RSS

Hari Mubahalah; Peran Politik Sayyidah Fathimah az-Zahra as


Mubahalah dalam definisinya adalah dua orang yang saling melaknat dan mengutuk. Berdasarkan ayat 61 surat Ali Imran mubahalah dilakukan bila terjadi perselisihan pendapat antara dua orang atau lebih dan masing-masing tidak mempercayai argumentasi lainnya,kemudian mereka sepakat untuk berkumpul di sebuah tempat memohon kepada Allah untuk mempermalukan orang-orang yang berdusta di antara mereka. Nah,dalam sejarah kehidupan Rasulullah Saw, di awal kerasulannya, beliau senantiasa mengajak para pemimpin negara-negara di dunia untuk memeluk agama Islam melalui surat-surat yang dikirimnya. Salah satunya adalah surat yang dikirim untuk uskup Najran dalam rangka mengajak orang-orang Kristen untuk memeluk agama Islam. Najran adalah sebuah daerah yang terletak di perbatasan Hijaz (Arab Saudi) dan Yaman. Di masa permulaan Islam daerah ini adalah tempat tinggal orang-orang Kristen.

Pertemuan Para Pemuka Kristen Najran bersama Rasulullah Saw

Pada tahun 10 Hq sebuah rombongan terdiri dari 60 orang Kristen Najran datang menemui Rasulullah Saw bersama 3 orang pembesar bernama ‘Aqib, Sayyid dan seorang uskup Abu Haritsah. Dalam pertemuan itu mereka melakukan dialog dengan Rasulullah Saw tentang Allah, Nabi Isa dan Maryam as. Mereka meyakini akan ketuhanan Nabi Isa as dan tidak mempercayai kelahiran Nabi Isa as yang tanpa ayah. Uskup bertanya: “Hai Muhammad, bagaimana pendapatmu tentang Nabi Isa as?” Rasulullah Saw menjawab: “Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah sama seperti penciptaan Adam, Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian Allah berfirman “Jadilah” (seorang manusia) maka jadilah dia.”(Ali Imran ayat 59)

Meski Rasulullah Saw telah menjawabnya dengan jelas, mereka tetap ngotot dan tidak mau menerima apa yang disampaikan Rasulullah Saw sampai akhirnya Allah menurunkan ayat mubahalah (surat al-Maidah ayat 61) yang berbunyi, “Maka barang siapa yang membantahmu tentang kisah Isa setelah datang ilmu yang meyakinkan kamu, maka katakan, “Mari kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian, kemudian marilah kita bermubahalah (saling melaknat dan mengutuk) dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.”

Bersama Siapa Rasulullah Saw Bermubahalah?

Berdasarkan perintah Allah Swt, Rasulullah Saw mengajak orang-orang Kristen Najran untuk bermubahalah. Mereka menerima ajakan Rasulullah Saw untuk bermubahalah namun meminta agar waktunya ditunda sampai besok.

Orang-orang Kristen Najran mengadakan musyawarah dengan mereka sendiri. Abu Haritsah berkata, “Kita tunggu saja sampai besok, sampai kita tahu Muhammad akan datang bermubahalah bersama siapa? Kalau ia datang bersama keluarganya, berarti dia yakin dengan ucapannya, karena dia telah membawa orang-orang tercintanya dalam bahaya. Dengan demikian, kita jangan datang untuk bermubahalah. Kalau ia datang bersama sahabat-sahabatnya, berarti ia ragu dengan ucapannya dan kita harus datang untuk bermubahalah dengannya.”

Keesokan harinya Rasulullah Saw datang di tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Rasulullah Saw datang bersama Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan san Husein as. Melihat pemandangan ini orang-orang Kristen Najran mengurungkan niatnya untuk bermubahalah dengan Rasulullah Saw karena kalau sampai terjadi mubahalah, maka tidak satu orang pun dari orang-orang Kristen akan hidup. Akhirnya mereka menyerah dan berdamai dengan Rasulullah Saw dan siap membayar pajak setiap tahun. (Ibrahim Amini, Banu-e Namuneh Islam Fathimah az-Zahra)

Keagungan Sayidah Fathimah az-Zahra as

Sayidah Fathimah adalah salah satu anggota dari lima orang keluarga Rasulullah Saw yang hadir dalam peristiwa mubahalah dengan orang-orang Kristen Najran.

Di zaman jahiliyah, perempuan tidak memiliki peran sama sekali di tengah-tengah masyarakat. Perempuan hanya sekedar budak dan alat pemuas laki-laki. Perempuan tidak berhak ikut campur dalam urusan politik, sosial dan ekonomi. Di saat perempuan tidak dianggap sebagai bagian dari anggota masyarakat, di saat anak perempuan dikubur hidup-hidup, di saat perempuan hanya dianggap sebagai alat pemuas laki-laki dan tidak dihargai sama sekali sebagai manusia, Sayyidah Fathimah az-Zahra muncul ditengah-tengah masyarakat.

Sayidah Fathimah mendapatkan penghormatan khusus dari ayah, suami dan anak-anaknya. Karena keagungan dan ketinggian kepribadian dan posisi spiritualnya serta kedekatannya kepada Allah, beliau ikut serta untuk bermubahalah bersama Rasulullah Saw. Mubahalah bukan perkara biasa dan sederhana sehingga yang ikut harus sosok pribadi yang benar-benar memiliki kedudukan dan posisi di hadapan Allah, karena laknat dan kutukannya pasti dikabulkan oleh Allah.

Abu Haritsah sendiri di hadapan rombongannya mengakui, “Demi Allah, dengan keyakinan dan keberaniannya Muhammad seperti para nabi duduk dan siap bermubahalah. Aku menyaksikan wajah-wajah yang bila memohon kepada Allah, gunung pun akan lepas dari tempatnya. Aku takut bila mereka melaknat dan mengutuk kami, pasti orang-orang Kristen di muka bumi akan binasa.” (IRIB Indonesia)

Oleh: Emi Nur Hayati Ma’sum Sa’id

 
Leave a comment

Posted by on 30/05/2012 in Uncategorized

 

Mengimani Wilayah Ahlulbait as. Adalah Jaminan Keselamatan Dari Api Neraka Jahannam


Allah SWT berfirman:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” (QS. ash Shaffat:24)

Keterangan:

Di antara peristiwa-peristiwa mengerikan nun menentukan nasib di hari kiamat adalah diberhentikannya manusia di jembatan pemeriksaan di atas neraka Jahim. Allah memerintahkan para malaikat-Nya agar menahan umat manusia karena akan ada pertanyaan yang mesti mereka jawab. Pertanyaan yang akan mengungkap jati diri setiap orang. Allah berfiaman, “Hentikan (tahan) mereka karena mereka akan ditanyai.”

Tentang apa yang akan ditanyakan kepada umat manusia kelak di hari kiamat, di antara para ulama dan ahli tafsir ada yang mengatakan pertanyaan itu terkait dengan konsep Tauhid; Lâ Ilâha Illallah/Tiada Tuhan selain Allah! Ada pula yangt mengatakan mereka akan ditayai dan dimintai pertanggung-jawaban tentang Wilâyah Imam Ali as.

Akan tetapi di sini perlu diketahui bahwa apa yang disebutkan di atas adalah penyebutan mishdâq dari apa yang akan ditanyakan… ia tidak sedang membatasai… bukan hanya itu yang akan ditanyakan…. Inti dari pertanyaan itu tentang kebenaran apapun yang mereka abaikan di dunia, baik ia berupa I’tiqâd/keyakinan yang intinya adalah Syahâdatain…Tentunya dan juga tentang Wilâyah Imam Ali as. yang akan menentukan nilai Syahâdatain di sisi Allah SWT. … Atau berupa amal shaleh yang mereka tinggalkan kerena keangkuhan dan sikap takabbur kepada atasnya.

Riwayat Tafsir Nabi saw.

Para muhaddis telah meriwayatkan bahwa Nabi saw. telah menyebut bahwa di antara pertanyaan penting yang akan ditanyakan adalah tentang Wilâyah Imam Ali as., karenanya para ulama Ahlusunnah meriwayatkan dari para mufassir Salaf; sahabat dan tabi’în, di antara mereka Abu Said al Khadri, Ibnu Abbas, Abu Ishaq as Subai’i, Jabir al Ju’fi, Mujahid, Imam Muhammad al Baqir as. dan Mandal bahwa kelak pada hari kiamat Allah SWT akan menanyai setiap orang akan sikapnya terhadap wilayah/kepemimpinan Ali dan Ahlulbait as.

Riwayat Abu Sa’id al Khadri:

Ibnu Hajar (dan juga para ulama lainnya) menggolongkan ayat di atas sebagai ayat yang turun menjelaskan keagungan, keutamaan dan maqam mulia Ahlulbait as., ia berkata: “(Ayat Keempat) Firman Allah -Ta’âlâ-:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”

Ad Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id al Khadri bahwa Nabi saw. bersabda:

{و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ} عن وِلايَةِ علِيٍّ.

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”tentang wilayah Ali.”

Sepertinya sabda ini yang dimaksud oleh al Wâhidi dengan ucapannya, ‘”Dan Hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” tentang wilayah Ali dan Ahlubait, sebab Allah telah memerintah Nabi-Nya saw. agar memberitahui umat manusia bahwa ia tidak meminta upah atas jerih payah mentablîghkan Risalah (agama) kecuali kecintaan kepada keluarga beliau. Maknanya, bahwa mereka akan ditanyai apakah mereka mengakui Wilâyah mereka dengan sepenuh arti seperti yang diwasiatkan Nabi saw. kepada mereka atau mereka menyia-nyiakan dan mengabaikannya, maka mereka akan dituntut dan dikenakan sanksi.’

Dan dengan ucapannya ‘seperti yang diwasiatkan Nabi saw. kepada mereka’ ia menunjuk kepada hadis-hadis yang datang dalam masalah ini, dan ia sangat banyak sebagainnya akan kami sebutkan pada pasal kedua nanti.”[1]

Sumber Riwayat:

Hadis Abu Sa’id telah diriwayatkan para ulama Ahlusunnah dari banyak jalur. Dalam riwayat al Wâhidi di atas hadis itu diriwayatkan dari jalur: Qais ibn Rabî’i dari’Athiyyah dari Abu Sa’id dari Nabi saw.

Al Hakim al Hiskâni meriwayatkannya dari dua jalur; 1) dari Qais ibn Rabî’ dari Abu Harun al Abdi dari Abu Sa’id dari Nabi saw…. 2) dari Isa ibn Maimun dari Abu Harun al Abdi dari Abu Sa’id dari Nabi saw. hadis

Riwayat Ibnu Abbas ra.

Al Hakim al Hiskâni juga meriwayatkan tafsir serupa dari Nabi saw. dari riwayat Ibnu Abbas ra….. Dari ‘Athâ’ ibn Sâib dari Sa’id ibn Jubair dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

“Kelak di hari kiamat aku dan Ali diberdirikan di atas Shirâth (jembatan pemeriksaan), maka tiada seorang pun yang melewatinya melainkan kami tanyai tentang Wilâyah Ali. Maka barang siapa memilikinya (maka ia boleh berjalan terus), dan yang tidak akan kami lemparkan ke dalam api neraka. Itu adalah firman Allah:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”[2]

Dalam riwayat lain, Al Hakim meriwayatkan tentang firman Allah SWT.:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Tentang Wilayah Ali ibn Abi Thalib.”[3]

Status Hadis:

Seperti Anda saksikan bahwa Nabi saw.[4] sendirilah yang menafsirkan ayat di atas dengan Wilâyah Ali as…. Bahwa perkara terpenting yang akan ditanyakan kepada setiap manusia kelak di hari kiamat setelah tentang keesaan Allah dan kerasulan Mahammad saw. adalah Wilayah/kepemimpinan Ali dan Ahlulbait as. dan berdasarkan sikap setiap orang, nasib mereka akan ditentukan di sana!

