apa kedua hal tersebut?”

Nabi saw menjawab:

“Pertama adalah kitab suci Allah di mana satu sisinya berada di tangan-Nya, sedang yang lain berada di tangan kalian, sedang hal lainnya yang akan aku titipkan pada kalian adalah itrah dan Ahlul Baytku. Tuhan telah memberitahukan kepadaku bahwa kedua hal tadi tidak akan berpisah sampai kapanpun. Wahai manusia, janganlah kalian mendahului Al-Qur’an dan Itrahku dan sekali-kali janganlah kalian tinggalkan keduanya, karena kalian akan binasa dan celaka”.

Tak lama Kemudian nabi mengangkat tangan Ali as setinggi-tingginya sehingga tampaklah sisi bawah tangan dari kedua pribadi yang agung itu dan beliau memperkenalkan Imam Ali kepada khalayak seraya berkata:

“Wahai manusia, siapa gerangan yang lebih layak dan lebih berhak terhadap kaum Mukminin dari pada mereka sendiri?”

Mereka menjawab:

“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”.

Nabi saw berkata:

“Sesungguhnya Allah maulâ-ku dan aku adalah maulâ bagi mukminin, dan aku lebih berhak atas diri mereka ketimbang mereka. Maka barangsiapa yang maulâ-nya adalah diriku, maka ketahuilah bahwa Ali adalah maulâ-nya”.

Sesuai dengan penuturan Ahmad bin Hanbal, nabi mengulang ungkapan ini sebanyak empat kali. Kemudian beliau melanjutkan dengan do’a:

“Ya Allah, cintailah mereka yang mencintai Ali, dan musuhilah mereka yang memusuhinya, kasihanilah mereka yang mengasihinya, murkailah mereka yang membuatnya murka, tolonglah mereka yang menolongnya, hinakanlah mereka yang menghina dan merendahkannya, dan jadikanlah ia sebagai sendi dan poros (mihwar) kebenaran”.

Setelah selesai dan sebelum khalayak berpencar, Jibril datang kembali dengan membawa wahyu: “Hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu…” (QS. 5: 3) dan pada saat itu Rasulullah bersabda, “Maha Besar Allah atas penyempurnaan agama dan nikmat. Ia telah ridha dengan misiku dan kepemimpinan Ali as setelahku.” Atas dasar ini, apakah ada penafsiran lain selain imâmah dan kepemimpinan Ali as dari penyempurnaan agama dan nikmat itu?

Koreksi Sanad Hadis

Hadis Al-Ghadir adalah salah satu hadis yang sangat populer, baik dalam Syi’ah maupun Ahlussunnah. Sebagian ahli hadis mengklaim bahwa hadis ini adalah mutawâtir. Selain para ulama Syi’ah, sekelompok ulama Ahlussunnah pun secara independen membahas dan mengenalisanya, seperti: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Thabari (wafat 310 H.), Abu Abbas Ahmad bin Ahmad bin Said Hamadani (wafat 333 H.), dan Abu Bakar Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Salim Tamimi Baghdadi (wafat 355 H.). Dan masih banyak lagi. (Lihat: Allamah Amini, jilid ke-1 kitab al-Ghadîr hal. 152-157, beliau telah menyebutkan nama-nama ulama yang menulis kitab untuk mengomentari dan menganalisa hadis ini. Beliau juga menjelaskan metode yang digunakan oleh para penulis tersebut di dalam memaparkan penjelasannya.

Untuk lebih memperjelas sejauh mana perhatian tâbi’în dan tâbi’ut-tâbi’în serta para ilmuwan dan fuqaha terhadap penukilan hadis ini dan kesahihan sanad-Nya, kami bawakan secara singkat sejumlah perawi hadis ini dari Ahlussunnah di setiap abad. Untuk membahasnya lebih detail, bisa dirujuk kepada kitab-kitab yang memuat hal ini lebih jauh. Para penukil hadis ini adalah:

1. 110 sahabat.

2. 84 tâbi’în.

3. 56 ulama abad kedua.

4. 92 ulama abad ketiga.

5. 43 ulama abad keempat

6. 24 ulama abad kelima.

7. 20 ulama abad keenam.

8. 20 ulama abad ketujuh.

9. 19 ulama abad kedelapan.

10. 16 ulama abad kesembilan.

11. 14 ulama abad kesepuluh.

12. 12 ulama abad kesebelas.

13. 13 ulama abad keduabelas.

14. 12 ulama abad ketigabelas.

15. 19 ulama abad keempatbelas.