Apabila seorang dalam hidupnya mengimani Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa dan Muhammad ibn Abdillah sebagai Rasul penutup Allah serta mengimani Ali dan Ahlulbait as. sebagai para Wali (pemimpin)nya, maka ia akan mendapat rahmat dan nikmat dari Allah dan apabila tidak maka Allah akan memintainya pertangung-jawaban atas sikapnya tersebut dan memberinya sanksi, seperti yang ditegaskan Al Wâhidi di atas.

Lalu bagaimana sikap Anda? Apakah Anda telah mempersiapkan jawaban untuk intrograsi para malaikat Allah kelak di hari Pengadilan Akbar; hari kiamat terkait dengan sikap Anda terhadap kepemimpinan Imam Ali dan Ahlulbait as.?

Apakah Anda termasuk orang yang peduli akan nasib abadi Anda di alam akhirat sana? Atau Anda termasuk mereka yang acuh terhadap apapun tentang tanggung jawab di hadapan Tuhan?

Jawabnya terserah Anda!!

Catatan:

Hadis Abu Sa’id dan keterangan Al Wâhidi, selain dikutip dan dibenarkan oleh Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab ash Shawâiq-nya juga dikutip dan dibenarkan oleh banyak ulama Ahlusunnah lainnya, di antaranya:

A) Syihâbuddîn al Khaffâji dalam kitab tafsir Ayat al Mawaddah-nya:82, seperti disebutkan dengan lengkap oleh az Zarandi dalam Nadzm Durar as Simthain:109.

B) Syeikhul Islam al Hamawaini dalam Farâid as Simthain,1/78-79 ketika menyebut hadis no.46 dan 47.

C) As Samhûdi dalam Jawâhir al Iqdain,2/108.

Mereka menyebut dan menukilnya serta mendukungnya dengan beberapa bukti pendukung lainnya.

Tafsir Para Sahabat Dan Mufassir Salaf

Selain dua sahabat yang telah kami sebutkan tafsir mereka, para mufassir Salaf juga menafsirkan ayat di atas sesuai denga tafsir Nabi saw. di antara tafsir yang diriwayatkan dari mereka adalah sebagai berikut:

(1) Abu Ishaq as Subai’i

Al Khawârizmi meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu Ahwash dari Abu Ishaq as Subai’i tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.[5]

(2) Mujahid

Adz Dzahabi menykil riwayat dari jalur Israil dari Ibnu Najîh dari Mujahid tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.[6]

(3) Imam Muhammad al Baqir as.

Al Hiskani meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Daud ibn Hasan ibn Hasan dari ayahnya dari (Imam) Abu Ja’far tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.

Hadis serupa juga diriwayatkan dari jalur Abu Ishaq as Subai’i dari Jabir al Ju’fi.[7]

Hadis-hadis Pendukung!

Selain itu hadis tafsir Nabi saw. di atas dan juga tafsir para sahabat telah dikuatkan dan didukung oleh banyak bukti… di antara bukti-bukti itu adalah:

” Hadis-hadis yang menegaskan bahwa kelak di hari kiamat Nabi saw. akan meminta dari umat Islam pertanggung-jawaban sikap terhadap Kitabullah dan Ahlulbait as. Di antara hadis-hadis itu dalah sebagai berikut ini:

Dari Abu Thufail Amir ibn Watsilah dari Hudzaifah ibn Usaid al Giffari dalam sebuah hadis panjang di antaranya beliau saw. bersabda:

يَا أيُّها الناسُ إِنِّيْ فَرَطُكُمْ, إِنَّكُمْ وَارِدُونَ عَلَيَّ الْحَوْضَ أَعْرَضَ مِمَّا بين بُصْرَى إلى صَنْعاءَ فيهِ عَدَدُ النُّجُومِ قَدْحانَ فِضَّةٍ، و إِنِّيْ سائِلُكُمْ حين تَرِدُوْنَ عَنِ الثَّقَليْنَ ، فَانْظُرُوا كيفَ تَخْلُفُونِيْ فيهِما: الثقل ألأكْبَرُ كتابَ اللهِ عز و جلَّ سببٌ طَرَفُهُ بِيَدِ اللهِ و طرفُهُ بِأَيْدِيْكُمْ، فاسْتَمْسِكُوا بِهِ و لا تَضِلُّوا و لا تُبَدِّلُوا، وَعِتْرتِيْ أَهلَ بيتِيْ، فَإِنَِّ اللطيفَ الخبيرَنَبَّأَنِيْ أَنَّهُما لَنْ يَنْقَضِيا حتى يرِدَا عليَّ الْحَوْضَ.

“Wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku akan mendahului kalian menuju telaga dan kalian pasti mendatangiku di telaga, sebuah telaga yang lebih lebar dari kota Bushra hingga kota Shan’a', di dalamnya terdapat cawan-cawan sejumlah bintang di langit. Aku akan meminta pertanggung-jawaban kalian ketika menjumpaiku akan Tsaqalaian. Maka perhatikan, bagaimana perlakuan kalian terhadap keduanya. Tsaqal pertama adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla, sebab penyambung yang satu ujungnya di tangan Allah dan satu ujungnya lagi di tangan kalian, maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah; jangan kalian menyimpang dan mencari ganti selainnya, dan kedua adalah Itrah-ku yaitu Ahlulbaitku. Sesungguhnya Allah Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui telah memberitauku bahwa keduanya tidak akan berakhir sehingga menjumpaiku di haudh (telaga).”[8]

” Hadis akan ditanyakannya empat perkara di hari kiamat. Di antaranya adalah riwayat di bawah ini:

Al Hafidz al Haitsami berkata, “dan dari Ibnu Abbbas, ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda:

لاَ تزولُ قَدَما عبْدٍ يومَ القيامة حتَّى يُسْأَلَ عَن أربَع: عَن عُمُرِهِ فِيمَ أفناه عَن جسدِه فِيمَ أبلاهُ و عن ماله فِيمَ أنْفَقَهُ و مِنْ أين إكْتَسَبَهُ و عن حُبِّنا أَهْلَ البيتِ.

“Tiada akan beranjak dua kaki seorang pada hari kiamat sehingga ia ditanyai tentang empat perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk ia pakai, tentang hartanya untuk apa ia belanjakan dan dari mana ia perolah dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Hadis ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al Mu’jam al Awsath, dan pada sanadnya terdapat Husain al Asyqar, ia dianggap lemah oleh sebagian ulama, akan tetapi Ibnu Hibbân mentsiqahkannya.

Al Haitsami juga meriwayatkannya dari jalur lain dari Abu Barzah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

تزولُ قَدَما عبْدٍ حتَّى يُسْأَلَ عَن أربَع: عَن جسدِه فِيمَ أبلاهُ وَ عَن عُمُرِهِ فِيمَ أفناه و عن ماله مِنْ أين إكْتَسَبَهُ وَ فِيمَ أنْفَقَهُ و عن حُبِّنا أَهْلَ البيتِ.

“Tiada akan beranjak dua kaki seorang sehingga ia ditanyai tentang empat perkara; tentang jasadnya untuk ia pakai, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang harta dari mana ia perolahnya dan untuk apa ia belanjakan dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Lalu ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa tanda kecintaan kepada kalian Ahlulbait?’

Maka beliau menunjuk Ali sambil menepuk pundaknya.”

Ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam Awsath.

Perhatikan di sini, al Haitsami hanya mencacat hadis dengan jalur pertama yaitu disebabkan Husain al Asyqar. Sementara terhadap hadis dengan jalur kedua ia mendiamkan dan tidak mencacatnya dengan sepatah kata pun..

Dan dalam sumber aslinya disebutkan bahwa Nabi menjawab si penanya dengan sabda beliau, “Tanda kecintaan kepada kami adalah kecintaan kepada orang ini sepeninggalaku.” Sabda ini tidak disebutkan oleh al Haitsami. Adapun pencacatannya atas Husain al Asyqar sangat tidak berdasar. Perawi yang satu ini tsiqah dan adil seperti telah dibuktikan pada tempatnya.

Ikhtisar kata, hadis ini termasuk dari hadis-hadis terkuat tentang keutamaan Ali dan Ahlulbait as. tidak ada tempat untuk pencacatan!

” Hadis yang mengatakan bahwa manusia tidak akan diizinkan melewati jembatan penyeberangan di Shirâth kelak kecuali setelah terbutki ia meyakini Wilayah Imam Ali as.

Di antara hadis-hadis itu adalah sebagai berikut:

A) Hadis riwayat Imam Ali as.

Al Hafidz Abul Khair al Hâkimi ath Thâliqâni berkata, “Dan dengannya al Hâkim berkata…. Dari Ali, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا جمَع اللهُ الأولين و الآخرين يوم القيامة و نصب الصراطَ على جسر جهنمَ ما جازاها أحدٌ حتى كانت معه برآءَةٌ بِولايةِ عليِّ بن أبي طالبِ.

“Jika kelak pada hari kiamat Allah mengumpulkan manusia yang pertama hingga yang terakhir dan Dia menegakkan Shirâth di atas jembatan neraka Jahannam, maka tidak seorang pun melewatinya sehingga ia memiliki surat jalan berupa (keyakinan akan) Wilâyah Ali ibn Abi Thalib.”[9]

B) Hadis Anas ibn Malik.

Ibnu al Maghâzili meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Anas ibn Malik, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

إذا كان يوم القيامة و نُصِبَ الصراطُ على شَفِير جهنمَ لَمْ يَجُزْ إلاَّ مَن معه كتابُ بِولايةِ عليِّ بن أبي طالبِ.

“Jika kiamat terjadi dan Shirath dibentangkan di atas bantaran nereka Jahannam, maka tidak ada yang dapat melewatinya kecuali orang memiliki catatan berupa Wilayah kepada Ali ibn Abi Thalib.”[10]

Dan selain dua hadis di atas banyak hadis lainnya dari riwayat Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas dan Abu Bakar.

Setelah ini semua adalah sebuah sikap gegabah jika ada yang meragukan kesahaihan tafsir ayat di atas dengan Wilayah Imam Ali ibn Abi Thalib as., apalagi mengatakannya sebagai hadis palsu!!

Wallahu A’lam.

Catatan Kaki:

[1] Ash Shawâiq al Muhriqah:149. Cet. Maktabah al Qahirah. Thn.1385 H/1965 M. dengan tahqiq Abdul Wahhâb Abdul Lathîf..

[2] Syawâhid at Tanzîl,2/162 hadis no..789.

[3] Ibid. no790.

[4] Pada riwayat-riwayat Abu Sa’id dan Ibnu Abbas ra. di atas Anda dapat saksikan bahwa sesekali mereka menukil tafsir ayat tersebut dari Nabi saw. dan sesekali mereka memauqufkan (tidak menyandarkannya) kepada Nabi saw.! Untuk bentuk yang kedua (yang mauqûf) para ulama Ahlusunnah telah membangun sebuah kaidah bahwa ucapan para sahabat tentang tafsir ayat-ayat Al Qur’an yang tidak ada ruang bagi ijtihad dan pendapat maka dihukumi marfû’ (diambil dari Nabi saw.) sebab tidak mungkin para sahabat itu membuat-buat keterangan palsu tentang masalah yang tidak ada ruang bagi berijtihad. Dan kasus kita sekarang ini termasuk darinya… pertanyaan di hari kaimat termasuk berita ghaib, maka pastilah ucapan Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam masalah ini bersumber dari Nabi saw. Apalgi telah terbukti bahwa Nabi saw. telah menafsirkan sendiri makna ayat tersebut seperti mereka berdua sampaikan!

[5] Manâqib:275 hadis no.256.

[6] Mâzân al I’tidâl,5/145 ketika menyebut sejarah hidup Ali ibn Hatim.

[7] Syawâhid at Tanzîl,2/164 hadis no.790.

[8] Hadis ini telah diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir, Hilyah al Awliyâ’,1/355 dan 9/64, Tarikh Damasqus,1/45 tentang sejarah hidup Imam Ali as., 3/180, hadis no. 3052, Al Haitsami dalam Majma’ az Zawaid, 9/165, Tarikh Ibnu Katsir,7/348, as Sirah al Halabiyah,3/301, ash Shaw^aiq al Muhriqah:25, Farâid as Simthain,2/274, Nadzm Durar as Simthain:231 dan al Fushûl al Muhimmah:23.

[9] Kitâb al Arba’în al Muntaqâ Min Manâqib Ali al Murtadhâ, hadis no 40.

[10] Manâqib Ali ibn Abi Thalib:243.

Oleh: Ibnu Jakfari

 
Leave a comment

Posted by on 30/05/2012 in Uncategorized

 

Rumah Fatimah Az-Zahra diserang


Rumah Fatimah Az-Zahra. diserang dan paksaan ke atas Ali a.s. supaya memberi
bai‘ah kpd Abu Bakr

Kemudian Umar memerintahkan orang ramai supaya membawa
kayu api. Merekapun membawa kayu api, begitu juga dengan Umar.
Kemudian kayu api itu diletakkan di sekeliling rumah Ali, Fatimah dan
dua anak lelakinya. Kemudian Umar telah menyeru Ali. dan Fatimah.
Demi Allah! kami akan mengeluarkan kalian wahai Ali! Oleh itu,
hendaklah anda membai‘ah Khalifah Rasulullah.
Jika tidak, aku akan menyalakan api ke atas anda. Maka Fatimah
a.s. berkata: Wahai Umar! Apakah pertalian kami dengan anda? Umar
berkata: Bukakan pintu, jika tidak kami akan membakar rumah kalian.
Fatimah berkata: Wahai Umar! Tidakkah anda bertakwa kepada Allah,
anda ingin memasuki rumahku? Namun Umar enggan pulang.
Kemudian dia menyeru untuk mendapatkan api lantas menyalakannya
di pintu lantas menolaknya dan terus memasuki rumah. Diapun
berhadapan dengan Fatimah a.s.

Fatimah a.s. menjerit dan berkata: Wahai bapaku! Wahai
Rasulullah!. Tetapi Umar telah mengangkat pedang yang masih
tersarung dan meletakkannya di bahu Fatimah a.s. Fatimah melaung:
Wahai bapaku! Maka Umarpun mengangkat cemetinya dan terus
memukul bahu Fatimah. Fatimah a.s. menyeru lagi: Wahai Rasulullah!
Sejahat-jahat manusia selepas anda wafat adalah Abu Bakr dan Umar.
Dalam pada itu, Ali a.s. telah melompat lalu memegang hidung dan
tengkuk Umar. Hampir-hampir beliau membunuhnya, namun beliau
mengingati kata-kata dan wasiat Rasulullah Saw.
Beliaupun berkata:
Demi orang yang memuliakan Muhammad dengan kenabian, wahai Ibn
Sahhak (Umar)! Sekiranya tidak ada kitab daripada Allah terdahulu dan
janji yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw. kepadaku, nescaya anda
mengetahui bahawa anda tidak akan memasuki rumahku.
Umar pun meminta orang ramai supaya memasuki rumah Ali
manakala Ali a.s. pula telah menerkam ke arah pedangnya, lantas
Qunfudh pulang menemui Abu Bakr kerana takut Ali a.s. akan keluar
dengan pedangnya.

Dia mengetahui akan kehebatan Ali a.s. Abu Bakr
berkata kepada Qunfudh: Kembalilah kepada Ali dan jika dia tidak
keluar, cerobohilah rumahnya. Jika dia enggan, nyalakan api ke atas
mereka dan rumah mereka sekali.
Lalu Qunfudh al-Mala‘un datang semula. Dia dan para sahabatnya
telah memasuki rumah Ali a.s. tanpa izin. Ali a.s. telah menerkam
kepada pedangnya tetapi mereka mendahuluinya. Mereka datang
berpusu-pusu kepadanya dalam jumlah yang ramai. Meskipun begitu Ali a.s. sempat merampas sebahagian daripada pedang mereka.

Akhirnya mereka mencampakkan tali ke leher Ali a.s. Fatimah a.s.
pada masa itu yang berada di sebalik pintu dipukul oleh Qunfudh
dengan cemeti lalu jatuh pengsan. Terdapat kesan di bahunya seperti
warna hitam akibat daripada pukulan tersebut, la‘natullahi ‘alaihi.
Kemudian Qunfudh melalui Ali a.s. yang sedang ‘digari’ dan
membawanya ke hadapan Abu Bakr dan Umar yang sedang berdiri
sambil memegang pedang di atas kepalanya.

Khalid bin al-Walid, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Salim maula Abi
Hudhaifah, Mu‘adh bin Jabal, al-Mughirah bin Syu‘bah, Usyad bin
Hudhair, Basyir bin S‘ad dan semua orang di sekitar Abu Bakr lengkap
dengan senjata.

Akupun bertanya kepada Salman: Mereka telah memasuki rumah
Fatimah tanpa izinnya? Salman menjawab: Ya. Demi Tuhan! Tidak ada
di atasnya penutup (khimar), lalu Fatimah a.s. menyeru bapanya wahai
bapaku! wahai Rasulullah! Sejahat-jahat manusia selepas anda
meninggal adalah Abu Bakr dan Umar. Kedua-dua mata anda belum
memejam dengan rapat dalam kuburan anda. Fatimah a.s. telah
menyeru dengan suara yang tinggi. Akupun melihat Abu Bakr dan orang
di sekelilingnya menangis melainkan Umar, Khalid dan al-Mughirah bin
Syu‘bah. Umar berkata: Kami bukan perempuan kerana fikiran mereka
tertumpu kepada perkara tertentu.

Salman berkata lagi: Mereka menyerahkan Ali a.s. kepada Abu
Bakr. Ali a.s. berkata: Demi Allah! jika terhunus pedang ditanganku
maka kalian mengetahui bahawa kalian tidak akan sampai ke sini
selama-lamanya. Demi Tuhan! aku tidak mencela diriku di dalam
perjuangan kalian. Sekiranya aku dapat mengumpulkan empat puluh
orang lelaki, nescaya aku dapat memecahkan kumpulan kalian. Tetapi

Allah melaknati orang yang telah memberi bai‘ah kepadaku kemudian
mereka tidak mematuhinya pula.
Manakala Abu Bakr merenung kepadanya dia melaungkan
suaranya: Berikan laluan untuknya. Ali a.s. membalas: Alangkah
cepatnya kalian menghina Rasulullah Saw.! Di atas hak dan kedudukan
manakah anda menyeru orang ramai supaya memberi bai‘ah kepada
anda? Tidakkah anda telah memberi bai‘ah kepadaku kelmarin dengan
perintah Allah dan Rasul-Nya? Qunfudh la‘natullah, telah memukul
Fatimah a.s. dengan cemeti apabila terpisah antaranya dan suaminya.
Kemudian menolaknya sambil memukul bahunya. Maka gugurlah
janinnya daripada perutnya. Fatimah a.s. sentiasa berada di atas
hamparannya sehingga beliau mati syahid.

Salman berkata: Manakala Ali a.s. dibawa kepada Abu Bakr, Umar
memekik: Berilah bai‘ah dan tinggalkan kebatilan-kebatilan ini. Ali a.s
berkata kepadanya: Sekiranya aku tidak melakukannya, apakah yang
akan kalian lakukan kepadaku? Mereka berkata: Kami akan membunuh
anda (naqtulu-ka) dengan penuh kehinaan. Beliau berkata: Jika begitu
kalian membunuh seorang hamba Allah dan saudara Rasulullah? Abu
Bakr menjawab: Adapun seorang hamba Allah, itu benar namun saudara
Rasulullah, kami tidak mengakuinya. Ali berkata: Adakah kalian
mengingkari bahawa Rasulullah Saw. telah mempersaudarakanku
dengannya.

Abu Bakr berkata: Ya. Maka dia telah mengulangi jawapan
yang sama kepadanya.

Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 14-15. al-Tabari, Tarikh, iii,
hlm. 198. 34 -Kitab Sulaim Bin Qais al-Hilali-

 
Leave a comment

Posted by on 30/05/2012 in Uncategorized

 

♥ Israk dan Mikraj ♥


Adakah Rasulullah SAAW di Mikrajkan hanya sekadar untuk menerima sembahyang 50 waktu sahaja? Sedangkan puasa, zakat dan haji diperintahkan di bumi sahaja maksudnya nabi tak perlu naik kelangit untuk terima perintah 4 dari 5 perkara tetapi sembahyang perlu terima di atas langit. Allah mikrajkan nabi semata-mata untuk terima sembahyang sajakah? Sebenarnya selain daripada perintah sembahyang, ada dua perkara yang lebih penting penyebab Nabi di mikrajkan oleh Allah ke langit.
Perkara pertama tentang kepimpinan. Setibanya Nabi di langit, Allah telah menghimpunkan semua para anbiya’ untuk menyambut kedatangan Rasulullah. Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi untuk bertanya kepada para anbiya’, 

Tanyakan kepada mereka wahai Muhammad kenapa Allah mengutuskan kamu”. Lalu Nabi bertanya kepada semua para anbiya’ soalan yang diwahyukan pada baginda. Lantas para anbiya’ menjawab,’Kamu diutuskan Wahai Muhammad adalah untuk menyempurnakan risalah, Nubuwwah dan wilayah” yakni kepimpinan Ilahiah. Perkara kedua Nabi diberi buah daripada syurga untuk dimakan oleh Rasulullah kemudian kembali ke bumi dan menggauli Khadijah a.s. 

Maka setahun selepas itu Fatimah Az-Zahra dilahirkan sebagai Ketua Wanita Muslimah dan digelarkan oleh Nabi Ummu Abiha. Kerana Fatimah adalah ibu para imam maksum yang akan dilahirkannya nanti. Diantara imam yang dilahirkan oleh Fatimah bersama Imam Ali, Amirul Mukminin ialah Imam Hasan dan Imam Husain. Kemuadian imam maksum dilahirkan oleh zuriat Husain iaitu Imam Ali Zainal Abidin bin Husain. Ali Zainal Abidin pula berkahwin dengan anak Imam Hasan Bin Ali bernama Fatimah, maka lahirlah Imam Muhammada Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin. Kemudian Imam Muhammad Al-Baqir melahirkan Imam Ja’far As-Sadiq. Imam Ja’far As-Sadiq pula melahirkan Imam Musa Al-Khazim. Imam Musa Al-Khazim melahirkan Imam Ali Ar-Redza. Imam Ali Ar-redza melahirkan Imam Muhammad Al-Jawad. Imam Muhammad Al-Jawad melahirkan Imam Ali Al-Hadi. Imam Ali Al-Hadi melahirkan Imam Hasan Al-Askari dan Imam Hasan Al-Askari melahirkan Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi. 