Para muhaddis atau ahli hadis Ahlussunnah yang menukil hadis ini diantaranya adalah Ahmad bin Hanbal asy-Syaibânî dengan 40 sanad, Ibn hajar al-’Asqallânî dengan 25 sanad, al-Jazri Syafi’î dengan 80 sanad, Abu Said as-Sajistani dengan 120 sanad, Amir Muhammad al-Yamani dengan 40 sanad, Nasai dengan 250 sanad, Abu Ya’la al-Hamadani dengan 100 sanad, Abul ‘Irfân Haban dengan 30 sanad. Jumlah ini diambil dari buku Al-Ghadîr jilid pertama. Sedang pembahasan sanad hadis ini terdapat pada kitab-kitab tersendiri, di antaranya Ghâyatul Marâm, karya Allamah Sayyid Hasyim al-Bahrânî (wafat 1390), dan Al-’Aqabât, karya Sayyid Mir Hamid Husain Hindi (wafat 1306).

Dengan demikian, peristiwa Ghadir Khum dan pelantikan yang dilakukan oleh Nabi saw merupakan salah satu kejadian yang pasti dalam sejarah, sehingga siapapun yang mengingkarinya, maka dia takkan bisa menerima peristiwa historis lainnya.

Arti Hadis

Poin utama dari hadis ini adalah penggalan riwayat yang berbunyi “man kuntu maulâ fa ‘Aliyun maulâ”. Dengan memperhatikan berbagai konteks yang ada, maksud dari kata maulâ dalam hadis ini berarti aulâ (lebih utama). Pada akhirnya, hadis ini mengindikasikan bahwa Ali as adalah wali setelah Nabi dan penanggung jawab kaum muslimin dan ia lebih utama dari diri mereka. Konteks-konteks (qarînah) tersebut adalah:

1. Di pembukaan hadis Nabi saw bersabda, “Tidakkah aku terhadap diri kalian lebih utama dari diri kalian sendiri?” Ungkapan setelahnya yang mengatakan man kuntu maulâhu berdasar pada ungkapan ini. Dengan demikian, keserasian keduanya memberikan pengertian di sini bahwa maulâ berarti awlâ dalam mengurusi urusan muslimin (tasharruf).

2. Pada akhir hadis Rasul bersabda, “Allôhumma wâli man wâlâh”.Doa ini merupakan penjelasan atas kedudukan Imam Ali as dan hal ini dapat bermakna sebagaimana mestinya jika wali itu berarti kepemimpinan dan wilayah.

3. Rasulullah saw meminta penyaksian dari khalayak dan ungkapan “man kuntu …” dalam kontek penyaksian terhadap keesaan Allah swt dan kerasulan. Sehingga nilai tersebut (yakni kewalian Ali as) dapat dipahami dari konteks tadi, yakni penyaksian atas keesaan Allah dan kerasulan).

Selain konteks-konteks yang telah disebutkan ini, masih terdapat konteks-konteks lain yang mengindikasikan keagungan misi yang harus disampaikan oleh Rasulullah pada saat itu. (Sayyid Chairul Umam Jamalullail)

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Keutamaan Ahlul Bait di Mata Para Sahabat


Telah diketahui secara umum bahwa para khulafa ar rosyidin yang empat adalah mertua dan menantu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr dan Umar memiliki kemuliaan yang lebih dimana Rosulullah menikahi putri-putrinya: Aisyah dan Hafshoh, sedang Utsman dan Ali as juga mempunyai kemuliaan yang lebih dimana mereka menikahi putri-putri Rosulullah. Utsman menikah dengan Ruqoyyah dan setelah ia (Ruqoyyah) meninggal dunia kemudian menikah dengan saudaranya yakni Ummu Kultsum. Adapun Ali menikah dengan Fatimah as. Abu Bakr berkata kepada Ali as. “Demi yang jiwaku ada di genggamanNya, aku lebih menyukai untuk menyambung (silaturrahmi) dengan keluarga Rosulullah daripada keluargaku sendiri.” (HR Bukhori no 3712). Dalam riwayat lain no 3713, beliau berkata, “Jagalah Rosulullah dan ahli baitnya” bahkan pernah pada suatu hari setelah beliau menunaikan shalat ashar, ia melihat Hassan bermain dengan anak-anak seusianya lalu beliaupun memanggulnya di atas pundaknya. (HR Bukhori no: 3542).

Umar ibnul Khattab ketika ditimpa kemarau ia mendatangi Abbas bin Abdul Muthallib bertawassul -meminta do’a darinya- (HR Bukhori no: 1010 dan 3710). Bertawassulnya beliau kepada Abbas adalah karena hubungan keluarganya dari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga beliaupun berkata dalam tawassulnya, “Sesungguhnya kami bertawassul kepadaMu dengan paman Nabi kami.” Dalam kesempatan lain ia pernah berkata kepada Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Demi Allah keislamanmu pada hari engkau masuk Islam lebih aku cintai / sukai daripada Islamnya Khattab jika dia masuk Islam, karena keislamanmu lebih disukai oleh Rosulullah daripada keislaman Khattab.” (Tafsir Al Qur`anul Adzim: 4/116).