Semua Imam yang lahir berasal daripada Fatimah dan Ali dimana 11 orang Imam daripada Fatimah. Ali adalah Imam pertama, wali, washi serta Khalifah pertama yang dilantik oleh Nabi sebagai Imam. 

Maka cukuplah janji Nabi akan ada setelahku 12 orang Imam sebelum kiamat yakni 12 orang khalifah yang diramalkan oleh Nabi. Pertama adalah Ali dan berakhir dengan Imam yang ke 12 iaitu Imam Mahdi yang dinanti. Maka kami pengikut ahlul bait berdoa agar Allah akan mempercepatkan kezuhuranya Imam Mahdi daripada kegaiban panjang dan memenuhi bumi ini daripada kezaliman dan membawa keadilan. Itulah misi ISRAK dan MIKRAJ yang sebenar-benarnya rancangan oleh Allah yang maha Besar kepada Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAAW. Salam Damai.. ♥ ♥ ♥ ♥ ♥Image

 
Leave a comment

Posted by on 30/05/2012 in Uncategorized

 

♥ Israk dan Mikraj ♥


Adakah Rasulullah SAAW di Mikrajkan hanya sekadar untuk menerima sembahyang 50 waktu sahaja? Sedangkan puasa, zakat dan haji diperintahkan di bumi sahaja maksudnya nabi tak perlu naik kelangit untuk terima perintah 4 dari 5 perkara tetapi sembahyang perlu terima di atas langit. Allah mikrajkan nabi semata-mata untuk terima sembahyang sajakah? Sebenarnya selain daripada perintah sembahyang, ada dua perkara yang lebih penting penyebab Nabi di mikrajkan oleh Allah ke langit.
Perkara pertama tentang kepimpinan. Setibanya Nabi di langit, Allah telah menghimpunkan semua para anbiya’ untuk menyambut kedatangan Rasulullah. Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi untuk bertanya kepada para anbiya’, 

Tanyakan kepada mereka wahai Muhammad kenapa Allah mengutuskan kamu”. Lalu Nabi bertanya kepada semua para anbiya’ soalan yang diwahyukan pada baginda. Lantas para anbiya’ menjawab,’Kamu diutuskan Wahai Muhammad adalah untuk menyempurnakan risalah, Nubuwwah dan wilayah” yakni kepimpinan Ilahiah. Perkara kedua Nabi diberi buah daripada syurga untuk dimakan oleh Rasulullah kemudian kembali ke bumi dan menggauli Khadijah a.s. 

Maka setahun selepas itu Fatimah Az-Zahra dilahirkan sebagai Ketua Wanita Muslimah dan digelarkan oleh Nabi Ummu Abiha. Kerana Fatimah adalah ibu para imam maksum yang akan dilahirkannya nanti. Diantara imam yang dilahirkan oleh Fatimah bersama Imam Ali, Amirul Mukminin ialah Imam Hasan dan Imam Husain. Kemuadian imam maksum dilahirkan oleh zuriat Husain iaitu Imam Ali Zainal Abidin bin Husain. Ali Zainal Abidin pula berkahwin dengan anak Imam Hasan Bin Ali bernama Fatimah, maka lahirlah Imam Muhammada Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin. Kemudian Imam Muhammad Al-Baqir melahirkan Imam Ja’far As-Sadiq. Imam Ja’far As-Sadiq pula melahirkan Imam Musa Al-Khazim. Imam Musa Al-Khazim melahirkan Imam Ali Ar-Redza. Imam Ali Ar-redza melahirkan Imam Muhammad Al-Jawad. Imam Muhammad Al-Jawad melahirkan Imam Ali Al-Hadi. Imam Ali Al-Hadi melahirkan Imam Hasan Al-Askari dan Imam Hasan Al-Askari melahirkan Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi. 

Semua Imam yang lahir berasal daripada Fatimah dan Ali dimana 11 orang Imam daripada Fatimah. Ali adalah Imam pertama, wali, washi serta Khalifah pertama yang dilantik oleh Nabi sebagai Imam. 

Maka cukuplah janji Nabi akan ada setelahku 12 orang Imam sebelum kiamat yakni 12 orang khalifah yang diramalkan oleh Nabi. Pertama adalah Ali dan berakhir dengan Imam yang ke 12 iaitu Imam Mahdi yang dinanti. Maka kami pengikut ahlul bait berdoa agar Allah akan mempercepatkan kezuhuranya Imam Mahdi daripada kegaiban panjang dan memenuhi bumi ini daripada kezaliman dan membawa keadilan. Itulah misi ISRAK dan MIKRAJ yang sebenar-benarnya rancangan oleh Allah yang maha Besar kepada Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAAW. Salam Damai.. ♥ ♥ ♥ ♥ ♥Image

 
Leave a comment

Posted by on 30/05/2012 in Uncategorized

 

Hanya Allah swt dan Rasulullah saww yang mengetahui hakikat Ali as


قال رسول الله (ص): “يا علي, لم يعرف الله الاّ انا و انت, و لم يعرفني الاّ الله و انت, ولم يعرفك الاّ الله و انا”
Rasulullah saw bersabda: ” wahai Ali, tidak ada yang mengetahui Allah swt (secara hakiki) kecuali aku dan kamu, dan tidak ada yang mengetahui tentang aku kecuali Allah swt dan kamu, serta tidak ada yang mengetahui tentangmu kecuali Allah swt dan aku.”
Menurut hadis diatas kita ketahui bahwa sungguh mustahil untuk kita mengetahui seberapa besar kedudukan sayidina Ali ra disisi Allah swt dan kedudukan beliau ra disisi Rasulullah saw tanpa bantuan ayat-ayat al-quran dan hadis-hadis Rasulullah saw.
قال الله سبحانه و تعالی: “ولسوف يعطيك ربّك فترضی” 1.
Allah swt berfirman didalam surat al-dhuha ayat 5: “dan sungguh Tuhanmu akan memberimu karuniaNya sampai Kamu puas/ridha.”
Rasulullah saw adalah kekasih Allah swt (habibullah). Beliau saw adalah makhluk Allah swt yang paling sempurna. Dan tidak ada satu makhlukpun yang dapat mencapai derajat kesempurnaan yang telah beliau saw capai. Oleh karenanya Allah swt akan memberi kepadanya karuniaNya sampai beliau merasa puas dan ridha.
Tidak ada satu Nabi pun yang menerima pemberian dari Allah swt sebesar pemberian Allah swt kepada Nabi besar Muhammad saw, karena setiap pemberian Allah swt kepada para Nabi as selain Nabi Muhammad saw memiliki batasan. Akan tetapi pemberian Allah swt kepada Nabi besar Muhammad saw batasannya adalah kepuasan dan keridhaan Beliau saw atau dalam kata lain tidak ada batasan didalam pemberian tersebut.
Lalu apakah pemberian Allah swt terhadap Nabi saw tersebut?
Kalau kita meneliti al-Quran maka kita akan mendapatkan jawaban tersebut. dan jawaban tersebut hanya satu dan itu terdapat didalam surat al-kautsar ayat pertama.
قال الله سبحانه و تعالی : “انّا أعطيناك الكوثر”. “sesungguhnya kami telah memberimu al-Kautsar.”
Ayat di atas menjelaskan tentang pemberian Allah swt , dan itu tidak lain adalah al-Kautsar.
Lalu apakah al-Kautsar tersebut?
Para mufasir al-quran, dan para ahli hadis serta para ahli sejarah menerangkan bahwa al-Kautsar tidak lain adalah Fatimah ra.

Dan kalau kita melihat sejarah hidup sayidatina Fatimah ra, maka kita akan melihat bahwa banyak dari pembesar-pembesar quraish ingin melamar beliau ra, termasuk khalifah pertama dan kedua, akan tetapi Rasulullah saw menolak mereka satu persatu. Akan tetapi ketika sayidina Ali ra melamarnya Rasulullah saw menerimanya bahkan Rasulullah saw bersabda : “sesungguhnya Allah swt telah menyuruhku untuk menikahkan Fatimah dengan Ali.” (المعجم الكبيرللطبراني – كنزالعمال – معجم الزوائد – فيض القدير- الصواعق المحرقة)dan juga di buku(ذخائر العقبى)
Maka sungguh benar perkataan cucu Rasulullah saw Abu Abdillah ra:
“لولا انّ الله تبارك و تعالی خلق أمير المؤمنين لفاطمة ما كان لها كفو علی وجه الارض”
Jikalau Allah swt tidak menciptakan Amirul mu’minin (Ali ibn Abi Talib ra) untuk Fatimah, maka tidak akan ada kufu/pendamping baginya diatas bumi ini.
Fatimah adalah al-Kautsar.
Fatimah adalah pemberian Allah swt tersbesar dan terbaik bagi Nabi Muhammad saw, maka Hanya orang terbaiklah yang dapat memilikinya. Dan dialah Ali ibn Abi Talib ra.

*
قال الله: “مطاع ثم أمين” al-Takwir :21 “yang ditaati lagi dipercaya”.
Ayat diatas menerangkan tingkat kedudukan malaikat jibril, yang mana Jibril as adalah malaikat yang ditaati oleh para malaikat yang lain, dan Jibril as adalah paling mulianya malaikat serta paling agungnya mereka.
Akan tetapi ketika melihat hadis mi’raj kita akan mengetahui seberapa besar kedudukan Nabi saw dibandingkan dengan kedudukan malaikat Jibril as (paling mulianya malaikat).
Didalam hadis mi’raj disebutkan bahwa sesampainya Rasulullah saw dan malaikat Jibril di sidratul muntaha, Jibril as berkata kepada Nabi saw: “wahai Muhammad, pergilah kau (ke derajat berikutnya) sendiri”.
Kemudian Nabi saw berkata kepada Jibril: “wahai saudaraku Jibril, apakah didalam keadaan seperti ini kau akan meninggalkanku sendiri?”
Maka Jibril as berkata: “jika aku julurkan ujung jariku(kederajat selanjutnya) maka aku akan terbakar.”
Malaikat Jibril yang kita ketahui sebagai malaikat yang paling mulia dan paling agung serta dia adalah malaikat yang ditaati oleh malaikat yang lain, akan tetapi ketika sampai di sidratul muntaha beliau as tidak mampu maju dan naik ke derajat yang lebih tinggi, akan tetapi Nabi Muhammad saw maju dan naik ke derajat lebih tinggi. Rasulullah saw adalah makhluk Allah swt yang meraih kedudukan tertinggi disisi Allah swt dan tidak ada orang sebelumnya yang meraih kedudukan tersebut, dan tidak akan ada orang yang akan meraihnya.
Setelah kita melihat kedudukan Nabi saw yang begitu tinggi, marilah kita tengok seberapa besar kedudukan sayidini Ali ra disisi Allah swt dan Nabi saw.
قال رسول الله (ص): “يا علي, لم يعرف الله الاّ انا و انت, و لم يعرفني الاّ الله و انت, ولم يعرفك الاّ الله و انا”
Rasulullah saw bersabda: ” wahai Ali, tidak ada yang mengetahui Allah swt (secara hakiki) kecuali aku dan kamu, dan tidak ada yang mengetahui tentang aku kecuali Allah swt dan kamu, serta tidak ada yang mengetahui tentangmu kecuali Allah swt dan aku.”
Sesuai hadis diatas, wajib bagi kita untuk bertanya kepada al-Quran(firman Allah swt) seberapa besar kedudukan sayidina Ali ra disisi Allah swt dan Nabi saw.
Allah swt telah menerangkan kedudukan beliau ra di dalam ayat al-mubahalah
قال الله: “قل ندع ابناءنا و ابناءكم و نساءنا و نساءكم و أنفسنا و أنفسكم”
Para ulama ahlu sunnah seperti penulis kitab asbab nuzul, penulis kitab sohih muslim, penulis kitab sohih trimidzi dan para ulama ahlu sunnah lainnya serta para ulama syiah mengatakan bahwa أنفسانا adalah amirul mu’minin Ali ibn Abi Talib ra.
Rasulullah saw juga bersabda : “sesungguhnya Ali adalah dariku dan aku darinya dan dia adalah pemimpin para mu’min setelahku”
(صحيح الترمذي – مسند احمد ابن حنبل – مسند ابي داود – خصائص نسائي – كنزالعمال – الرياض النضرة)
Jadi sungguh jelas kedudukan beliau ra disisi Allah swt dan Nabi saw. Beliau adalah orang termulia setelah Nabi saw.