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang paling mirip perangainya dengan Rosulullah, baik saat berdirinya maupun saat duduknya selain dari Fatimah binti Rosulullah.” (HR Abu Daud no 5217, Tirmidzi no 3872).
Para pembaca, sangatlah banyak riwayat-riwayat dan atsar para sahabat, para tabi’in, serta tabi’it tabi’in dan ahlil ilmi yang menunjukkan akan kecintaan, penghormatan, dan pengagungan mereka terhadap ahlul bait Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian kaum muslimin ahlussunnah wal jama’ah semua bersepakat untuk mencintai dan mengagungkan para sahabat dan ahlul bait Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berlepas diri dari sikap ekstremnya dan kedholimannya kaum Rafidhoh, Bathiniyah, Ismailiyah, dan Itsna Atsariyah dari kalangan Syi’ah serta Khowarij terhadap para sahabat dan ahlul baitnya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wal ‘ilmu ‘indallah.
Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Bandung

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Musyawarah; Perspektif al-Qur’an


Sambungan:

Masalah terakhir yang akan dianalisa adalah berkenaan dengan larangan musyawarah dengan perempuan, apakah maksud sebenarnya dari hadis tersebut? Apakah secara mutlak tidak dapat bermusyawarah dengan perempuan? Tidak diragukan lagi, bahwa dampak positif yang dihasilkan dari musyawarah, diantaranya dapat ditemukannya jalan keluar terbaik, kemampuan manusia semakin berkembang, mengokohkan jalinan kerjasama antara sesama dan sebagainya. Al-Qur’an sebagai kitab pedoman bagi umat Islam menekankan untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan sebuah perkara, sebagaimana yang dapat kita simak dalam ayat berikut ini:

“…Sedang urusan mereka (diputuskan) melalui musyawarah…”,

“…Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”.               

Kedua ayat di atas bersangkutan dengan perintah musyawarah secara umum, artinya mencakup musyawarah antara laki-laki dengan perempuan ataupun sebaliknya. Dalam kaidah bahasa Arab, ketika suatu ungkapan yang obyeknya adalah laki-laki dan perempuan, maka ia akan menggunakan kata ganti (dzamir) laki-laki (mudzakar). Namun, dalam beberapa ayat dengan jelas memerintahkan musyawarah dengan perempuan seperti yang dapat kita simak dari ayat berikut ini:

“…Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun), dengan kerelaan keduanya dan permusyawarahan maka tidak apa-apa atas keduanya.”

Ayat tersebut sebagai bukti atas anjuran bermusyawarah dengan perempuan dalam urusan keluarga.

Adapun berkenaan dengan politik, kita lihat dalam ayat yang menjelaskan kisah Ratu Balqis ketika bermusyawarah dengan anggota dewan permusyawaratan kerajaan untuk mengambil keputusan dalam rangka menghadapi usulan Nabi Sulaiman as:

“Dia (Balqis) berkata: “Wahai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusan-ku, aku tidak pernah memutuskan sesuatu perkara sebelum kamu berada dalam majlisku”.

Lalu, para dewan permusyawaratan itu mengusulkan untuk mengirim pasukan:

“Mereka menjawab: “Kita adalah orang yang memiliki kekuatan dan juga keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan ada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.

Setelah mendengar pendapat para anggota dewannya, Ratu Balqis pun memberikan sebuah usulan:

“Balqis berkata; “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikianlah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.

Berdasarkan ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa pendapat Ratu Balqislah yang benar dan yang dapat menghantarkan untuk mendapat hidayah, sehingga Ratu Balqis berkata:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah Tuhan semesta alam”.

Sirah Para Nabi dalam Bermusyawarah dengan Perempuan

Di sini kita hanya menukil beberapa kisah dari para nabi saja diantaranya:

Kisah putri Nabi Syuaib as. Ketika salah satu putri Nabi Syuaib as mengusulkan untuk memperkerjakan Nabi Musa as, seperti yang dinukil dalam ayat berikut ini:

“Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

Yang patut diperhatikan dari kisah tersebut ialah, putrid Nabi Syuaib as melontarkan pendapat kepada ayahnya disertai dengan argumen yang logis.

Kisah Sarah, istri Nabi Ibrahim juga menjelaskan bagaimana Islam memandang seorang perempuan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as. Sarah mengusulkan agar Nabi Ibrahim as memohon keturunan kepada Allah dan berkata:

“Wahai Ibrahim, usiamu telah lanjut jika engkau memohon kepada Allah rizki berupa anak yang akan menjadi penyejuk mata kita…lantas Ibrahim memohon kepada Allah agar dianugrahi seorang anak lelaki yang pandai, kemudian Allah mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya aku telah menganugrahkan kepadamu seorang anak lelaki yang pandai”.

Kisah Nabi Muhammad saw beserta Ummu Salamah. Saat itu Rasul bersama para pengikutnya hendaknya menziarahi Ka’bah, tapi karena Mekkah masih dikuasai orang-orang kafir dan mereka tidak memberikan izin kepada Rasul beserta pengikutnya untuk berziarah. Akhirnya terbentuklah sebuah perjanjian damai dimana kaum muslimin harus kembali ke Madinah dan tahun depan mereka baru dapat menzaiarahi Ka’bah. Setelah menandatangani surat perjanjian tersebut, kemudian Rasul memerintahkan pengikutnya untuk menyembelih binatang kurban dan mencukur rambut di tempat tersebut, tapi mereka tidak mendengarkan perintah Rasul. Rasul merasa sedih terhadap pembangkangan yang dilakukan oleh sebagain sahabat beliau, lantas beliau menceritakan perkara tersebut kepada Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah mengusulkan kepada beliau untuk memulainya terlebih dahulu sehingga akhirnya pengikut beliau pun dapat mengikutinya. Rasul melaksanakan apa yang disarankan oleh Ummu Salamah, ketika Rasul berkurban dan mencukur rambutnya lalu para pengikutnya melakukan apa yang telah beliau lakukan.

Dari penjelasan di atas maka ungkapan Iman Ali as yang mengatakan “Jauhilah bermusyawarah dengan perempuan, kecuali dengan perempuan yang dikarenakan mempunyai kesempurnaan akal maka ia telah berpengalaman”, turut menguatkan argumen di atas. Pelarangan musyawarah tersebut lebih dikarenakan situasi kondisi wanita saat itu dan bukan pelarangan yang bersifat substansial atas wanita sebagaimana yang dapat kita ketahui dari hadis terakhir.

Penulis: S2 Jurusan Tafsir al-Quran di Universitas Bintul Huda Qom, Republik Islam-Iran


[1] Kermani, Syarah Bukhari, 1937-1981, Beirut: Daaru al-Ihyai at-Turaatsu al-Arabi, jilid 18, Bab Nikah, hal: 75.

[2] Ray Syahri, Muhamad, Miza al-Hikmah, 1416, Qom: Maktabu al-a’laami al-Islamii, jilid 9, hal: 107.

[3] Bobawaeh, Muhamad (Syeikh Shaduq), Man Laa Yahdzur Faqih, Beirut: Daaru al-Adzwaa, jilid 3, hal: 281, bab 11, hadis ke-6, dan Dar at-Ta’aruf lil Matbu’at, Nahjul-Balaghah wa Mu’jam al-Mufahrast li Alfadzihi, 1990, Beirut, Khutbah ke-80, hal: 63.

[4] Al-Hur al-Amilii, Muhamad bin Husain, Wasa’il as-Syi’ah, 1413 H, Beirut: Daaru-al-Ihyai at-Turotsu al-Arabi, jilid 14, hal: 131, hadis ke-25370.

[5] Echols, jhon dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, 1986, Jakarta, Gramedia, hal: 382.

[6] Partanto, Pius A. dan al-Barry M Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, 1994, Surabaya: Arkola hal:473.

[7] Bobawaeh, Muhamad (Syeikh Shaduq), opcit, jilid 3, hal:281, bab 11, hadis ke-6.

[8] Al-Hur al-Amili, Muhamad bin Husain, opcit, Khitbah ke-80, hal:63.

[9] Khaz Ali, Kubra dkk, Zan, Aql, Iman Masywerat, 1380, Qom: Safir Subh, hal: 231.

[10] Al-Musawi al-Khumaeni, Ruhullah, Tahrirul-Wasilah, 1408 H, Qom: Muaseseye Ismoiliyon, jilid 2, hal: 13.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Esensi Akal


Untuk mengetahui esensi akal manusia perlu dianalisa apa yang dimaksud akal dalam prespektif Rasul dan ma’sumin as sebagai pelengkap dalam memahami makna dari teks-teks yang telah disebutkan di atas. Hadis-hadis yang berkenaan dengan akal diantaranya;

Rasul saww bersabda: “Sesungguhnya semua kebajikan diketahui melalui akal”.

Imam Ali as berkata: “Akal adalah merupakan modal alami manusia, melalui belajar dan pengalaman akal dapat bertambah”.

“Akal adalah agama dalam (hujjah bathin) bagi manusia sebagaimana syari’at (hujjah zahir) sebagai agama luar bagi manusia”.

“Akal terbagi kepada dua bagian, akal alami (tabi’i) dan akal yang dihasilkan melalui pengalaman (tajrubi) yang mana hasil keduanya adalah menguntungkan manusia”.

“Akal petunjuk kebenaran”.

Dan siapakah orang yang berakal? Imam Ali as dan Imam Ja’far as memberikan ciri-ciri bagi mereka yang berakal. Imam Ali as berkata:

“Orang berakal bukan hanya sekedar dapat membedakan kebaikan dari keburukan, tapi orang berakal adalah orang yang dapat membedakan kebaikan diantara dua keburukan”.

“Orang yang berakal adalah orang yang meletakan sesuatu pada tempatnya”.

Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Orang yang berakal adalah orang yang mengetahui (situasi dan kondisi) zamannya, posisi (diri)-nya dan menjaga lisannya”.