*
قال الله سبحانه و تعالى:”ولقد فضّلنا بعض النبيين على بعض”
Allah swt berfirman dalam al-Quran: ” Dan sungguh kami telah mengutamakan sebagian para nabi atas sebagian yang lain.”
Kita semua mengetahui bahwa setiap Nabi as adalah ma’sum dan ketaatan kepada seluruh Nabi as adalah kewajiban bagi seluruh umat manusia. Akan tetapi bersamaan dengan itu Allah swt mengutamakan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain.
Seperti halnya kalau kita lihat kita akan menemukan sebagian Nabi bukan ulul azm dan sebagian yang lain adalah ulul azm.
Dan kalau kita tengok keadaan para Imam kita, maka kita akan menemukan hukum diatas juga berlaku diantara mereka as, yakni Allah swt mengutamakan sebagian para Imam atas sebagian yang lain.
Dan hal ini bisa kita lihat dari perkataan Nabi saw dan perkataan Aimmah(para Imam) itu sendiri.
قال رسول الله (ص):” إنّ الحسن و الحسين سيّدا شباب اهل الجنّة و ابوهما خير منهماز”
Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya al-Hasan dan al-Husain adalah para pemimpin pemuda surga, dan ayahnya lebih utama dari mereka berdua.”
Hadis ini sungguh jelas menerangkan kedudukan sayidina Ali as dari kedudukan para pemimpin pemuda surga. Kita semua mengetahui bahwa sayidina Ali dan al-Hasan serta al-Husain, mereka semua adalah para Imam kita dan mereka adalah Ahlulbayt Nabi saw. Akan tetapi bersamaan dengan itu Allah swt melaluli lisan Rasulullah saw mengutamakan Sayidina Ali dari al-Hasan dan al-Husain.
Sekarang mari kita lihat apa perkataan para Imam as tentang kedudukan amirul mu’minin as.
سؤل الباقر(ع):” يابن رسول الله من منكم كأمير المؤمنين في عبادته؟”
قال(ع):”من منّا كأمير المؤمنين في عبادته؟” ” قل من منّا يشبه أمير المؤمنين في عبادته! ولا فينا احد إلاّ ابيّ السجّاد كان يشبه جدّي أمير المؤمنين.”
Imam Bagir as pernah ditanya: “wahai putra Rasulullah, siapakah dari kalian (aimmah/para imam as) yang sama seperti Amirul mu’minin dalam ibadahnya?” setelah mendengar pertanyaan ini beliau as menjawab : “siapa dari kami yang sama seperti Amirul mu’minin dalam ibadahnya?” kemudian Beliau as melanjutkan perkataannya “bertanyalah siapa dari kami yang menyerupai Amirul Mu’minin dalam ibadahnya! Dan tidak ada dari kami satupun yang menyerupai Amirul mu’minin as dalam ibadahnya kecuali ayahku as-Sajjad dialah yang menyerupai kakekku Amirul mu’minin as dalam ibadahnya.”
Riwayat diatas menerangkan bahwa hanya Imam as-Sajjad lah yang menyerupai Amirul Mu’minin dalam ibadahnya.
Lalu seberapa besarkah keserupaan yang ada diantara ibadah As-Sajjad as dengan ibadah Amirul mu’minin as?
Sebelum menjawab pertanyaan ini marilah kita lihat sekilas tentang as-Sajjad as.
Imam as-Sajjad as memiliki panggilan As-Sajjad tak lain dikarenakan banyaknya sujud dan banyaknya ibadah yang Beliau as lakukan. Dan dalam riwayat yang masyhur disebutkan bahwa Imam as-Sajjad dalam sehari semalam mengerjakan solat seribu rekaat. Dan kemasyhuran beliau as dalam ibadah tercatat dalam kitab-kitab ahlu sunnah juga.
Sekarang ini ketika kita sudah mengetahui betapa besar ibadah yang dilakukan oleh Imam as-Sajjad, maka marilah kita lihat seberapa besar keserupaan yang ada diantara ibadah beliau as dan ibadah kakeknya Amirul mu’minin as.
Didalam riwayat disebutkan bahwa
سؤل السّجّاد:”يابن رسول الله اين عبادتك من عبادة اميرالمؤمنين؟”
قال (ع):”و الله, كالقطر في بحر المحيط”
Imam sajjad as pernah diatanya : “wahai putra Rasulullah, dimanakah ibadahmu darai ibadah kakekmu Amirul mu’minin Ali Ibn Abi Talib?(yakni seberapa keserupaan yang ada di antara ibadah as-Sajjad dan ibadah Amirul mu’minin as).”
Imam Sajjad as menjawab: ” demi Allah, seperti satu tetes air didalam lautan samudera.”
Imam Ja’far as pernah berkata: “اعلم انّ أميرالمؤمنين أفضل عند الله من الأئمة كلّهم وله ثواب أعمالهم” “ketahuilah sesungguhnya Amirul mu’minin lebih utama disisi Allah swt dari para Imam seluruhnya, dan dia memiliki pahala seperti pahala mereka/para Imam seluruhnya.”
Mungkin banyak orang yang heran atas kedudukan beliau as yang sangat tinggi.
Akan tetapi, hal ini sudah dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam perang khandaq.
قال رسول الله (ص):”ضربة علي لعمرو يوم الخندق تعدل عبادة الثقلين” Rasulullah saw bersabda: ” pukulan Ali kepada Amr diperang khandaq sama seperti ibadah seluruh makhluk.”
Dari sini kita bisa mengetahui bahwa tidak ada orang yang bisa menyamai kedudukan Amirul mu’minin as (tentu saja selain Rasululla saw, karena Sayidina Ali pernah berkata bahwa dirinya adalah salah satu dari budak-budak Muhammad saw. Jadi derajat Rasulullah saw sangat jauh diatas derajat sayidina Ali as.)
Kita semua tahu bahwa pukulan beliau as hanya 2 atau 3 detik dari umurnya. Kalau 3detik dari umur beliau sudah menyamai ibadah seluruh makhluk, bagaimana dengan ibadah-ibadah beliau yang lain. lalu seberapa besarkah keseluruhan ibadah beliau dalam seluruh umurnya. Maka tidak ada satu orangpun yang tahu kecuali Allah swt dan RasulNya saw. Sungguh hal ini sesuai dengan perkataan Rasulullah saw ini:

قال رسول الله (ص): “يا علي, لم يعرف الله الاّ انا و انت, و لم يعرفني الاّ الله و انت, ولم يعرفك الاّ الله و انا”
Rasulullah saw bersabda: ” wahai Ali, tidak ada yang mengetahui Allah swt (secara hakiki) kecuali aku dan kamu, dan tidak ada yang mengetahui tentang aku kecuali Allah swt dan kamu, serta tidak ada yang mengetahui tentangmu kecuali Allah swt dan aku.”
Dan Rasulullah saw juga bersabda: “إنّ الله جعل لأخي علي بن ابي طالب فضائل لا يحصي عددها غيره…” “sesungguhnya Allah swt telah memberikan kepada saudaraku Ali ibn Abi Talib keutamaan-keutamaan yang tidak ada yang bisa menghitung jumlahnya kecuali dia sendiri…..”
Insyallah hari demi hari kita mendapatkan rizki untuk bisa mengetehaui keutamaan-keutamaan beliau as dan mendapatkan syafaatny kelak di hari akhir…..

 
Leave a comment

Posted by on 27/05/2012 in Uncategorized

 

Kedermawan


Pada zaman dahulu, ada seorang lelaki yang beriman tinggal bersama
dengan isteri dan anak-anaknya. Mereka tinggal dalam sebuah gubuk
sederhana. Meskipun mereka jauh dari kilauan dan gemerlap materi, hati mereka
dipenuhi dengan kasih sayang.

Pada suatu hari lelaki beriman itu berada dalam kesulitan,
sampai-sampai isterinya berkata kepada lelaki itu, “Kini simpanan kita tinggal satu
dirham saja.” Lelaki itu mengambil satu dirham tersebut dan pergi ke
pasar. Dengan uang itu dia akan membeli sedikit makanan. Dalam keadaan
bertawakal kepada Tuhan, dia tiba di pasar. Baru beberapa langkah dia
berjalan, tiba-tiba terdenagar suara gaduh. Seseorang berkata dengan
marah, “Engkau harus membayar utangmu. Jika tidak, aku tidak akan membiarkan
engkau pergi.”

Lelaki yang berdiri di hadapan orang itu menundukkan kepalanya karena
malu. Sang lelaki yang beriman itu mendekati kedua orang yang berselisih
itu dan dengan suara yang lembut bertanya, “Baiklah, katakanlah apa
yang menyebabkan kalian berselisih paham.”

Lelaki yang berhutang berkata, “Lelaki ini telah menjatuhkan harga
diriku hanya karena uang satu dirham padahal saat ini aku tidak mampu untuk
melunasi utang tersebut.”

Lelaki beriman itu berfikir sebentar dan kemudian, uang satu dirham
yang dimilikinya itu diberikannya kepada si penghutang. Akhirnya,
terjalinlah persahabatan antara orang itu tadi. Lelaki yang berutang itu
mendoakan keselamatan buat lelaki yang beriman itu serta mengucapkan
kesyukurannya.

Hati lelaki beriman itu dipenuhi rasa gembira karena berhasil menolong
orang lain. Lalu diapun pulang ke rumahnya. Di pertengahan jalan dia
terpikir, “Sekarang, bagaimana aku harus memberi jawaban kepada isteri
ku? Jika dia memprotes, aku akan membiarkannya karena itu haknya.”

Sesampainya di rumah, dia menceritakan apa yang telah terajdi.
Isterinya adalah juga seorang perempuan yang baik dan beriman. Dia tidak
memprotes suaminya, malah berkata, “Engkau telah melakukan sesuatu yang baik
hari ini dan engkau telah memelihara harga diri lelaki itu. Allah pasti
akan memberi balasan kepadamu. Ambillah tali yang ada di rumah kita ini
dan juallah di pasar. Mudah-mudahan, uang tersebut bisa engkau gunakan
untuk membeli makanan.

Lelaki beriman itu merasa sungguh gembira dengan sikap isterinya
tersebut. Dia kemudian mengambil tali itu dan membawanya ke pasar. Namun,
betapapun dia berusaha keras untuk menjual tali itu, tidak ada seorang pun
yang ingin membelinya. Dengan rasa putus asa, dia pulang ke rumahnya.
Di pertengahan jalan pulang, dia bertemu dengan nelayan penjual ikan
yang juga gagal menjual ikannya. Lelaki beriman itu menghampirinya dan
berkata, “Tidak ada orang yang ingin membeli ikanmu dan tidak juga taliku.
Bagaimana menurutmu bila kita berdua saling menukar barang ini?”