Melihat hadis-hadis di atas, secara umum, yang dimaksud dengan akal adalah parameter bagi manusia untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Dalam hal ini tergantung pada perempuan dan laki-laki itu sendiri sebagai pemilik akal. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa salah satu bukti kurangnya akal perempuan adalah kesaksian dua perempuan sama dengan kesaksian seorang laki-laki. Benarkah demikian? Bagaimanakah menurut al-Qur’an?

Dalam al-Qur’an disebutkan, salah satu hikmah dari kesaksian dua orang perempuan yang sama dengan seorang laki-laki adalah, jika salah satu dari perempuan itu lupa maka yang lain dapat mengingatkannya. Sebagaimana yang telah disinyalir dalam surat al-Baqarah ayat:282. Itu berarti al-Qur’an melontarkan persoalan lupa yang secara umum lebih cepat dialami oleh perempuan daripada laki-laki. Tidak dapat dipungkiri lupa merupakan salah satu bentuk kekurangan, tapi bukan berarti sebuah kekurangan yang menyebabkan manusia tidak dapat mencapai kesempurnaan sejati (hakiki) seperti yang dikehendaki Tuhan.

Dari sisi lain, akal manusia jika dilihat dari fungsi dan kegunaannya terbagi atas dua: “akal teoritis” (aql nadzari) yang berfungsi sebagai sumber proses berpikir. Dan “akal praktis” (aql amali) yang dengannya manusia dapat menerima setiap konsep sehingga dapat diaplikasikan dalam prilaku. Akal teoritis berhubungan dengan permasalahan pemikiran, pandangan, berargumentasi dan sebagainya. Adapun akal praktis bersangkutan dengan perihal penerimaan, kecenderungan, kerja keras, dan lain-lain. Sebagaimana terdapat di dalam kitab Ushul-Kafi, pembahasan dalam kitab tersebut adalah masalah “akal dan bala tentaranya dan kebodohan (jahl) beserta bala tentaranya”, dan yang dimaksud dengan akal di sini adalah akal praktis.

Pada dasarnya antara kedua jenis akal tersebut terdapat jarak yang jauh, oleh karenanya sering kita lihat manusia berilmu tapi tidak beramal atau beramal tanpa dilandasi ilmu. Menurut pendapat pertama, maksud dari ungkapan “wanita memiliki lemah akal” adalah, lemah dari sisi akal teoritis. Ini berarti, daya berargumen dan berpikir laki-laki lebih kuat dari perempuan. Untuk menguatkan persepsinya mereka berdalih dengan menggunakan ayat al-Qur’an, adz-Dzuhruf ayat 18, ketika memberikan jawaban kepada Arab jahiliyah tentang keyakinan malaikat sebagai anak perempuan Tuhan:

“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang ia tidak dapat memberi alasan yang kuat dalam berargumen”.

Pada zaman jahiliyah, jika masyarakat tidak membunuh anak perempuan niscaya mereka akan mendidiknya dengan berbagai corak dandanan dan perhiasan. Cara mendidik semacam ini menyebabkan kemampuan berpikir, yang didapat melalui akal teoritis anak-anak perempuan tersebut tidak dapat berkembang. Allah swt dalam ayat di atas telah mencela metode pendidikan seperti itu. Berargumen dengan ayat di atas untuk merendahkan martabat wanita sangatlah tidak tepat, karena hukum semacam itu tidak dapat digeneralisasikan. Hanya perempuan yang dididik dengan metode yang salah tadi saja yang dicela oleh Allah.

Beberapa kalangan berpendapat akal empiris (aql tajrubi) perempuan tidak sekuat kaum lelaki, karena tugas utama wanita adalah melahirkan dan mendidik anak, sehingga kesempatan untuk mendapatkan pengalaman antara laki-laki dan perempuan berbeda. Jadi perbedaan bukan terletak pada sisi alamiah akan tetapi lebih dikarenakan pembagian kerja antara mereka.

Sebagian lagi berpendapat, yang dimaksud dengan akal dalam riwayat di atas bukanlah tertuju pada kemampuan akal itu sendiri, akan tetapi lebih ditekankan pada cara berpikir pemilik akal. Dengan kata lain, letak perbedaan bukan pada esensi akal tetapi pada pengaktifan potensi akal. Perempuan jarang menganalisa suatu peristiwa dengan akalnya, ini semua dikarenakan jiwa emosional lebih mendominasi dirinya. Sementara untuk berpikir yang benar dibutuhkan suasana tenang dan penguasaan terhadap kestabilan emosional. Di sisi lain karena emosional laki-laki lebih rendah dibanding perempuan maka ia lebih cepat dapat menguasai dirinya. Oleh karena itu, jika ada seorang perempuan mampu mengendalikan emosionalnya maka ia pun dapat berpikir dan menganalisa dengan baik. Jelas sekali, jiwa emosi tidak selamanya buruk. Karena ketika Tuhan menganugrahkan jiwa emosional secara ekstra kepada wanita pastilah didasari alasan tertentu, salah satunya peran ibu yang memerlukan emosi yang lebih. Jelas, jiwa emosional harus ditempatkan pada tempatnya.

Berdasarkan jawaban-jawaban dia atas, secara ringkas dapat kita mengambil beberapa kesimpulan.

Pertama, andaikan hadis tersebut tidak bermasalah dari segi sanad (silsilah para perawi), maka maksud dari hadis di atas bukan tertuju pada substansi perempuan yang dinyatakan lemah iman, karena kalau menunjukkan substansinya maka tidak akan ada satupun perempuan yang mencapai kesempurnaan. Sementara realitanya betapa banyak perempuan yang mencapai kesempurnaan bahkan ia lebih tinggi derajatnya dari para lelaki sebagaimana yang dapat kita lihat dari beberapa ayat dan hadis yang telah disebut di atas.

Kedua, hadis di atas tidak berkenaan dengan semua perempuan, tapi situasi dan kondisilah yang menyebabkan Imam Ali as ketika dalam perang Jamal mengatakan hal itu (lihat kembali kitab Nahjul-Balaghah khutbah ke-80). Dengan istilah lain, ungkapan Imam Ali as berkaitan dengan proposisi eksternal (qadziyqh-kharijiyah) yang maksudnya tidak mencakup semua perempuan secara universal.

Tetapi mungkin muncul pertanyaan lain, kalaulah hadis tersebut tidak mencakup semua perempuan dan merupakan proposisi eksternal lantas kenapa dalam riwayat tersebut kata”nisa” (berarti: perempuan) memakai alif-lam sehingga dibaca ‘an-nisa’. Sementara dalam kaidah bahasa Arab penggunaan alif-lam istighraq digunakan untuk menunjukkan umum dan mencakup semua yang sejenisnya, apakah ini tidak terjadi kontradiksi?

Secara ringkas dapat dijawab bahwa, memang maksud riwayat tersebut tidak mencakup semua perempuan dan maksud dari perkataan Imam Ali as ialah perempuan pada peristiwa perang Jamal, akan tetapi beliau ingin mengisyaratkan bahwa jika ada perempuan yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh perempuan di perang Jamal itu maka hadis tersebut pun akan mencakup perempuan itu.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Kursi Allah swt; Antara Mentakwil dan Tidak Mentakwil


Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa alaa Aali Sayyidinaa Muhammad saww.

Pada bagian ketiga yang lalu, kita sudah sampai pada bagian ayat Kursi “Ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhithuuna bi syai’in min ‘ilmihi illa bimaa syaa”; He knows what is before THEM and what is behind THEM, and THEY cannot comprehend anything out of His knowledengane except what He pleases. Kali ini, mari kita tengok penggalan terakhir ayat Kursi, “wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardla wa laa ya-uduhu hifzhuhuma, wahuwal ‘aliyul ‘azhim”; yang terjemahan Melayu-nya di software Al Quran Sakhr ver. 6.31 adalah: Luasnya Kursi Allah (ilmuNya dan kekuasaanNya) meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dia lah Yang Maha Tinggi (darjat kemuliaanNya), lagi Maha Besar (kekuasaanNya).

 i sini, Kursi Allah dipahami (oleh sang penterjemah) sebagai ilmu-Nya dan kekuasaan-Nya. Ini wajar saja, sebab di penggalan sebelumnya dibicarakan mengenai ilmu dan pengetahuan Allah, dimana sesuai kaidah tauhid, ilmu itu hanya milik Allah dan pengetahuan para pemberi syafa’at itu tak lain tak bukan adalah dari Allah belaka. Pemahaman ini banyak digunakan oleh para mufasirin Al Quran. Sayyid M. Husain Thabathabai dalam Tafsir Al Mizan, misalnya, juga mendukung pemahaman ini dengan berlandaskan penjelasan Quran by Quran, akal maupun hadits-hadits ahlulbait AhS, tentu saja dengan pembahasan yang jauh lebih mendalam, a.l. dengan membandingkannya dengan pengertian ‘Arsy Allah, maupun menguraikan liputan ilmu mulai dari pengetahuan tentang hal-hal yang belum me-materialised sampai yang sudah.

 Di lain pihak, para mufassirin rujukan sebagian muslimin lainnya, agaknya memahami Kursi Allah sebagai “pokoknya Kursi, tapi tidak seperti kursi yang sering kita duduki itu”, yang kalau ditanya penjelasan lanjutannya akan berujung kepada “I have no idea”🙂. Contohnya, silakan lihat Al Quran terbitan Arab Saudi yang saya yakin banyak dimiliki oleh muslimin Indonesia, dan juga banyak tersedia di mushalla Hawken Drive, catatan kaki 161 yang berbunyi “… Pendapat yang sahih terhadap ma’na “Kursi” ialah tempat letak telapak kakiNya”. Tentu, kalau ditanya lebih jauh yang dimaksud telapak kaki Allah itu apa, pasti jawabnya “pokoknya telapak kaki, tapi tidak seperti telapak kaki yang selama ini kita kenal”, dan kalau ditanya lebih jauh lagi, ujung-ujungnya adalah “I have no idea”.