Si nelayan berpikir dan kemudian berkata, “Aku tidak mempunyai tempat
untuk menyimpan ikan ini di rumah. Lebih baik engkau ambillah ikan ini
dan sebagai gantinya aku akan menjadi pemilik talimu yang mungkin di
satu hari nanti berguna buatku.”

Akhirnya, lelaki beriman itu membawa pulang ikan ke rumahnya. Isterinya
dengan gembira segera memasak ikan tersebut. Ketika perut ikan dibelah,
dengan penuh takjub dia menemukan sebuah mutiara yang berharga di
dalamnya. Ya, suami istri mukmin dan baik hati itu memperoleh harta yang
banyak.

Lelaki itu membawa mutiara ke toko emas untuk dijual dan mutiara itu
terjual dengan harga seratus dirham. Lelaki itu dan isterinya bersyukur
kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kekayaan. Mereka pun tidak
lupa untuk tetap berbuat baik dengan membagi-bagikan sebagian uang mereka
kepada orang-orang miskin lainnya. Lelaki beriman itu berkata kepada
isterinya: Tuhan telah mengaruniakan kepada kita nikmat, kesenangan dan
kemewahan. Kini sebagai tanda kesyukuran atas nikmat ini marilah kita
membagikan kekayaan yang ada kepada mereka yang memerlukan. Siapakah yang
lebih layak dari sang nelayan yang telah bersusah payah menangkap ikan
di laut itu?”

Lelaki beriman itu pergi ke pasar dan mencari si nelayan itu. Setelah
berusaha keras, akhirnya dia bertemu dengan sang nelayan dan dia pun
menceritakan pengalamannya. Dia berkata, “Aku ingin memberi sebagian dari
uang ini kepadamu.” Meskipun miskin, nelayan itu adalah seorang lelaki
yang baik hati. Dia berkata, “Wahai teman, apa yang engkau dapatkan di
dalam perut ikan itu disebabkan karena kebaikanmu dan aku tidak
bersedia mengambil apa-apa darimu.”

Lelaki beriman itu menjawab, ”Tuhan telah memberi ilham kepadamu
sehinggakan dengan niat baik engkau telah menukar ikan milikmu dengan taliku
agar aku dapat mengenyangkan perut isteri dan anak-anakku. Ketahuilah,
apa yang ingin aku berikan kepadamu ini adalah hadiah bagi niat baikmu
itu. Tuhan menginginkan agar engkaupun menikmati nikmat yang Dia
berikan.”

Akhirnya, nelayan tersebut menerima uang itu dan mengucapkan syukur
kepada Tuhan atas kebaikan dan karunia Tuhan. Dengan cara ini, Tuhan telah
memberi kemuliaan kepada lelaki beriman dan isterinya itu lewat
ujian-Nya. Dalam ketiadaan harta, mereka tetap bersabar dan dalam keadaan
berkecukupan, mereka mengucapkan bersyukur kepada Tuhan dan membagi nikmat
itu dengan orang lain.

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Barang siapa yang
membantu meringankan kesulitan orang mukmin, Tuhan akan memberi kemudahan
kepadanya dunia dan akhirat.”

 
Leave a comment

Posted by on 27/05/2012 in Uncategorized

 

Mengenal Sayyidah Fatimah Maksumah sa


Imam Shadiq as sudah sekian tahun yang lalu memberitahukan tentang kelahiran Sayyidah Maksumah, dan bersabda: “Akan meninggal dan dikuburkan seorang perempuan dari salah satu anak keturunanku yang namanya adalah Fathimah putri Musa (alkazim as), seorang perempuan yang dengan syafaatnya pada hari qiamat, seluruh pengikut syiah akan masuk sorga”.[1]

Pada suatu hari sekelompok dari pengikut syiah datang ke kota Madinah untuk meminta  jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka kepada Imam Musa bin Jakfar  Alkazim as. Ketika mereka sampai ke pekarangan rumah suci beliau, mereka mendapat berita bahwa beliau sedang berada dalam perjalanan.  Melihat bahwa mereka harus kembali secepatnya dan dengan terpaksa mereka harus meninggalkan tempat itu, maka mereka menulis seluruh pertanyaan dan menyerahkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada anggota keluarga beliau dan di lain kesempatan mereka akan kembali mengambil pertanyaan-pertanyaan tersebut. Beberapa saat mereka menetap di kota tersebut dan untuk mengucapkan kata selamat tinggal, mereka kembali ke rumah Imam Alkazim as. Dan pada waktu itu, surat yang penuh dengan pertanyaan itu dikembalikan lagi kepada mereka. Dan mereka melihat Sayyidah Maksumah yang kala itu adalah anak perempuan yang masih sangat kecil (jika dibandingkan sekarang ini mungkin umur beliau berkisar antara enam tahunan) telah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut yang telah tertulis dan disiapkan. Mereka sangat senang dan mengambil surat tersebut. Ketika mereka beranjak pulang, dipertengahan jalan mereka bertemu dengan Imam Alkazim as dan menceritakan kejadian yang mereka alami. Beliau meminta surat tersebut dari mereka, kemudian membaca dan mentelahnya dan jawaban Sayyidah Maksumah dibenarkan oleh Imam as. Kemudian beliau berisyarat sambil  memuji dan menjunjung tinggi Sayyidah Maksumah dan sebanyak tiga kali bersabda: “Ayahmu berkorban untukmu”.[2]

Sa’ad Asy’ari berkata: “Di kota Khurasan saya hadir di hadapan Imam Ali ArRidha as, ia bersabda kepadaku: “Hai Sa’ad, di dekat kamu ada sebuah kuburan dari keluarga kami” Aku katakan kepadanya: “Jiwaku aku korbankan untuk mu, apakah yang anda maksud adalah makam Sayyidah Maksumah putri  Musa bin Jakfar as? Beliau menjawab: “Ya, seorang yang berziarah ke makam  sayyidah Maksumah dalam keadaan mengetahui kedudukan dan maqam beliau, adalah sorga baginya.” Kemudian Beliau meneruskan sabdanya: “Ketika engkau pergi ke kuburannya, maka berdirilah di sebelah kanan kepalanya sambil menghadap kiblat dan bacalah ziarah ini, … yaitu teks do’a ziarah yang sudah dikenal yang biasa dibaca setiap kali kita hendak berziarah ke makam suci tersebut.

Imam Ali ArRidha as bersabda: “Siapa saja yang tidak dapat menziarahiku, maka ziarahilah saudaraku di kota Rey atau saudariku di kota Qom, yang mana keduanya memiliki pahala sama dengan menziarahiku.”

Imam Jawad as bersabda: “Siapa saja yang menziarahi Bibiku sayyidah Fathimah Maksumah sa di kota Qom baginya adalah sorga”.

Pemimpin tertinggi Republik Islam  Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khomenei berkata: “Kota suci  Sayyidah Maksumah adalah merupakan kubbah islam dan poros yang sangat besar bagi hauzah ilmiah.

Dalam kesempatan lain beliau juga menegaskan bahwa: “Kita harus benar-benar banyak memanfaatkan keberadaan Sayyidah Maksumah, beliau adalah putri dari seorang Imam secara langsung, putri seorang Imam, saudari seorang Imam, bibi untuk seorang Imam dan beliau benar-benar sangat memiliki kebesaran. Dalam teks ziarah beliau kita membaca:

 يا فاطمة اشفعي لي في الجنة، فان لك عند الله شأن من الشأن

“Wahai Fathimah, syafaatilah aku untuk dapat masuk ke sorga, karena engkau memiliki kedudukan di sisi Allah swt.”

Oleh karena itu, kita harus menjaga warisan ini, terutama untuk penduduk kota Qom, seluruh kaum muslimin dan pengikut Ahlul bait khususnya penduduk kota Qom, terlebih-lebih bagi para pelajar agama dan para ulamanya harus benar-benar merasa  kaya dengan menziarahi makam beliau, dan meminta bantuan dengan keberadaan beliau.

Suatu ketika Imam Ali ArRidha as menulis surat untuk Sayyidah Maksumah sa, dan kemudian surat itu diberikan kepada salah satu pembantunya untuk diserahkan sesegera mungkin untuk Sayyidah Maksumah sa. Pembantu itu dengan segera melaksanakan apa yang telah diperintahkan, ia bergegas menuju kota Madinah dan tanpa banyak berhenti, ia menyerahkan surat itu kepada Sayyidah Maksumah dengan waktu yang amat singkat.  Beliau setelah membaca isi surat tersebut, langsung berkemas-kemas dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju kota Khurasan. [3]

Sebuah Rombongan yang terdiri dari dua puluh tiga orang yang di dalamnya terdapat Sayyidah Maksumah dan dipimpim oleh Harun bin Musa bin Jakfar akhirnya terbentuk. Sayyidah Maksumah sa bergerak dengan mengikuti rombongan dan berhenti dari satu tempat ke tempat yang lain, hingga sampai pada sebuah daerah sekitar kota Saweh. Di sanalah rombongan ini dihadang dan diserang oleh para musuh keluarga nubuwah ini, dan terjadilah bentrok yang menyebabkan syahidnya Harun sebagai kepala rombongan, dan beberapa orang terluka, sehingga secara otomatis mengakibatkan rombongan itu kocar-kacir dan melalui seorang wanita makanan yang dihidangkan untuk Sayyidah Maksumah itu dituangi racun. Dengan begitu perempuan terhormat itupun keracunan. Beliau meminta untuk dibawa ke kota Qom dan berkata: “Qom adalah kota tempat para syiah kami.” Akhirnya beliau dibawa ke kota tersebut dan setelah tujuh belas hari dirawat, di kota itu beliau menghembuskan nafas sucinya yang terakhir. [4]

Salah satu riwayat yang di nukil oleh beliau adalah: “Dari Fatimah Maksumah putri Imam Musa bin Jakfar, dan Beliau dari Fatimah putri Imam Shadiq, dan Beliau dari Fatimah putri Imam Baqir, dan Beliau dari Fatimah putri Imam Sajjad, dan Beliau dari Fatimah putri Imam Husain, dan Beliau dari Zainab putri Imam Ali, dan Beliau dari Fatimah putri Rasulallah saww meriwayatkan bahwa Rasulallah saww bersabda :” Ketahuilah barang siapa yang mati dalam kecintaan terhadap keluarga Muhammad saww  dia mati dalam keadaan syahid.”


[1] Biharul Anwar, jilid 60, hal 288

[2] Kasyful Laali, karya Shaleh bin Arandis Hilli

[3] Biharul Anwar, jilid 102, hal 266

[4] Zubdatu Tasanif, jilid 6, hal. 59Image

 
Leave a comment

Posted by on 22/05/2012 in Uncategorized

 

PERISTIWA KELAHIRAN ALI BIN ABI THALIB AS


Ibunda Amirul Mukminin di dalam Ka’bah 

Malam jum’at 13 Rajab, seorang wanita mulia istri Abu Thalib, ia mulai merasakan sakit di bagian perutnya, namun setelah dibacakan beberapa nama-nama khusus, akhirnya secara perlahan rasa sakitpun mereda. Ketika Abu Thalib berkehendak memanggil beberapa wanita Quraisy untuk membantu persalinan Fathimah binti Asad, tiba-tiba terdengar suara dari sudut rumahnya, seraya berkata: Wahai Abu Thalib, bersabarlah karena tidak sepantasnya tangan-tangn yang kotor itu menyentuh dan mengusap wali Allah swt.