Maka kita amati di sini ada DUA kubu, sebut saja Kubu pro-Takwil*) yang memahami Kursi Allah sebagai ilmu atau kekuasaan Allah, dan Kubu Non-takwil yang menghentikan pemahamannya pada titik “have no idea”. Permasalahannya adalah kebanyakan dari Kubu Non-takwil menganggap takwil sebagai bid’ah dimana pelakunya adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka. Di lain pihak, Kubu pro-Takwil berpendapat bahwa setiap ayat Al Quran boleh dan bisa dipahami oleh manusia, sebab setiap ayat itu adalah petunjuk bagi kita semua. Jika ada ayat Quran yang TIDAK BOLEH dimengerti oleh manusia, maka itu berarti Allah telah menurunkan sesuatu yang FOR NOTHING. Padahal, kesia-siaan adalah mustahil dinisbatkan kepada Allah. Karena itu, takwil**) adalah salah satu metode memahami Quran, dan pelakunya berarti telah ber-ijtihad, yang kalaupun salah masih mendapatkan satu pahala, dan setiap pahala adalah nilai positif menuju surga🙂.

Terlihat kan bedanya? Sementara kubu non-takwil memandang hina saudara-saudaranya yang di kubu lainnya, yaitu dengan menganggap mereka sebagai ahli bid’ah calon penghuni neraka, kubu takwil sama sekali tidak menganggap yang tidak bertakwil akan jatuh ke neraka. Kita semua menyadari bahwa tidak semua orang dikaruniai Allah kemampuan dan ilmu yang sama, dan karenanya bagi yang tidak mampu ya tidak apa-apa. Men-takwil bukanlah sesuatu yang wajib, yang meninggalkannya diancam dosa. Jadi, sah-sah saja untuk tidak bertakwil, toh maqam seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh apakah dia mampu dan mau mentakwil atau tidak, tapi oleh taqwanya.

 Anyway, istilah ta’wil itu sendiri sebetulnya bukan hal yang asing. Ianya ada disebutkan di Al Quran sendiri dan hadits Rasul SAW. Lihat misalnya ayat athiullah wa athiurrasul wa uulil amri minkum (An Nisa: 59), di ujung ayat dikatakan “dzalika khairun wa ahsanu ta’wila” (itulah takwil yang baik dan paling bagus). Maknanya apa? Kita tahu bahwa pemahaman sehari-hari masyarakat jika mereka berselisih, penyelesaiannya adalah either dengan gontok-gontokan atau perang sehingga pihak yang menang berantem dianggap sebagai pihak yang benar (seperti hobi berantemnya kabilah-kabilah Arab waktu itu, ataupun hobi perangnya Bush dan konco-konconya, ataupun tradisi carok-nya orang-orang Madura🙂, no offense to Maduranese though), atau dengan menyerahkan keputusan kepada penguasa politik mereka (kepala suku, gubernur, raja, presiden atau whatever). Common understanding ini ternyata dianggap tidak valid oleh Al Quran. Ta’wil yang benar adalah keputusan diserahkan kepada Allah dan Rasul-Nya (farudduuhu ilallahi warrasuul).

 Artinya, ditunjukkan oleh ayat Al Quran ini bahwa ta’wil itu adalah suatu pemahaman yang BERBEDA dengan common understanding, dan ini adalah suatu metode yang logis saja, mengingat keadaan sosial ekonomi budaya suatu masyarakat dimana para Rasul AhS diturunkan umumnya adalah suatu keadaan yang perlu di-reform. Maka, common understanding yang didapat dari hasil proses sosial budaya ekonomi yang perlu direform itu tentu saja juga perlu direform (meskipun tentu ada juga sisi-sisi yang bisa dipertahankan). Karena itu, common understanding TIDAK BISA diterapkan secara membabi buta untuk memahami seluruh ayat-ayat Al Quran. Ada ayat-ayat yang pengertiannya menjadi melenceng jika dipahami based on merely common understanding, dan ada pula ayat-ayat yang boleh dipahami dengan common understanding (or you may say “literalism” if you like) tapi ayat-ayat itu juga mengandungi pengertian lanjutan yang lebih dalam lagi, dan untuk keperluan-keperluan inilah diperlukan ta’wil. Gitu lho.

 As for hadits yang mendukung ta’wil, saya cuplikkan sebuah hadits terkenal berikut, yang tercatat di Musnad Ahmad, Mustadrak Al-Hakim, Kanzul Ummal, dll. Abu Sa`id alKhudri reports: “We sat waiting for the Messenger of Allah (S) when he came out to meet us. The strap of his sandal was broken and he tossed it to `Ali. Then he (S) said, ‘A man amongst you will fight the people over the TA’WIL of the Qur’an in the same way as I have fought over its tanzil (revelation).’ Thereupon Abu Bakr said, ‘Is that I?’ The Prophet (S) said, ‘No.’ Then `Umar asked him, ‘Is that I?’ ‘No.’ said the Prophet (S). ‘It is the mender of the sandal (i.e. `Ali).'”