Pagi hari, ketika Fathimah binti Asad mendengar suara seraya memanggil: Wahai Fathimah datanglah ke rumah kami, kemudian Abu Thalib dan Rasulullah membawa beliau ke Masjidil Haram, Abbas bin Abdul Muthalib yang kala itu duduk di masjid bersama sekelompok jamaah, melihat Fathimah masuk ke dalam Masjidil Haram, dan berhenti dihadapan tembok Ka’bah, dan memandang ke langit seraya berkata: “Wahai pencipta Alam semesta, aku beriman kepadamu, kepada nabi-nabi dan kitab-kitab yang datang dari sisimu. Aku percaya dan membenarkan perkataan kakekku Ibrahim Khalil, dan dulu dialah yang telah membangun rumah ini. Aku bersumpah kepadamu dengan kedudukan seorang yang telah membangun rumah ini, dan dengan kedudukan anak yang aku kandung dalam perutku, yang dengannya aku berbicara dan dengan perilakunya aku mulai merasakan kenyamanan, aku yakin bahwa salah satu tanda ayat-ayatmu adalah kelahiran ini akan engkau permudah”.  Tiba-tiba orang-orang yang hadir di Masjidil Haram menyaksikan salah satu bagian tembok Ka’bah terbelah dan  Fathimah binti Asad pun masuk kedalam Ka’bah. Kemudian mereka berusaha sedemikian mungkin untuk masuk ke dalam Ka’bah dengan membuka pintu Ka’bah dengan kunci yang mereka miliki, namun usaha itu sia-sia mungkin karena hal ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa.Segala yang terjadi pada nabi akhir zaman dan penghulu para nabi, terjadi kembali pada diri Ali as, walaupun Fathimah binti Asad ketika itu hadir dan menyaksikan langsung persalinan Nabi dan memberitakan kejadian itu kepada Abu Thalib, dan Abu Thalib yang sebelumnya pernah mendengar perkataan yang dikatakan padanya, bahwa:  “Bersabarlah 30 tahun lagi, Allah  akan memberimu seorang anak yang kelahirannya sama dengan Nabi akhir zaman, kecuali dalam kenabian namun ia adalah penerima wasiatnya dan akan menjadi penolongnya”.    

Hari Kelahiran Amirul Mukmini as 

Hari jumat, Ali bin Abi Thalib as bagaikan matahari yang terbit di ufuk batu merah dalam sudut sebelah kanan Ka’bah. Ketika beliau menginjakkan kakinya ke tanah permukaan Ka’bah, beliau langsung bersujud dan menengadakkan tangnnya ke langit dan berkata: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuahn selain Allah dan aku besaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dengan Muhammad Allah mengakhiri dan menutup kenabian, dan denganku Allah menutup wasiatnya, dan Aku adalah penghulu kaum mukminin”. Kemudain bersabda: “kebenaran telah datang maka kebatilan harus pergi”.Ketika beliau dilahirkan berhala-berhala berjatuhan, langit-langit bercahaya dan setan berteriak: “celakalah berhala-berhala dan para penyembahnya dengan dilahirkannya anak ini”. 

Ucapan Amirul Mukminin Ali as Setelah Kelahirannya 

Setelah beliau dilahirkan, beliau langsung memberikan salam kepada wanita-wanita surga dan menanyakan keadaan mereka. Dan ketika wanita-wanita surga itu mulai mengendongnya, Ali as pun berkata kepada mereka. Ketika beliau berada dalam pelukan Hawa istri Nabi Adam as, Ali as berkata: Salam atasmu wahai ibunda Hawa, Hawa pun menjawab: Salam atasmu wahai putraku, Ali bin Abi Thalib menanyakan keadaan Nabi Adam, Hawa pun menjawab: ia tenggelam dalam kenikmatan Tuhannya dan berada disisi Tuhannya yang maha pemurah. Pada saat itu ketika beliau(Ali as) berada di dalam Ka’bah, Abu Thalib berteriak di jalan gang dan pasar, seraya berkata: Kabar gembira untuk kalian bahwa wali Allah telah dilahirkan, dengannyalah wasiat dikukuhkan dan disempurnakan.Setelah wanita-wanita surga itu pergi, berdatanganlah para nabi Allah diantara mereka yang hadir adalah Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa (kepada mereka sholawat dan salam). Amirul Mukminin melihat kedatangan mereka menggerak-gerakkan anggota badannya dan tersenyum, dan para nabi mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata: “Salam atasmu wahai wali Allah dan Khalifah Rasulullah.”Beliau menjawab salam mereka: “ Salam Atas kalian dan rahmat Allah dan Berkahnya semoga tercurah kepada kalian”. Kemudian satu persatu dari mereka mengendong dan mencium beliau dan mengucapkan pujian-pujian atasnya dan kemudian pergi. Kemudian para malaikat berdatangan dan membawa beliau ke atas langit, dan kemudian dikembalikan lagi ketempatnya, dan sesekali mengungkapkan keutamaan-keutamaan beliau.Fathimah binti Asad berkata: Untuk kedua kalinya Ali dibawa oleh malaikat ke langit dan kemudian dikembalikan namun kali ini beliau sudah terbungkus dengan kain sutra putih yang diambil dari surga, dan mereka berkata kepadaku: “Jagalah ia dari penglihatan orang-orang karena dia adalah wali Allah swt. Ketahuilah seseorang tidak akan masuk surga kecuali ia menerima, mengakui dan membenarkan wilayah, imamah dan kepemimpinannya. Beruntunglah bagi orang yang mengikutinya dan celakalah bagi orang yang berpaling darinya. Siapa saja yang bergabung dengannya dia akan selamat dan barang siapa yang diam dan tidak bergabung dengannya maka ia akan jatuh tenggelam”. Kemudian mereka membisikkan sesuatu ditelinganya yang aku sendiri tidak memahaminya. Kemudian mereka menciumnya dan berdiri kemudian pergi, aku tidak tahu dari mana mereka keluar. 

Tiga Hari di Ka’bah 

Fathimah binti Asad setelah tiga hari menjadi tamu Allah, bersiap-siap untuk keluar dari dalam Ka’bah sambil menggendong anaknya yang baru lahir itu, tiba-tiba terdengar suara ghaib seraya berkata: “Wahai Fathimah, berilah nama bayi yang baru lahir ini dengan nama Ali, karena aku adalah Tuhan yang yang maha tinggi(aliul a’la), aku memberinya nama yang kuambil dari namaku, dan aku mengajarkannya adab, dan padanya aku serahkan perkaraku, dan aku beri tahukan kepadanya kesukaran dan kerumitan ilmuku, dia lahir di rumahku, dialah orang pertama yang mengumandangkan azan disebagian belahan rumahku, dan menghancurkan berhala-berhala, dan dialah yang menjatuhkan mereka dari atas Ka’bah ke tanah. Beruntunglah bagi orang-orang yang mencintainya, mentaatinya dan menjadi penolongnya. Dan celakalah bagi orang-orang yang membencinya dan berpaling darinya, dan mengucilkannya serta mengingkari hak dan tanggungjawabnya”.Dalam tiga hari ini semua orang membicarakan tentang bayi yang lahir di dalam Ka’bah, apalagi tentang tidak dapat terbukanya kunci yang dipasang di pintu Ka’bah, dan terbelahnya sebagian tembok Ka’bah di siang hari dan disaksikan oleh orang-orang kafir. 

Cahaya Ali Terbit dipelukan Rasulullah saww  

Suatu pagi hari rabu di hadapan khalayak yang menunggu sambil duduk, tiba-tiba tembok Ka’bah terbelah kembali dari tembok sebelumnya dengan kadar yang mencukupkan Fathimah dan anaknya bisa keluar dari dalam Ka’bah. Dan seluruh masyarakat memandangnya dan sebelum ada seorangpun yang bertanya kepadanya, Fathimah binti Asad mengungkapkan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya, mulai dari keangungan bayi yang dilahirkannya, tentang makanan surga yang dihidangkan padanya dan nama bayi yang dilahirkannya adalah Ali itupun dikarenakan panggilan dari langit.Abu Thalib dan Rasululluh mendatangi Fathimah binti Asad yang sedang menggendong bayinya, Ali as berkata: Salam atasmu wahai ayahku, semoga rahmat dan berkahnya tercurah kepadamu, Abu Thalib menjawab: “Salam atasmu wahai anakku, semoga rahmat dan berkahnya tercurah padamu, dan kemudian mengendongnya. Amirul Mukminin as membuka kedua mata sucinya dan memandang wajah suci rasulullah saw kemudian tersenyum dan mengerak-gerakkan anggota badannya, seraya berkata: “Salam atasmu, semoga rahmat Allah dan berkahnya tercurah padamu, gendonglah aku”Rasulullah saww setelah menjawab salamnya langsung mengambil dan mengendongnya, dan diletakkan ditangannya. Ketika itu Amirul Mukminin meletakkan tangan kanannya ke telinganya dan mengumandangkan azan dan iqamah, dan bersaksi akan keesaan Tuhan dan kenabian  nabi Muhammad saww. Kemudian meminta izin kepada Rasul untuk membacakan kitab-kitab samawi, setelah diizinkan beliau meratakan dadanya dan membaca sesuatu yang tercantum di dalam suhuf Adam, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa. Kemudian membaca salah satu ayat dari Alquran yaitu surah almukminun “qod aflahal mukminun…” yang ketika itu belum diturunkan. Kemudian dalam pelukan Rasulullah beliau dibawa ke rumah Abu Thalib as.Fathimah binti Asad berkata: Hari ketika aku keluar dari Ka’bah, dan anakku aku berikan kepada Rasululullah, beliau membuka mulut Ali as dengan lidahnya dan memberikan air ludah suci beliau dan mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqamah ditelinga kirinya kemudian beliau bersabda: “Bayi ini lahir dengan fitrahnya”. ImageKemudian Abu Thalib mengadakan walimah atau selamatan besar-besaran, atas kelahiran anaknya Ali bin Abi Thalib, dan mengundang seluruh warga untuk bertawaf tujuh kali dan kemudian memberikan salam kepada Ali as. 

(dinukil dari Taqweeme syieh) 

 
Leave a comment

Posted by on 22/05/2012 in Uncategorized

 

Nabi SAWW Menangisi Imam Ali AS


Hijrah ke Madinah

Tepat pada saat orang-orang kafir Qureiys selesai mempersiapkan komplotan terror untuk membunuh Rasul Allah SAWW Madinah telah siap menerima kedatangan beliau. Nabi Muhammad SAWW meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah kegelapan malam. Beliau bersama Abu Bakar meninggalkan kampung halaman, keluarga tercinta dan sanak famili. Beliau berhijrah, seperti dahulu pernah juga dilakukan Nabi Ibrahim AS. dan Musa AS.

Di antara orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad s.a.w. termasuk puteri kesayangan beliau, Syd.Fatimah (AS) dan putera paman beliau yang diasuh dengan kasih sayang sejak kecil, yaitu Imam Ali (AS) yang selama ini menjadi yg paling terpercaya bg beliau SAWW.

Imam Ali (AS) sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan tugas khusus:

berbaring di tempat tidur beliau, guna mengelabui mata komplotan Qureiys yang siap hendak membunuh beliau. Sebelum Imam Ali (AS) melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi Muhammad SAWW agar barang-barang amanat yang ada pada beliau dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga Rasul Allah SAWW untuk segera menyusul berhijrah.

Malam ketika Ali AS tidur menggantikan Nabi SAWW adalah malam yang diabadika Al Qur’an ,dimana Allah SWT membanggakan pengorbanan Ali (AS) kepada para malaikatNYA, bahkan Jibril dan Mikali turun menjaga Imam Ali (AS) serta mengucap selamat bagi beliau (AS)

setelah menunaikan semua amanat Nabi SAWW Imam Ali AS membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan berangkat hijrah bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Rasul Allah SAWW terdiri dari keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Imam Ali AS. Di dalam rombongan ini termasuk Sitti Fatimah (AS) Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Imam Ali AS.), Fatimah binti Zubair bin Abdul Mutthalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutthalib. Aiman dan Abu Waqid Al Laitsiy, ikut bergabung dalam rombongan.

Rombongan Hijrah ini berangkat dalam keadaan terburu-buru tanpa persiapan yang memadai , dan Perjalanan ini tidak dilakukan secara diam-diam.

Dalam perjalanan Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang dikendarai para wanita, agar jangan terkejar oleh orang-orang kafir Qureiys. Mengetahui hal itu, Imam Ali (AS). segera memperingatkan Abu Waqid, supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua penumpangnya wanita. Rombongan berjalan melewati padang pasir di bawah sengatan terik matahari.

Imam Ali (AS), sebagai pemimpin rombongan, berangkat dengan semangat yang tinggi. Beliau siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal dilakukan orang-orang kafir Qureiys terhadap rombongan. Ia bertekad hendak mematahkan moril dan kecongkakan mereka. Untuk itu Imam Ali (AS) SANGAT SIAP Melakukan perlawanan tiap saat.

Mendengar rombongan Imam Ali AS berangkat, orang-orang Qureiys sangat penasaran. Lebih-lebih karena rombongan Imam Ali AS BERANI meninggalkan Makkah secara TERANG-TERANGAN di siang hari. Orang-orang Qureiys menganggap bahwa keberanian Imam Ali AS yang semacam itu sebagai tantangan terhadap mereka.

Orang-orang Qureiys cepat-cepat mengirim delapan orang anggota pasukan berkuda untuk mengejar Imam Ali AS dan rombongan. Pasukan itu ditugaskan menangkapnya hidup-hidup atau mati.

Delapan orang Qureiys itu, di sebuah tempat bernama Dhajnan berhasil mendekati rombongan Imam Ali AS.

Setelah Imam Ali AS mengetahui datangnya pasukan berkuda Qureiys, ia segera memerintahkan dua orang lelaki anggota rombongan agar menjauhkan unta dan menambatnya. Ia sendiri kemudian menghampiri para wanita guna membantu menurunkan mereka dari punggung unta.

Seterusnya ia MAJU seorang diri menghadapi gerombolan Qureisy dengan pedang terhunus. Rupanya Imam Ali AS hendak berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Ia tahu benar bagaimana cara menundukkan mereka.

Melihat Imam Ali AS mendekati mereka, gerombolan Qureiys itu berteriak-teriak menusuk perasaan:

“Hai penipu, apakah kaukira akan dapat menyelamatkan perempuan-perempuan itu? Ayo, kembali! Engkau sudah tidak berayah lagi.”

Imam Ali AS dengan tenang menanggapi teriakan-teriakan gerombolan Qureiys itu. Ia bertanya:

“Kalau aku tidak mau berbuat itu…?”

“Mau tidak mau engkau harus kembali,” sahut gerombolan Qureiys dengan cepat.

Mereka lalu berusaha mendekati unta dan rombongan wanita. Imam Ali AS menghalangi usaha mereka.

Jenah, seorang hamba sahaya milik Harb bin Umayyah, mencoba hendak memukul Imam Ali AS dari atas kuda. Akan tetapi belum sempat ayunan pedangnya sampai, hantaman pedang Imam Ali AS telah mendahului tiba di atas bahunya. Tubuhnya TERBELAH menjadi dua, sehingga pedang Imam Ali AS sampai menancap pada punggung kuda.

Serangan-balas secepat kilat itu sangat menggetarkan teman-teman Jenah. Sambil menggeretakkan gigi, Imam Ali AS berkata:

“Lepaskan orang-orang yang hendak berangkat berjuang! Aku tidak akan kembali dan aku tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Kuasa!”

Gerombolan Qureiys mundur. Mereka meminta kepada Imam Ali AS untuk menyarungkan kembali pedangnya. Imam Ali AS dengan tegas menjawab:

“AKU HENDAK BERANGKAT MENYUSUL SAUDARAKU..PUTRA PAMANKU ,RASULULLAH..SIAPA YANG INGIN KUROBEK DAGINGNYA DAN KUTUMPAHKAN DARAHNYA COBALAH ..MAJU DAN DEKATI AKU “

Tanpa memberi jawaban lagi gerombolan Qureiys itu segera meninggalkan tempat. Kejadian ini mencerminkan watak konfrontasi bersenjata yang bakal datang antara kaum muslimin melawan agresi kafir Qureiys.

Di Dhajnan, rombongan Imam Ali AS beristirahat semalam. Ketika itu tiba pula Ummu Aiman (ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Imam Ali AS Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah.

Keesokan harinya rombongan Imam Ali AS beserta rombongan Ummu Aiman melanjutkan perjalanan. Imam Ali AS sudah rindu sekali ingin segera bertemu dengan Rasul Allah SAWW.

Waktu itu Rasul Allah SAWW bersama Abu Bakar sudah tiba dekat kota Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menantikan kedatangan rombongan Imam Ali AS Kepada Abu Bakar , Rasul Allah SAWW memberitahu, bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan puterinya sendiri datang.

Selama dalam perjalanan itu Imam Ali AS. tidak berkendaraan sama sekali.

Ia berjalan dengan KAKI TELANJANG menempuh jarak Ratusan km sehingga kakinya PECAH PECAH dan MEMBENGKAK.

Akhirnya tibalah semua anggota rombongan dengan selamat di Quba. Betapa gembiranya Rasul Allah SAWW menyambut kedatangan orang-orang yang disayanginya itu….

Namun..Ketika Nabi Muhammad SAWW melihat Imam Ali AS. tidak sanggup berjalan lagi karena kakinya membengkak…pecah berurai Airmata Nabi SAWW…

Beliau merangkul dan memeluknya seraya menangis karena sangat terharu…

Beliau kemudian meludah di atas telapak tangan, lalu diusapkan pada kaki Imam Ali AS ..

Konon sejak saat itu sampai wafatnya, Imam Ali AS tidak pernah mengeluh karena sakit kaki.

Peristiwa yang sangat mengharukan itu berkesan sekali dalam hati Rasul Allah SAWW dan tak terlupakan selama-lamanya.

Berhubung dengan peristiwa hijrah Imam Ali dan pengorbanan beliau (AS), turunlah wahyu Ilahi yang memberi penilaian tinggi kepada kaum Muhajirin, seperti terdapat dalam Surah Ali ‘Imran:195.

ISLAM ITU CINTA,TUNDUK TANPA “TAPI”…

==========================

Kita diperintah untuk mengenal Allah SWT dalam menyembahNYA,mencintaiNYA,

maka adalah hal yg Mutlaq harus ada bagi setiap muslim dalam beribadah adalah selalu berusaha mengenal Rasulullah SAWW,mengenal kebesaran beliau SAAW,mencintai beliau SAWW,sebagaimana FirmanNYA :

“Katakanlah (wahai Muhammad)..Jika kalian mencintai Allah,maka CINTAI lah aku niscaya Allah menCINTAI kalian “

{QS.Ali Imran (3):31}

FirmanNYA :

“Katakanlah sesungguhnya aku tidak meminta sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluarga (al-Qurba) (ku)” ..Dan sesiapa yang mengerjakan kebaikan (al-Hasanat) akan kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”

{al-Syu‘ara‘ 42:23 }

Nabi Muhammad SAWW bersabda bahwa:

“Tidaklah BERIMAN seorang hamba hingga aku lebih dicintainya dibanding dirinya,keluargaku lebih dicintainya dibanding keluarganya,dengan begitu mereka lebih mencintai keluargaku dibanding keluarganya dengannya mereka mencintaiku lebih dari diri diri mereka “

(Biharul Anwar,XXVII hal 13 dan Kanzul Ummal hal 93 )

Rasulullah SAWW :

“Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah (berpemimpin) kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan.“

(Shahih Bukhari, jld 5, hl. 65, cetkn. Darul Fikr)

Ali tidak akan dicintai melainkan oleh Mukmin dan tidak akan dimarahi melainkan oleh orang kafir. Beliau adalah rabb-al ardh (tuan bumi) selepasku dan penghuninya.

{Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7.}

(Di dalam naskhah yang lain beliau adalah zarr al-Ardh dan penghuninya).

dia adalah Kalimah Allah al-Taqwa, ‘Urwat Allah al-Wuthqa (ikatan Allah yang kuat).

Firman-Nya dalam Surah al-Taubah (9): 32,

‘‘Adakah kalian hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut kalian dan sesungguhnya Allah adalah penyempurna cahaya-Nya, sekalipun dibenci oleh Musyrikun”

Nabi SAWW bersabda :

Dan musuh-musuh Allah hendak memadamkan cahaya saudaraku Ali. Tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya.”

Wahai manusia! Hendaklah orang yang datang menyampaikan sabdaku ini kepada orang yang tidak datang (ghaiba-kum). Wahai Tuhanku persaksikanlah! Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah merenung kali ketiga, maka Dia memilih daripada mereka selepasku dua belas wasi daripada Ahl Baitku, mereka itu adalah sebaik-baik umatku. Daripada mereka sebelas imam selepas saudaraku (akhi) seorang demi seorang.

{Al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, hlm. 479.}

ABU DZAR AL GHIFFARI ra

================

Majlis bai’ah Abubakar Abu Dzar lantang berseru menyampaikan yang HAQ..dia berseru kepada seluruh yang hadir :

“Wahai umat yang bingung selepas Nabinya dikhianati..! !

Sesungguhnya Allah berfirman dalam Surah Ali al-Imran (3): 33-34

‘‘Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran ke atas sekalian alam. (Mereka itu) satu keturunan, sesetengahnya akan sesetengah yang lain dan Allah Maha Mendengar dan Maha mengetahui” Maka Keluarga Muhammad adalah daripada keturunan Nuh, Ibrahim dan Isma‘il..‘Itrah (keturunan) Nabi Muhammad SAWW adalah Ahl Bait al-Nubuwwah, tempat turunnya perutusan dan tempat berkunjungnya para Malaikat.

Mereka seperti langit yang diangkat, gunung yang tersergam, Ka‘bah yang tersembunyi, mata yang bersih, bintang petunjuk dan pokok yang diberkati yang telah memancarkan cahayanya serta diberkati minyaknya oleh Muhammad, penutup segala nabi dan penghulu anak Adam.

Sementara Ali adalah wasi kepada segala wasi dan IMAM bagi orang yang BERTAQWA. Beliau adalah al-Siddiq al-Akbar, al-Faruq al-A‘zam, wasi Muhammad, pewaris ilmunya dan orang yang paling aula dengan al-Mukminin daripada diri mereka sendiri sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Ahzab (33): 6 ‘‘Nabi adalah aula (dekat) dengan Mukminin daripada diri mereka sendiri, manakala isteri-isterinya adalah ibu mereka dan kerabat pertalian darah sebahagian mereka lebih aula daripada yang lain di dalam Kitab Allah”.

Lantaran itu dahulukanlah mereka yang telah didahulukan oleh Allah dan kemudiankanlah mereka yang telah dikemudiankan oleh Allah. Jadikanlah wilayah, dan wirathah bagi orang yang dipilih oleh Allah SWT.

{Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm.162-3.Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah, hlm. 124-5.}

 
Leave a comment

Posted by on 21/05/2012 in Uncategorized

 

Tags:

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.