Hadits ini menunjukkan tidak saja ta’wil itu ada dalam upaya memahami Al Quran, tapi juga menunjukkan adanya authority penta’wilan. Di antara takwil yang berbeda-beda ada takwil yang benar di mata Allah. Di sini Rasul SAW men-sahkan Imam Ali AS sebagai seorang pentakwil yang authorised, meskipun Abu Bakar dan Umar, dengan niat baik mereka, telah pula bersedia berperang demi takwil Al Quran yang benar itu. Masalahnya, pentakwilan Al Quran harus dilakukan oleh orang yang benar-benar berilmu, memahami Al Quran 100% (menyentuh Al Quran) sehingga tidak terjadi distorsi dari petunjuk Allah untuk seluruh manusia ini. And Allah knows Imam Ali is the one among al-muthahharun (lihat Al-Waqiah: 79), sehingga melalui Rasul-Nya ditetapkanlah Ali AS sebagai otoritas pentakwil Al Quran sepeninggal Rasul SAW.

Dan sejarah menunjukkan, Abu Bakar dan Umar pun mengikuti banyak nasihat-nasehat Imam Ali sebagai the supreme faqih of that era, sedemikian hingga as far as muslim community is concerned, pemerintahan mereka masih berada dalam kerangka keadilan.

 Alhamdulillah, dengan ini saya tutup pembahasan mengenai ayat Kursi, sebuah ayat yang sangat istimewa***) yang mengandungi pemahaman tauhid pada level ultimate (tauhid al-wujud). Sedemikian istimewanya ia sehingga Imam Ali AS diriwayatkan tidak pernah melewatkan malam tanpa membaca ayat ini.

 Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad,

waj’al tawassuli bihi syaafi’an yaumal qiyamati naafi’a.

Notes:

*) Walaupun saya kurang sependapat jika dikatakan pemahaman Kursi sebagai ilmu atau kekuasaan Allah itu sebagai takwilnya para mufassirin, sebab para Imam Ahlulbait AhS telah menjelaskannya seperti itu di dalam hadits-hadits mereka, hanya saja Kubu Non-takwil tidak mengakui otoritas ahlulbait AhS. Jadi, kalaupun mau dikatakan takwil, ini adalah takwil-nya para Imam Ahlulbait AhS, and their takwil is the same as Muhammad SAW’s takwil, i.e. the right takwil, karena merekalah (Rasul SAW dan ahlulbaitnya) para al-muthahharun yang memahami Al Quran secara sempurna. Mereka pulalah yang Al Quran sebut dengan “rasikhuna fil ‘ilm”, orang-orang yang Allah karuniai pemahaman ilmu mendalam, yang meng-imani ayat-ayat mutasyabihat. Iman orang-orang berilmu adalah iman berdasarkan pengetahuan hakiki, BUKAN berdasarkan taklid. Jadi, mereka dikaruniai Allah pemahaman yang benar dari ayat-ayat mutasyabihat.

**) Secara sederhana, takwil adalah “mengembalikan segala sesuatu kepada rujukannya” (rem. “ta’wil” dan “awal” mempunyai akar kata yang sama). Karena itu, dalam hal ayat-ayat Al Quran yang kurang dimengerti pada pandangan pertama (kebanyakan memang ayat-ayat mutasyabihat), cara mentakwilnya adalah dengan merujukkannya kepada ayat-ayat muhkamat yang berhubungan dengannya. Jadi, takwil SAMA SEKALI BUKAN gothak gathuk gatholoco seperti banyak disalahpahami sebagian orang selama ini🙂.

***) Tentu saja, setiap ayat Al Quran adalah istimewa.

Sumber: http://quran.al-shia.org/id/tafsir/002/03.html

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Doa Ayat dan Zikir

Warisan Budaya Alamiah

WordPress.org Apps

WordPress at your fingertips

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

Genta Rasa

KUATKAN FIKIR, TINGKATKAN ZIKIR

Sweet Talk

Putting the soft in soft science

Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah...

...perjalanan kembali ke kampung akhirat... hajirikhusyuk.wordpress.com

NUR ADZ DZIKRA

LAA ILAHA ILLALLAH MALIKUL HAQQUL MUBIN MUHAMMAD RASULULLAH SYAHIDUL WADUL. AMIN

FAJAR TIMUR

agar pengetahuan tidak membusuk

:: BENMASHOOR ::

Berkhidmat untuk para pencari informasi seputar Alawiyin

Mutiara Hikmah AhlulBait

Kata Kata Hikmah Buat Pedoman Hidup

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka... berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

jurnal syiah

kompilasi artikel syiah

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.